15 Desember 2014: Tawanan Iblis Atau Tawanan Roh Allah

Iblis sangat mengingini agar orang percaya tidak menggunakan kehendak bebasnya, sehingga tanpa disadari ia tergiring kepada kehidupan yang menyerah kepada keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Iblis menghendaki agar manusia hidup dalam penguasaannya. Penguasaannya di sini maksudnya adalah: suatu pemilikan dari roh-roh jahat atas diri seseorang yang dikuasainya, meskipun pada tingkat yang sangat kecil. Dari penguasaan pada tingkat kecil akhirnya akan menjadi penguasaan seluruh kehidupan; seperti sarang laba-laba. Dalam tingkat tertentu apabila seseorang dalam pemilikan kuasa kegelapan ia dapat kehilangan kebebasannya sama sekali, sehingga menjadi tawanan kuasa kegelapan. Firman Tuhan menasihatkan agar orang percaya membuang segala sesuatu yang jahat dan tidak kudus (1Ptr. 2:1). Dalam hal ini yang harus membuang segala sesuatu yang jahat adalah diri orang percaya itu sendiri dengan sengaja dan sadar. Hal ini sebenarnya sama dengan yang dikatakan Paulus sebagai “menanggalkan manusia lama dan nafsu yang menyesatkan” (Ef. 4:22). Yang harus menanggalkan manusia lama dan nafsunya adalah diri orang percaya itu sendiri. Selanjutnya orang percaya tidak boleh memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). Kata “ kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon (τόπον). Kata topon dapat diterjemahkan tempat (Ing. place). Kata ini juga bisa diterjemahkan sebagai “tempat berpijak” (Ing. a foothold). Tempat berpijak di sini memiliki pengertian yang sama dengan pangkalan atau landasan. Keinginan daging yang dilestarikan dan penyesatan kebenaran merupakan landasan Iblis mencengkeram hidup seseorang dan mengambil alih seluruh kebebasannya. Orang yang memberi pangkalan bagi Iblis akan menghasilkan buah-buah daging. Sampai pada level ini seseorang menjadi tawanan Iblis. Dalam kenyataannya banyak orang Kristen yang menjadi tawanan tetapi mereka tidak menyadari keadaan mereka tersebut. Menjadi tawanan Iblis bukan berarti hidupnya dalam kebejatan moral, tetapi ketika seseorang tidak hidup sesuai keinginan Tuhan. Dalam proses pendewasaan, Tuhan melalui Roh Kudus menuntun orang percaya agar menguasai seluruh wilayah hidup untuk dipersembahkan bagi Tuhan. Menguasai seluruh wilayah hidup maksudnya adalah orang percaya mampu mengontrol tubuh, jiwa dan roh dengan seksama. Inilah yang menjadi kehendak Allah agar orang percaya mampu mengontrol kehendak diri yaitu seluruh tubuh, jiwa dan rohnya dengan baik. Orang percaya mengendalikan dan mengontrol dirinya dengan seksama untuk hidup seturut kehendak Allah. Penguasaan diri untuk hidup seturut Firman Tuhan atau hidup dalam ketaatan dalam tingkat tertentu, membuat seseorang dapat menjadi seorang yang berstatus sebagai tawanan Roh. Hal ini terjadi atas kehendaknya sendiri dengan rela, bukan atas dasar kedaulatan Allah yang menguasai diri seseorang sehingga menghilangkan kehendak bebasnya. Pembiasaan menuruti kehendak Tuhan ini akan membuat irama penurutan tersebut menjadi permanen dalam kehidupan seorang anak Tuhan (Kis. 20:22). Aspek lain, pembiasaan diri menuruti kehendak Allah melalui penyangkalan diri terus menerus juga akan membuahkan buah-buah roh. Firman Tuhan tegas sekali mengatakan bahwa kalau seseorang memberi diri dipimpin oleh Roh Allah akan menghasilkan buah-buah roh (Gal. 5:21- 22). Pada level ini seseorang dapat semakin menjadi tawanan Roh sehingga Iblis tidak akan dapat menguasainya sama sekali. Demikianlah pada dasarnya manusia diperhadapkan kepada pilihan, apakah menjadi tawanan Iblis atau tawanan Roh Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.