14. PENGESAHAN DARI TUHAN

Dalam suratnya, Paulus menyatakan bahwa ia mengatakan kebenaran dalam Kristus (Rm. 9:1-3). Dalam Kristus di sini berarti Ia memanggil Tuhan Yesus sebagai saksi keadaan diri dan hidupnya. Dari kalimat “kebenaran dalam Kristus” berarti Paulus menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Kebenaran dalam Kristus juga berarti bahwa kebenaran hidup yang dikenakan sesuai dengan standar kebenaran dan kesucian Tuhan Yesus sendiri. Inilah standar hidup yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Dalam pernyataan tersebut Paulus hendak mengemukakan bahwa kualitas batiniah kita harus seperti kualitas batiniah Tuhan Yesus sendiri. Jadi bisa dimengerti kalau Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Tuhan Yesus.

Dengan hal tersebut di atas, maka seharusnya tidak boleh ada tindakan yang dilakukan di luar kehendak Tuhan Yesus. Dalam hal ini Paulus mengajarkan kebenaran kepada kita, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus dalam pengesahan Tuhan. Pengesahan Tuhan artinya bahwa yang kita lakukan di dalam perhatian Tuhan dan telah diperkenan-Nya. Secara tidak langsung, dalam hal ini diajarkan kepada kita bahwa kita harus memperlakukan Tuhan sebagai Pribadi yang hidup dan berdaulat di dalam kehidupan ini. Kebenaran ini bertalian dengan apa yang ditulis Paulus dalam 1 Korintus 10:31 Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Selanjutnya Paulus menyatakan: bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati (Rm. 9:2). Paulus tidak mempermainkan perasaannya dan tidak bermaksud menipu orang lain dengan tulisannya tersebut. Kata berdukacita dalam teks aslinya adalah lupe (λύπη), yang artinya kesedihan, penderitaan, kesakitan (grief, sorrow, pain, affliction); yang pada intinya adalah kepedihan hati yang sangat mendalam. Hal ini lebih menunjuk kepada perasaan sakit di dalam batin atau hatinya. Sedangkan kalimat berikutnya “selalu bersedih hati”. Kata “selalu” dalam teks aslinya adalah adialeiptos (ἀδιάλειπτος), yang artinya tidak pernah berhenti atau terus menerus (unceasing, constant). Sedangkan kata “bersedih hati” dalam teks aslinya adalah odune (ὀδύνη), menunjuk kepada kesedihan atau duka yang terus menerus di dalam hati; yang dalam hal ini hati Paulusterhadap keadaan bangsanya yang menuju kebinasaan.

Perasaan yang dikemukakan oleh Paulus ini menunjuk adanya beban yang tulus terhadap jiwa-jiwa yang menuju kegelapan. Beban seperti ini ada di dalamDiri Tuhan Yesus, yang melalui persekutuan yang benar dengan Dia, Paulus menerima impartasi beban tersebut. Demi keselamatan umat manusia, Tuhan Yesus rela memikul semua penderitaan di atas pundak-Nya. Tuhan Yesus rela terpisah dari Bapa sementara waktu demi menggantikan tempat kita. Oleh karenanya Ia berseru: Eloi Eloi lama sabahtani. Seharusnya kitalah manusia yang berdosa yang ditinggalkan, tetapi Tuhan Yesus memikul keadaan ditinggalkan oleh Allah Bapa tersebut menggantikan tempat kita.

Dalam Roma 9:3 Paulus mengatakan: Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Pernyataan ini mengisyaratkan Paulus rela berkorban apa pun demi keselamatan orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan banyak orang Kristen -bahkan pendeta- hari ini. Dalam Perjanjian Lama kita juga menemukan beban seperti ini dalam diri Musa. Musa rela namanya terhapus dalam Kitab Kehidupan demi supaya Tuhan tidak meninggalkan bangsa Israel (Kel. 32:32). Sikap hati seperti ini menunjukkan kualitas pemimpin umat yang benar.

Banyak orang tidak rela melepaskan miliknya demi keselamatan orang lain. Bahkan mereka mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan demi mencari nafkah dan memuaskan ambisi pribadi. Mereka ada di lingkungan pelayanan demi karir pribadi dan masa depannya di bumi. Pada dasarnya mereka hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri, tanpa menangisi jiwa-jiwa yang terhilang. Hal ini terjadi, karena mereka tidak memiliki beban seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, yang juga seperti dimiliki oleh Paulus. Seharusnya seorang hamba Tuhan yang melayani Tuhan, rela berkorban tanpa batas demi keselamatan orang lain. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus berani menyatakanbahwa upahnya melayani Tuhan adalah bisa melayani Dia tanpa upah.

Orangyang rela mengorbankan apa pun demi keselamatan orang lain adalah orang yang bisa diajak menderita bersama-sama dengan Tuhan. Tentu mereka juga adalah orang-orang yang layak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Suatu hari nanti banyak orang akan menyesal ketika menyaksikan kemuliaan Tuhan Yesus yang diberikan kepadamereka yang rela menderita bersama-sama dengan Dia. Oleh sebab itu, selagi ada kesempatan, kita mau menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah seperti Yang Mulia Tuhan Yesus; menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.