14. PERSEMBAHAN TANPA ANCAMAN DAN ALAT MEMANCING

Satu hal yang tidak patut atau tidak benar dilakukan oleh pendeta terkait dengan perpuluhan dan persembahan lain adalah kalau ayat yang memuat kemarahan Tuhan dalam Maleakhi 3:8-11 menjadi dasar atau landasan persembahan perpuluhan. Sekaligus ayat ini menjadi ayat ancaman, yaitu bila jemaat tidak memberi perpuluhan, maka mereka akan dihukum dengan “belalang pelahap”, sehingga Tuhan tidak memberkati nafkah, rezeki atau mata pencaharian mereka.Tantangan untuk memberikan perpuluhan disertai dengan ancaman, yang didasarkan pada pernyataan Maleakhi 3:8-1, dipakai pula oleh banyak pendeta sebagai dalil untuk dapat mencapai kehidupan dalam kelimpahan materi. Mereka mengajarkan bahwa dengan memberi perpuluhan, maka jemaat akan dihindarkan dari berbagai kutuk dan hukuman seperti pencurian, perampokan, penyakit, hama, belalang pelahap dan lain sebagainya. Tidak jarang, seiring dengan pemberitaan Firman semacam itu, disertai ancaman jemaat akan mendapatkan atau mengalami berbagai kutuk atau hukuman jika tidak memberi perpuluhan.

Bagi yang tidak memberi perpuluhan, mereka diberi predikat pencuri, penipu, tidak layak diberkati dan lain sebagainya, tanpa mempertimbangkan kausalitas atau penyebab mengapa mereka tidak memberi perpuluhan. Apakah Tuhan Yesus mengajarkan kita bersikap atau bertindak demikian?Tuhan menghendaki kita memberi persembahan atau mengembalikan milik Tuhan dengan rela dan sukacita. Kalau perpuluhan menjadi “Taurat baru” dengan ancaman-ancaman hukuman bila tidak dilaksanakan, maka ini menciptakan pola memberi persembahan yang terpaksa. Tentu hal ini membangun sikap yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Jika jemaat tidak siap memberikan persembahan perpuluhan dan persembahan lainnya berhubung belum dewasa rohani, gereja tidak boleh memaksa dengan intimidasi-intimidasi. Gereja harus membimbingnya terlebih dahulu atau mendewasakannya, sehingga jemaat tersebut siap memberi. Dalam hal ini gereja harus mengambil hatinya terlebih dahulu, bukan uangnya. Jika seseorang sudah bisa memberikan hatinya bagi Tuhan, berarti ia bisa memberikan segenap hidupnya, maka tidak perlu ada paksaan terhadap jemaat tersebut untuk memberikan persembahan.

Kalau perpuluhan dituntut dengan menjanjikan balasan, maka persembahan perpuluhan dan persembahan yang lain sudah menjadi umpan pancing jemaat guna memancing berkat Tuhan. Melempar cacing untuk memperoleh mujair, melempar mujair untuk memperoleh tongkol besar, melempar tongkol untuk memperoleh ikan paus dan seterusnya. Pola ini menyalahi prinsip bagaimana seseorang harus berdedikasi kepada Tuhan. Sebab hal tersebut akan menciptakan orang Kristen yang oportunis dan manipulatif. Ironisnya, justru hal ini yang sedang dihembuskan kepada jemaat Tuhan di banyak gereja dan Persekutuan Doa.

Hal di atas ini sama dengan ajaran penggandaan berkat yang diajarkan di banyak gereja. Ada pembicarayang mengajarkan kalau jemaat memberi persembahan akan memperoleh berlipat kali ganda, ada yang 30, 60 dan 100 kali lipat. Ini sebuah pandangan yang sangat keliru. Sebenarnya kelipatan di dalam Injil Matius tersebut bukan berbicara mengenai jumlah uang, tetapi Firman Tuhan yang ditabur dan berbuah dalam kehidupan orang percaya (Mat. 13:23). Janji pelipatgandaan berkat jasmani bukan saja melanggar prinsip Firman Tuhan, tetapi juga membangun motivasi memberi persembahan yang salah. Ini sebuah pendidikan yang salah. Kalau orang percaya memberi persembahan, hal itu adalah tindakan mengembalikan atau sebuah penatalayanan (stewardship), bukan “sumbangan”. Jadi sangatlah keliru kalau perpuluhan atau persembahan lain dijadikan sebagai usaha untuk pelipatgandaan atau pemancing berkat Tuhan. Janji-janji pelipatgandaan yang selama ini ditawarkan sebenarnya hanya “taktik” dalam gereja dimana jemaat didorong untuk memberi persembahan, demi supaya gereja memiliki dana dalam jumlah yang besar untuk kegiatannya atau bisa untuk keuntungan “pribadi” tertentu. Maksudnya bisa baik, tetapi caranya salah dan mendatangkan kerugian besar. Janji pelipatgandaan persembahan bagi Tuhan telah memperdaya banyak orang Kristen.

Harus diakui bahwa hal perpuluhan tidak disentuh secara jelas dalam tulisan-tulisan Paulus. Tetapi sering tulisan Paulus dalam 2 Korintus 9:6-7 dipakai untuk membela praktik perpuluhan. Untuk ini patut kita memperhatikan kalimat ayat-ayat ini: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Kalau diperhatikan pada ayat ke-6, terdapat kata “sedikit dan banyak”, ini jelas berarti bukan jumlah yang pasti. Ayat ini tidak berbicara mengenai perpuluhan, sebab perpuluhan jumlahnya sudah pasti atau paling tidak sudah tertentu, yaitu sepuluh persen dari penghasilan. Di ayat 7 berbicara mengenai kerelaan, ini bukan berbicara mengenai jumlah tertentu, tetapi kerelaan hati. Jadi ayat tersebut tidak bermaksud mengajarkan kalau memberi banyak akan memperoleh banyak atau sebaliknya. Persembahan ini ditujukan untuk pelayanan. Taburan persembahan uang akan menghasilkan tuaian pekerjaan Tuhan, bukan jumlah uang atau berkat jasmani yang dikembalikan Tuhan dengan berlipat ganda kepada si pemberi. Tentu saja orang yang mempersembahkan persembahan uang dengan benar, pasti diberkati oleh Tuhan.

Dalam lingkungan anak-anak Tuhan, pengertian persembahan harus dipahami dengan tepat. Persembahan bukanlah memberi, tetapi mengembalikan. Kebenaran ini dapat kita peroleh melalui pernyataan Paulus dalam 1Korintus 6:19-20, bahwa kita bukan milik kita sendiri. Kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar, yaitu dengan darah-Nya. Kita tidak berhak atas diri kita. Apapun yang kita miliki adalah milik Tuhan. Gereja harus mengajar jemaat bukan memberi bagi Tuhan, tetapi mengembalikan milik Tuhan. Persembahan uang juga bisa merupakan usaha membalas kebaikan Tuhan. Sama seperti kita membalas kebaikan orang tua. Kalau kita memberi sesuatu kepada orang tua, bukan supaya dapat memperoleh lebih banyak berlipat ganda, juga bukan sekadar memberi sesuatu karena perasaan tidak enak, tetapi karena mengasihi orang tua dan membalas jasa mereka yang tidak akan pernah dapat terbalaskan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.