14. PENGHAKIMAN UNTUK POSISI

Melihat sedemikian banyak kata yang menunjuk kepada istilah “dosa”, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, maka tidak mudah kita memformulasikan pengertian “dosa” secara singkat yang sudah mencakup seluruh pengertian yang terkandung didalam istilah “dosa” ini. Namun demikian, seperti yang disinggung diatas bahwa pengertian etimologi kata “dosa” membantu kita menemukan nafas pengertian dosa atau menolong kita memahami pengertian “dosa” itu sendiri, sehingga pemahaman kita mengenai “dosa” menjadi tepat. Kalau pemahaman seseorang mengenai dosa tidak benar dari berbagai perspektif, maka pengertian mengenai penghakiman juga pasti salah.

Bagi umat Perjanjian Baru, kata “dosa” yang paling sering atau paling banyak digunakan adalah “hamartia” (296 kali). Kata ini berarti suatu “keluncasan” atau “meleset”. Dalam teks aslinya digunakan kata hamartia. Kata hamartia ini sebenarnya dari pengertian katanya sendiri berarti luncas, tidak kena sasaran, atau meleset. Sebenarnya kata itu sendiri secara etimologi tidak mengandung makna “kejahatan”. Ibarat suatu target memanah atau menembak, bila tembakan tidak tepat mengenai pusat pusaran target, berarti meleset. Inilah hamartia itu. Ketidaktepatan berarti semua tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, walaupun mungkin tidak bertentangan dengan moral umum.

Seperti yang disinggung diatas, terdapat banyak kata untuk “dosa” dalam Perjanjian Baru. Istilah yang perlu diamati berkenaan dengan tema kita adalah “parabasis” yang berarti melangkah ke samping. Ini sama artinya dengan menyimpang dari jalan yang benar, biasanya istilah ini diterjemahkan dengan kata “pelanggaran” (Rm. 2:23, 4:15; Gal. 3:19). Kata yang agak berhubungan dengan gagasan ini adalah kata anomia. Kata ini berarti tidak berhukum. Berkenaan dengan hal ini, harus diingatkan bahwa ada moral yang diperuntukkan bagi warga Kerajaan Surga. Moral itu bertolak dari patokan yang tidak dapat dikurangi yaitu “seperti Bapa” (Mat. 5:48). Kurang dari standar ini berarti anomia, sebab Tuhan adalah hukumnya.Kalau orang Yahudi menyatakan bahwa Taurat adalah hukumnya, tetapi orang percaya hukumnya adalah Tuhan (The Lord is my law). Dalam hal ini bisa dipahami kalau Firman Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus.

Setiap orang Kristen dituntut memiliki standar kesucian seperti Bapa atau sempurna. Jadi bila kehidupan kita belum seperti Yesus atau belum seperti yang Bapa kehendaki, itu berarti belum sesuai dengan kehendak-Nya. Selama masih belum seperti Bapa, maka itu berati masih “luncas” (Yun. hamartia). Dalam hal ini, pengertian luncas atau hamartia bukanlah sebuah dosa yang “fatalistik”. Kemudian yang menjadi persoalan adalah bagaimana orang yang masih berdosa atau “luncas” bisa selamat? Persoalan ini dapat dijawab dengan menghubungkan status kita di hadapan Allah, bahwa kita adalah orang-orang yang dibenarkan (Lat. justificatio) dan disucikan (Lat. sanctificatio), sekalipun kita adalah orang berdosa dan masih luncas. Itulah sebabnya ada istilah dalam Bahasa Latin yang berbunyi simul peccator et justus (orang berdosa sekaligus dibenarkan). Di hadapan Allah, kita sebagai manusia yang berdosa adalah anak-anak-Nya yang terus dimuridkan untuk menjadi seperti Yesus.

Penjelasan mengenai dosa di atas ini hendaknya tidak membuat seseorang meremehkan dosa dan menjadi sembrono. Harus diperhatikan bahwa setiap pelanggaran bermuatan “disiplin”, tetapi setiap “kebajikan” memuat upah abadi. Itulah sebabnya kelak di hadapan takhta Allah setiap orang akan memeroleh apa yang patut diterimanya (2Kor. 5:9-10). Untuk ini Paulus berkata: Aku berusaha untuk berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9). Sekilas penjelasan ini membuat kesan seolah-olah meremehkan pengertian dosa, sebenarnya tidak. Dosa dunia memang telah ditanggulangi oleh Tuhan Yesus Kristus. Semua orang yang “menerima-Nya” dimerdekakan dari kutuk dosa, artinya kemerdekaan dari akibat dosa Adam. Bagi mereka yang menerima penebusan oleh darah Tuhan Yesus, yang dibebaskan dari kutuk dosa justru mendapat tuntutan yang sangat berat. Orang percaya dituntut untuk hidup tidak bercacat cela (1Tes. 4:7);kudus seperti Bapa (1Ptr. 1:13-17).

Pengertian “dosa” menurut umat Perjanjian Baru ini penting sekali bagi etika Kristen, sebab inilah yang menjadi dasar pandangan etis kita terhadap setiap kasus dan motivasi kehidupan: bahwa Allah memanggil orang percaya bukan saja sekadar menjadi orang baik, tetapi untuk menjadi sempurna. Ukuran kesucian kita adalah Allah sendiri. Dalam Yesus Kristus, bagi yang benar-benar telah lahir baru dan mengerjakan keselamatannya, pasti selamat. Bukan hanya diperkenan masuk dunia yang akan datang, tetapi juga memerintah bersama-sama dengan Yesus. Ini berarti mereka tidak lagi dihakimi untuk menentukan selamat atau tidak selamat. Penghakiman yang ada adalah penghakiman untuk memperoleh posisi dalam Kerajaan Bapa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.