13 September 2014: Perangkat Yang Benar

Dewasa ini terdapat hamba-hamba Tuhan yang merasa sudah memiliki pengalaman khusus dengan Tuhan dan dengan bangganya mempromosikan dirinya kepada jemaat sebagai orang istimewanya Tuhan. Dengan apa yang dianggapnya sebagai nilai lebih itu, ia merasa berhak menarik jemaat mengikutinya atau mengikuti gerejanya sebagai agen Tuhan yang sah. Selanjutnya, ia memberi kesan bahwa yang penting pendetanya saja yang sudah mengenal Tuhan dengan baik, jemaat akan aman dipimpin oleh pendeta yang memiliki pengalaman khusus dengan Tuhan tersebut dan akan dimudahkan untuk diberkati berkelimpahan serta masuk Surga. Ironinya mereka tidak mengajarkan jemaat sungguh-sungguh mengenal Tuhan dan mengalami-Nya secara pribadi.

Sesungguhnya yang dibutuhkan adalah perangkat kebenaran Alkitab yang lengkap dan benar bukan pengalaman pribadi seseorang. Pengalaman pribadi seseorang bisa salah. Bisa salah di sini maksudnya bahwa pengalaman pribadi seseorang belum tentu dari Tuhan. Bukan tidak mungkin, aktivitas jiwa yang sangat subyektif dibungkus atau dikemas dengan lebel sebagai pengalaman rohani dari Allah, kemudian memaksa orang lain untuk mengakuinya sebagai dari Tuhan. Lebih konyol lagi kalau kemudian dijadikan standar kebenaran. Untuk membebaskan banyak orang Kristen hari ini dari penipuan-penipuan tersebut adalah dengan mengajarkan kebenaran Alkitab kepada jemaat. Hendaknya kita tidak terpancing untuk berkeinginan mengalami Tuhan tanpa landasan Alkitab yang benar. Pengalaman dengan Tuhan tanpa mengerti kebenaran Alkitab akan membawa seseorang kepada penyesatan. Banyak orang Kristen yang mau mengalami Tuhan secara alam roh tanpa belajar kebenaran Firman Tuhan dengan baik. Mereka ibarat orang masuk hutan tanpa panduan. Bahaya budaya instan dalam dunia kekristenan bukan saja menyangkut pemahaman secara pikiran terhadap kebenaran, tetapi juga kesiapan mental seseorang mengalami Tuhan. Kesiapan mental ini adalah kemampuan seseorang tetap rendah hati walaupun memiliki pengalaman supranatural yang luar biasa dan menyadari bahwa pengalaman spektakuler yang dialaminya adalah anugerah Tuhan bukan prestasinya. Kesiapan mental juga menyangkut kejujuran. Kalau hanya sebuah suara hatinya sendiri tidak boleh diakui sebagai pernyataan atau wahyu dari Tuhan. Pengalaman orang lain hendaknya tidak diakui sebagai pengalaman pribadinya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.