15. Basis Pola Berpikir

KETIKA SESEORANG MENGAMBIL keputusan untuk memilih Kerajaan Tuhan sebagai tujuan akhir dan kegiatan utamanya adalah mendahulukan kerajaan Allah, maka sebenarnya ia sedang mengembangkan logika rohaninya dan Tuhan akan menanamkan kerinduan terhadap Kerajaan-Nya. Logika di sini maksudnya pola dan landasan berpikirnya. Rohani maksudnya sesuatu yang memiliki nilai lebih dari kefanaan dunia ini. Jadi logika rohani artinya pola pikir yang berbasis atau berlandaskan pada dunia yang akan datang. Logika rohani ini dikemukakan Paulus dalam suratnya yang tertulis: Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.1 Kata memperhatikan dalam teks aslinya adalah skopounton dari akar kata skopeo yang artinya take heed (memperhatikan secara serius); consider (memikirkan dengan hati-hati dan respek); to take aim at (mengambil arah atau tujuan). Mengapa Paulus menulis: “Kami memberi perhatian serius dan mengarahkan tujuan kepada apa yang tidak kelihatan (unseen)”? Sebab yang kelihatan bersifat sementara tetapi yang tidak kelihatan bersifat kekal.Adalah bodoh kalau seseorang tidak memperhatikan dan menghargai (consider) yang bernilai kekal. Dalam Injil Matius, Tuhan Yesus berkata: di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.2

Basis pola pikiran manusia hari ini pada umumnya bukan Kerajaan Tuhan, tetapi dunia. Inilah orang-orang yang telah termakan bujukan kuasa dunia, seperti yang dibujukkan kepada Tuhan Yesus.3 Ciri dari orang yang terkena bujukan Iblis ini adalah mengutamakan dan menghargai segala sesuatu yang ada dalam hidup hari ini lebih dari Tuhan. Itulah logika duniawi. Pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini, yang kelihatan (Yun. blepomena; Ing. which are seen). Ini bernilai sementara (Yun. proskaira; Ing. temporal, for a season, for the occasion only; hanya semusim atau sesaat). Amsal mengajar kita untuk belajar dari semut: “semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas”.4 Musim panas akan diganti musim hujan dimana semut tidak dapt bekerja. Nasihat ini sinkron dengan nasihat Tuhan Yesus di Lukas 16:9 “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Kita harus rela meninggalkan pola pikir yang salah, pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini. Kita harus memikirkan hal ini dengan serius dan memahaminya dengan lengkap, agar kita memiliki basis berpikir yang mengarah pada Kerajaan Allah. Ini adalah keberadaan yang dahsyat. Menghayati hal ini kita akan merasakan sukacita yang tidak terkira, tak terucapkan. Sebagai orang-orang pilihan Tuhan, hendaknya kita melangkah dengan langkah pasti untuk mensinkronkan status dan keberadaan dahsyat kita dengan perilaku setiap hari. Ironisnya, banyak orang Kristen yang belum siap menjadi seperti Abraham yang meninggalkan Ur-kasdim tanpa mengerti tujuan perjalanan tersebut. Seperti orang Israel yang enggan meninggalkan Mesir untuk menerima tanah perjanjian yang telah dijanjikan oleh Allah kepada nenek moyang mereka. Apa yang Tuhan janjikan pasti berkat yang luar biasa, dahsyat.

Karenanya kita tidak perlu takut dan khawatir terhadap hari esok. Baik hari esok selama kita hidup di dunia ini maupun hari esok di kekekalan. Orang percaya memang dirancang untuk mewarisi kerajaan-Nya. Seperti yang telah dikemukakan bahwa mulai sekarang sudah nampak apakah seseorang menjuruskan dirinya menjadi sekutu Tuhan atau seteru Tuhan. Dari pihak manusia, hal itu tergantung pada keputusan dan pilihannya. Menjadi pergumulan berat adalah bagaimana memindahkan perhatian dan pikiran kita dari dunia ini ke kerajaan-Nya. Hanya kebenaran Tuhanlah yang dapat memerdekakan.5 Kemerdekaan inilah yang membuat seseorang hatinya tertaruh dalam kerajaan Bapa. Ingat, “dimana ada hartamu disitu hatimu berada”.6

1) 2Korintus 4:18 ; 2) Matius 6:19 ; 3) Lukas 4:6-7 ; 4) Amsal 30:25 ; 5) Yohanes 8:31-32 6) Matius 6:21

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.