14. TIDAK ADA KEMULIAAN TANPA PENDERITAAN

Seseorang tidak akan menjadi orang percaya yang memiliki ketahanan, konsistensi, keteguhan, dan kesabaran tanpa mengalami penderitaan. Dengan demikian, penderitaan harus diterima sebagai kasih karunia pula, sebab tidak semua orang diperkenankan mengalami hal ini. Hanya mereka yang dipilih untuk menjadi orang-orang yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus yang diberi kesempatan menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Penderitaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah penderitaan yang dialami seseorang oleh karena pekerjaan Tuhan, seperti yang dialami oleh Paulus dan jemaat Kristen pada waktu itu; demi pemberitaan Injil mereka harus menderita. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa penderitaan menjadi kemegahan artinya sukacita atau dihargai serta menjadi kebanggaan. Penderitaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah satu kemutlakan, sebab tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan (Rm. 8:17-18). Orang yang menolak menderita berarti juga menolak kasih karunia.

Penderitaan karena atau bersama dengan Kristus adalah sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang dapat membuat orang percaya merasa malu atau terhina. Malah sebaliknya, di dalam penderitaan demi pekerjaan-Nya, orang percaya dapat merasa bangga mengalami penderitaan tersebut. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus mengatakan: Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Flp. 1:29). Dalam hal ini Paulus menunjukkan bahwa penderitaan juga adalah karunia. Jadi percaya dan menderita bagi Tuhan adalah dua hal yang tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan. Tidak ada orang Kristen yang memiliki percaya yang benar tanpa mengalami penderitaan. Justru percaya yang benar ditandai dengan penderitaan yang pasti juga menyertainya. Di dalam percaya tersebut seseorang harus mengikut jejak Tuhan Yesus. Dengan mengikut jejak Tuhan Yesus, maka tidak bisa tidak seseorang akan ditolak oleh dunia ini. Orang percaya yang konsekuen dan konsisten mengenakan an Yesus di dalam hidupnya, pasti akan mendapat tantangan dari orang-orang yang tidak memahami kehidupan mengiring Yesus.

Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa ketekunan menimbulkan tahan uji. Kata tahan uji dalam teks aslinya adalah dokime (δοκιμή), yang artinya “terbukti atau contoh dari sebuah kelayakan” setelah mengalami atau menerima ujian. Dalam hal ini jelas, Paulus menunjukkan bahwa harus ada pembuktian melalui ujian, yaitu mengalami sengsara. Dari hal tersebut dapat dibuktikan apakah seseorang layak untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus atau tidak. Percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Dia sesungguhnya bukan hanya pernyataan bibir atau hanya ditunjukkan dengan menjadi orang Kristen yang datang ke gereja. Bahkan tidak cukup hanya menjadi aktivis gereja atau menjadi pendeta, tetapi terbukti melalui pergumulan dalam mempertahankan imannya dengan hidup suci dan menderita bagi Tuhan. Hal ini akan ditandai dengan jelas pada orang percaya yang benar, yaitu tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Pengharapannya adalah kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Selanjutnya sengsara atau penderitaan yang dialami orang percaya disebabkan harus “melepaskan segala sesuatu”.

Terkait dengan hal ketekunan dalam penderitaan Tuhan Yesus menyatakan: Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Luk. 22:38-20). Kepada orang percaya yang telah membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus, Tuhan menjanjikan kuasa pemerintahan bersama dengan Diri-Nya di Kerajaan-Nya nanti. Setelah mengatakan ini, Tuhan Yesus mengingatkan Petrus yang harus ditampi oleh Iblis. Ditampi artinya dicobai dengan berbagai goncangan. Hal ini menjadi ujian yang tidak bisa dihindari. Goncangan pertama di halaman Imam Besar, Petrus gagal. Tetapi goncangan di hari tuanya, Petrus berhasil. Menurut tradisi gereja, Petrus mati disalib dengan kepala di bawah. Petrus menyerahkan dirinya tanpa batas bagi Tuhan.

Orang-orang yang akan menduduki kedudukan dalam Kerajaan Tuhan Yesus harus diuji terlebih dahulu. Dalam hal ini kita harus menerima bahwa tidak mudah seseorang menjadi pengikut Tuhan Yesus dan yang dilayakkan bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan Bapa. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus menyatakan, kalau seseorang mau duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan, ia harus minum cawan yang juga diminum oleh Yesus, artinya harus bersedia minum cawan penderitaan. Dan dibaptis dengan baptisan yang sama seperti yang Yesus alami. Baptisan yang kedua adalah kematian-Nya. Hal ini menunjukkan kesediaan melepaskan segala sesuatu demi kemuliaan Bapa di surga.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.