13. SOLUSI YANG BENAR

Dalam Roma 9:1-3, memuat pernyataan Paulus yang tidak pernah dikemukakan di bagian manapun dalam suratnya, yaitu: Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Apa yang dikemukakan di dalam tulisannya tersebut, menunjukkan kasihnya yang sangat kuat terhadap orang-orang sebangsanya, yaitu bangsa Yahudi. Hal tersebut didorong oleh kerinduannya, agar orang-orang sebangsanya juga mengalami keselamatan seperti dirinya. Beban yang ada di hati Paulus begitu kuat, sehingga ia memberi pernyataan yang sangat luar biasa.

Paulus memulai suratnya dalam Roma 9 tersebut dengan pernyataannya: Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus. Kebenaran yang dimaksud dalam pernyataan Paulus ini adalah suatu fakta yang tidak dibuat-buat, tetapi merupakan keadaan batin atau perasaannya yang tulus. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup dalam kebenaran adalah orang-orang yang tidak berkepribadian belah (dualistis); apa yang dikemukakan atau dinyatakan di dalam bibir maupun ekspresi lahiriahnya adalah apa yang terdapat dalam batinnya, atau di dalam manusia batiniahnya. Ini yang disebut sebagai ketulusan atau sikap tidak munafik.

Munafik dalam bahasa Aram adalah hanefa, yang pengertian harafiahnya adalah curang. Di zaman Perjanjian Lama, biasanya kata itu menunjuk kepada keadaan diri orang fasik, orang yang bersikap curang atau suka menipu sesamanya dan tidak tulus. Dalam bahasa Yunani, kata munafik adalah hupokrites (ὑποκριτής), yang artinya orang yang memainkan peranan. Orang yang memainkan peranan ini seperti seorang aktor. Munafik merupakan sinonim dari kata “pura-pura”, apa yang diucapkan dan dilakukan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tidak sesuai dengan hati dan pikirannya.Munafik biasanya dipahami sebagai tidak satunya kata dan perbuatan.

Satu hal penting yang harus dipahami, bahwa sesungguhnya hanya kebenaran yang akan membuat seseorang tidak berkepribadian belah (split). Sebaliknya, kalau seseorang tidak membiasakan hidup dalam kebenaran, tidak bisa tidak pasti berkepribadian belah. Orang-orang seperti itu tidak menyadari bahwa dirinya berkepribadian belah. Inilah orang-orang yang tidak tulus. Orang yang tulus adalah pribadi yang tidak menipu sesamanya dengan sikap palsu yang ditunjukkan, padahal keadaan batiniahnya tidak sama seperti yang diekspresikan tersebut.

Dalam Injil dikemukakan dalam banyak kesempatan Tuhan Yesus mengkritik dan mencela pemimpin-pemimpin agama yang munafik (Mat. 6:2; Mat. 23, Luk. 11:39-40; dan lain sebagainya). Penyakit jiwa yang namanya munafik ini, biasa hinggap pada para pemimpin, baik pemimpin agama maupun pemimpin negara. Ada potensi besar mereka melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya, seharusnya para pemimpin belajar untuk tidak munafik dengan selalu memperbaharui sikap hatinya.

Kecaman Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi terjadiketika Yesus dikritik atau dikecam karena tidak mencuci tangan sebelum makan. Perlu diketahui bahwa -pada zaman Tuhan Yesus, di Palestina- di dalam kelompok orang Farisi, ada satu kelompok (partai) yang giat melaksanakan Taurat, hukum-hukum Musa secara mutlak dengan memberikan berbagai peraturan tambahan. Secara lahiriah mereka kelihatan saleh dan beribadah, tetapi pada hakikatnya mereka tidak melaksanakan inti Taurat, yaitu kasih. Secara lahiriahnya saja mereka patuh, padahal hatinya tidak memiliki hati yang tunduk dan patuh. Mereka tidak rendah hati di hadapan Tuhan. Hatinya menyimpan berbagai kebusukan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan; seperti kebencian, materialisme, haus kedudukan dan pujian serta sanjungan, dan lain sebagainya. Kepada mereka Tuhan Yesus tegas berkata: Kamu seperti kuburan. Diluar nampak putih tetapi didalamnya penuh tulang belulang busuk (Mat. 23:27).

Orang munafik secara tidak langsung sebenarnya ingin menipu dan memperdaya Tuhan. Secara tidak langsung ia beranggapan bahwa Tuhan tidak tahu apa yang ada didalam hatinya dan Tuhan kurang memperhatikan apa yang ada di dalam, Tuhan hanya memperhatikan apa yang kelihatan. Tuhan Yesus secara khusus memperingatkan kepada murid-murid-Nya, agar waspada terhadap dosa kemunafikan model orang Farisi tersebut (Luk. 12:1-3). Tuhan membenci kemunafikan. Oleh sebab itu secara tegas Tuhan Yesus berkata: Celaka kamu! Harus dicatat bahwa setiap kemunafikan mendatangkan hukuman Allah, selain itu setiap kemunafikan akan dibongkar. Sebab tidak ada rahasia yang tinggal tertutup, yang tidak dibuka Allah.

Berhubung manusia sudah rusak, maka sebenarnya kemunafikan adalah cara hidup agar manusia bisa berinteraksi dengan sesama. Kalau manusia tidak munafik, maka dunia ini menjadi seperti rumah sakit jiwa yang besar. Jadi, kemunafikan dianggap menjadi solusi agar manusia bisa berinteraksi dengan sesamanya dengan baik. Tentu ini adalah solusi yang salah. Solusi yang benar adalah pembaharuan manusia batiniah, agar manusia dapat menerima satu dengan yang lain dengan kasih dan ketulusan. Di dalamnya manusia bisa menerima kekurangan dan kesalahan orang lain seperti Tuhan Yesus menerima kita. Di sinilah letak keunggulan Kekristenan, yaitu ketika orang percaya memperagakan sikap dan gaya hidup Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.