14 Januari 2015: Kelembutan Hati

Hidup ini adalah proses pembelajaran untuk menjadi seperti Tuhan Yesus. Diantara sikap Tuhan Yesus adalah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam Perjanjian Lama terdapat orang-orang yang luar biasa berkenaan dengan hal ini. Pertama adalah Yusuf. Walaupun ia memiliki kemampuan dan kesempatan untuk membalas kejahatan saudara-saudaranya tetapi ia tidak melakukannya. Ia mengampuni mereka bahkan memberi pertolongan.1 Kedua adalah Musa. Walaupun ia ditentang hebat oleh Miryam, ia tetap diam. Tuhanlah yang membalas perlawanan Miryam terhadap Musa.2 Nama yang lain adalah Daud. Walaupun ia dijahati oleh Saul, dimana Saul berusaha untuk membunuh Daud, tetapi ketika Daud memiliki kesempatan untuk membalas dendam, ia tidak mengulurkan tangan membunuh Saul.3 Daud tidak takut kepada Saul tetapi ia takut terhadap Tuhan.

Inilah kehebatan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan. Hebatnya Yusuf bukan hanya ketika ia bisa menolak ajakan tidur dari nyonya Potifar, bukan hanya ketika ia bisa menafsir mimpi Firaun dan menjadi pejabat tinggi Firaun, tetapi juga kelembutan hatinya untuk memaafkan saudara-saudaranya. Kehebatan Musa bukan hanya bertemu dengan Tuhan dan segudang pengalaman dahsyatnya mengadakan mukjizat tetapi juga kelembutan hatinya menghadapi orang-orang yang menentang terhadap dirinya. Ia menyerahkan penghakiman dan pembalasan di tangan Tuhan. Demikian juga dengan Daud. Kehebatan Daud bukan hanya ketika ia bisa menewaskan singa, beruang bahkan Goliat, tetapi juga kelembutan hatinya untuk tidak membalas dendam kepada Saul. Orang seperti ini pantas sebagai kekasih Tuhan.

Dalam 1Petrus 2:23 tertulis: “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” Selanjutnya dalam 1Petrus3:9 tertulis: “…dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” Suka atau tidak kita harus belajar untuk bisa mengenakan kehidupan yang Tuhan Yesus kenakan ini, sebab itulah yang dimaksud dengan mengikut Tuhan Yesus. Dalam pergumulan hidupnya, Paulus juga menghadapi hal-hal ini. Di dalam suratnya kepada Timotius ia menulis: “Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya.”4 Melalui segala pengalaman tersebut Tuhan mengajar orang percaya memiliki hati seperti Tuhan Yesus dan menjadikan Dia sebagai pembela.

Sebenarnya memiliki hati yang lembut dan menjadikan Tuhan sebagai pembela hidup kita seperti tokoh-tokoh hebat di Perjanjian Lama dan seperti Tuhan Yesus, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Sebab kita memiliki kecenderungan membela diri, membalas dendam dan gairah untuk melukai sesama, khususnya melukai orang yang melukai kita. Ada kecenderungan untuk membela diri, khususnya kalau kita merasa diri kuat. Ada kecenderungan menyaksikan orang yang melukai kita dihukum dan merasa puas bisa mempermalukan orang yang melukai dan mengkhianati kita. Dengan memaafkan orang yang bersalah kepada kita, sebenarnya kita sedang membiasakan diri untuk mengenakan pribadi Kristus. Dengan menyerahkan penghakiman dan pembalasan di tangan Tuhan, kita berusaha untuk tetap hidup benar di hadapan Tuhan; dimana semua perbuatan manusia akan dihakimi. Kita juga tidak berdoa agar Tuhan menghukum orang yang melukai kita. Kita akan lebih menantikan kedatangan Tuhan dan masuk Kerajaan Allah dimana tidak ada kejahatan dan perbuatan yang menyakiti sesama.

1) Kejadian 45 2) Bilangan 12:1-3 3) 1Samuel 24:1-13 4) 2Timotius 4:14

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.