14 September 2014: Menentukan Takdirnya Sendiri

Tidak ada bangsa di dunia yang memiliki sejarah yang lebih hebat dari bangsa Israel. Kehebatan sejarah bangsa tersebut karena memuat rahasia pengenalan akan Allah yang benar. Bagaimana sifat-sifat Allah atau karakter Tuhan yang nampak dari tindakan-tindakan-Nya dapat ditemukan melalui sejarah bangsa Israel. Dari sejarah bangsa Israel kita dapat mengambil hikmat atau pelajaran rohani supaya kita dapat bersikap benar di hadapan Tuhan dan mengerti bagaimana menjalankan hidup kita hari ini agar sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari sejarah panjang bangsa Israel keluar dari Mesir ke Kanaan, kita dapat memperoleh pelajaran bagaimana menghindarkan diri dari kegagalan. Bukan kegagalan bisnis, bukan kegagalan berumah tangga, bukan kegagalan studi dan lain sebagainya tetapi kegagalan diterima di kemah abadi atau di Kerajaan Surga. Ini adalah kegagalan yang paling mengerikan dalam kehidupan ini. Kalau gagal yang lain hanya berdampak sementara tetapi kalau ditolak Tuhan, merupakan kegagalan fatal, abadi dan sangat dahsyat mengerikan. Firman Tuhan ini kiranya dapat menghindarkan kita dari kegagalan tersebut.

Kegagalan sebagian bangsa Israel mencapai tanah Kanaan bukan karena kesalahan Tuhan. Bukan karena sebagian di tentukan Tuhan untuk dapat sampai tanah Kanaan dan yang lain dibiarkan gagal. Tuhan tidak memiliki kejahatan sama sekali, Ia bukan saja tidak mengupayakan kecelakaan bagi umat pilihan-Nya, tetapi Ia juga tidak akan membiarkan mereka celaka. Kalau ternyata pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai tanah Kanaan, hal itu disebabkan keputusan dan pilihan mereka sendiri. Demikian pula dalam kehidupan manusia pada umumnya, apakah seseorang pada akhirnya sampai Kerajaan Bapa atau di langit baru dan bumi yang baru atau tidak, bukanlah ditentukan oleh Tuhan tetapi pilihan dan keputusan manusia itu sendiri. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Ia menginginkan semua orang berbalik dan bertobat, tetapi kalau manusianya menolak bertobat, Tuhan tidak memaksa seseorang untuk berbalik dan bertobat. Hal ini sama dengan bahwa Tuhan tidak menghendaki Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang untuk dimakan tetapi Tuhan tidak memaksa mereka untuk tidak memetiknya. Tuhan juga tidak menghalangi ketika mereka memang berniat dengan kesadaran untuk memetiknya. Jadi, Tuhan tidak menentukan siapa yang akan binasa dan yang selamat. Manusia yang menentukan takdirnya sendiri.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.