14. KESUCIAN SEBAGAI PERSIAPAN

Salah satu persiapan penting menyongsong kematian adalah hidup dalam kesucian. Kita harus memahami dengan benar apa yang dimaksud dengan kesucian itu. Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa kesucian hidup tidak akan dapat dicapai di bumi ini. Kesucian hanya bisa ditemukan dan di alami di surga. Jadi, kesucian hidup manusia tidak pernah akan ditemukan di bumi. Menurut mereka bumi bukanlah tempat manusia dapat mengenakan kesucian. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pandangan salah di atas bisa muncul disebabkan oleh berbagai faktor:

Pertama, karena mereka tidak memahami pengertian kesucian menurut Alkitab. Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hanya di surga -di mana tidak ada Iblis- maka juga tidak ada dosa. Dalam hal ini kesucian dipahami sebagai keadaan yang tidak ternoda dosa oleh karena tidak adanya cobaan atau godaan dari Iblis. Selama masih ada Iblis yang mencobai dan menggoda, maka bisa dipastikan manusia akan selalu berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam hal ini dosa dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dosa dipandang sebagai kemutlakan yang pasti dialami oleh orang yang hidup di bumi ini. Selama masih tinggal dan hidup di bumi, tidak mungkin tidak terpengaruhi oleh dosa.
Kedua, karena kegagalan yang pernah mereka alami membuat mereka pesimis untuk bisa mencapai kesucian.
Ketiga, karena adanya ajaran yang mengatakan bahwa keselamatan sudah ditentukan oleh Allah secara sepihak.

Kesucian dalam Tuhan memiliki ukuran Tuhan sendiri. Dengan demikian perjuangan untuk mencapai kesucian sama dengan perjuangan untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Hal ini tidak terjadi secara otomatis atau terjadi dengan mudah. Tantangan yang orang percaya hadapi, adalah:
Pertama, kodrat dosa yang ada di dalam dirinya. Ini adalah kekuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan (Rm. 7:21-26).
Kedua, pengaruh model atau gaya anak-anak dunia, sehingga gaya hidup yang banyak orang Kristen kenakan merupakan gaya hidup yang wajar seperti yang orang-orang lakukan. Orang percaya dipanggil untuk mengalami pembaharuan pikiran setiap hari untuk tidak serupa dengan dunia ini.
Ketiga, keadaan dunia yang semakin jahat, kuasa gelap bekerja dengan giat merusak pola hidup umat pilihan Tuhan.

Oleh korban Yesus yang menyediakan sarana keselamatan -Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah- orang percaya dimungkinkan memiliki sebuah gaya hidup yang baru. Inilah transformasi yang dikehendaki Tuhan. Gaya hidup baru ini bukan hanya berbicara mengenai moral atau perilaku, tetapi juga fokus atau tujuan hidup. Seorang yang mengalami pembaharuan dengan benar akan memiliki fokus hidup yang baru pula. Gaya hidup yang benar adalah kehidupan yang dimiliki Tuhan Yesus, dalam penurutan kepada kehendak Bapa dan perjuangan menyelesaikan pekerjaan Bapa (Yoh. 4:34). Kehidupan kita harus ditundukkan kepada pengaturan Allah di dalam kehendak-Nya yang sempurna dan kudus seperti yang Tuhan Yesus lakukan terhadap Allah Bapa-Nya. Tuhan Yesus memberi fasilitas keselamatan agar kita mampu hidup dalam gaya hidup-Nya tersebut. Sebelum menjadi anak tebusan, seseorang hidup sesuka-sukanya sendiri, tidak dapat hidup dalam kehendak Bapa. Orang seperti ini terikat oleh gaya hidup orang tua atau tradisi nenek moyang atau leluhur yang tidak mengenal kebenaran. Tetapi setelah menjadi anak tebusan Tuhan, ia harus belajar hidup di dalam “gaya hidup” anak-anak Allah, yaitu gaya hidup yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus.

Banyak orang, termasuk orang Kristen sekarang ini mengarahkan hidupnya bukan kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Sebagian besar orang melakukan berbagai kegiatan hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Sebagian lain berusaha untuk menikmati hidup dengan segala caranya. Mereka bukan kelompok orang yang sekadar mempertahankan hidup, sebab bagi mereka segala kebutuhan sudah terpenuhi. Kelompok ini adalah kelompok yang sudah memiliki fasilitas hidup yang cukup -bahkan lebih- tetapi mereka merasa selalu kurang, sehingga mereka berusaha memburu yang lain untuk mengisi kekosongan jiwa mereka. Keadaan manusia seperti ini sangat malang secara rohani, sebab mereka semakin buta dan jauh terhadap kebenaran Allah.

Tidak jelasnya arah perjalanan hidup ini bukan saja ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, tetapi juga ada dalam kehidupan orang percaya yang pengertiannya mengenai kebenaran Allah tidak mendalam. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang sangat rentan terhadap pencobaan, sangat rawan terhadap serangan musuh. Kalau sekarang masih dijumpai banyak orang Kristen yang mudah berbuat dosa, malas melayani Tuhan, menolak berkorban bagi pekerjaan Allah, dan tidak menyukai ibadah kepada Tuhan, hal ini disebabkan ia tidak memiliki arah perjalanan hidup yang benar atau disorientasi. Orang yang berusaha mencapai kesucianTuhan adalah orang yang mempersiapkan diri menyongsong kematiannya dengan benar. Salah satu ciri orang yang hidup dalam kesucian adalah tidak takut sama sekali menghadapi kematian, bahkan menantikannya dengan sangat rindu.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.