14. KESETIAAN ALLAH

Dalam Roma 3:3 tertulis: Jadi bagaimana, jika di antara mereka (orang-orang Yahudi) ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Alkitab menunjukkan, walaupun orang-orang Yahudi tidak setia kepada Tuhan, tetapi Tuhan tetap setia. Itulah sebabnya ayat keempat menjawab: sekali-kali tidak. Walaupun bangsa Yahudi memberontak dan tidak setia, tetapi Tuhan masih memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi umat pilihan di zaman Perjanjian Baru. Tuhan juga tetap memelihara mereka secara ajaib dan luar biasa. Dalam sejarah kehidupan bangsa Yahudi, kita menemukan jejak Tuhan yang luar biasa.

Sejak Israel Utara runtuh pada tahun 722 sebelum Masehi dan Yehuda runtuh pada tahun 586 sebelum Masehi, bangsa itu tidak pernah lagi memiliki kerajaan dan raja yang berdarah orang Yahudi. Kalau pada zaman Yesus ada raja Herodes, sebenarnya Herodes adalah boneka pemerintahan Roma yang dipakai untuk menguasai Yehuda dan Herodes sendiri berdarah bangsa Edom, bukan berdarah Yahudi. Tahun 70 Masehi, Jendral Titus dari Roma menghancurkan Yerusalem termasuk bait Allah, sejak itu orang-orang Yahudi diaspora; tercerai berai ke seluruh dunia. Sungguh ajaib, di akhir abad 19 dan awal 20 orang-orang Yahudi yang nyaris lenyap dari sejarah, muncul. Banyak orang-orang hebat, bankir, ilmuwan, seniman yang berdarah Yahudi bermunculan.

Setelah perang dunia kedua tahun 1939-1945 dimana 6 juta orang Yahudi dibantai dalam peristiwa yang disebut holocaust, bangsa Yahudi memproklamirkan negaranya pada tanggal 14 Mei 1948. Bangsa-bangsa kuno di Kanaan hari ini lenyap, tetapi bangsa Israel yang pernah mengalami “diaspora” malah berhasil membangun negaranya. Hal ini menunjukkan Allah Israel adalah Allah yang memenuhi janji-Nya. Itulah sebabnya dikatakan dalam Firman Tuhan: Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang (Rm. 11:28). Namun harus dipahami, kalau kesetiaan Tuhan ini disia-siakan, maka mereka tidak akan luput dari hukuman Tuhan. Walaupun mereka umat pilihan Allah secara darah daging, yaitu keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus, maka mereka akan binasa juga.

Aspek penting yang juga harus dipahami adalah bahwa kesetiaan Allah tidak merusak hakikat-Nya. Bukan berarti karena Allah setia, maka umat yang bersalah tidak dihukum. Dalam Roma 2 dikemukakan dengan sangat jelas bahwa hukuman pasti ditimpakan atas kejahatan, bahwa semua manusia harus menghadap takhta pengadilan Allah. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain. Firman Tuhan mengatakan, walaupun bangsa lain tidak disunat, tetapi kalau mereka menuruti hukum, maka mereka disebut sebagai Yahudi sejati. Kesetiaan Allah bukan dinyatakan dalam bentuk toleransi terhadap kejahatan, tetapi terletak pada kesediaan Allah yang masih memberi kesempatan umat Israel untuk menjadi umat Perjanjian Baru. Kalau pun akhirnya mereka menolak, maka mereka juga akan dibuang (Rm. 11:21).

Hal di atas ini memiliki implikasi yang sangat penting bagi orang percaya. Fenomena kehidupan bangsa Israel paralel dengan kehidupan orang percaya. Walaupun seseorang beragama Kristen, mengaku percaya dan melakukan kegiatan agamanya, tetapi kalau tidak hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah setiap hari dengan standar kesucian Tuhan Yesus, maka ia pun bisa ditolak Allah atau terbuang ke dalam api kekal. Dalam Matius 7:21-23 jelas sekali ditunjukkan bahwa ada orang-orang Kristen yang sudah memiliki karunia-karunia rohani, tetap tertolak sebab tidak melakukan kehendak Bapa. Terkait dengan hal ini, bisa dimengerti kalau Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab ia pun harus menghadap takhta pengadilan Allah (2Kor. 5:9-10). Usaha Paulus bukanlah usaha untuk mencari keselamatan, tetapi mengisi imannya. Harus diingat bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.

Terkait dengan Matius 7:21-23 tersebut, ada orang-orang yang beragumen bahwa mereka yang ditolak sebab mereka adalah nabi-nabi palsu. Seakan-akan ayat itu hanya ditujukan kepada nabi palsu. Memang konteksnya mengenai nabi-nabi palsu, tetapi mereka yang memberi diri disesatkan juga akan menerima hukuman yang sama. Dengan argumen tersebut sebenarnya mereka hendak meringankan tanggung jawab setiap orang Kristen dalam melakukan kehendak Bapa. Biasanya argumen itu datang dari mereka yang salah memahami pengertian sola gratia dan sola fide. Harus ditandaskan, bahwa siapa pun yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak layak masuk Kerajaan Surga. Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, walaupun memanggil atau berseru nama Yesus, tetap akan tertolak.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.