13. PENANTIAN

Setiap orang pasti hidup dalam penantian, artinya ada sesuatu yang dinantikan atau yang diharapkan. Sesuatu yang dinantikan atau diharapkan adalah sesuatu yang menurut pemikiran dan pertimbangannya dapat membuat hidupnya merasa lebih bahagia, lebih lengkap, lebih utuh, dan sempurna (walau tidak secara terang-terangan ia mengatakan itu). Banyak hal yang membuat seseorang hidup dalam penantian, yang dinantikan itu antara lain: Bagi siswa lulus dari sekolahnya, bagi mahasiswa lulus menjadi sarjana atau mencapai gelar yang lebih tinggi, bagi yang sakit mengalami kesembuhan, bagi orang yang hidup dalam tekanan hutang mengharapkan hutangnya terbayar, bagi orang pada umumnya menjadi lebih kaya, memiliki rumah pribadi, memiliki kendaraan, bagi politisi sukses menjadi pejabat tinggi.

Bila apa yang dinantikan itu dicapai, maka seseorang merasa akan memiliki kebahagiaan yang lebih besar, hidup yang lebih lengkap atau hidup yang lebih sempurna. Kenyataannya, seseorang tidak akan pernah puas setelah mencapai sesuatu atau memiliki sesuatu. Biasanya orang akan selalu bergerak untuk mencapai apa yang lebih dari apa yang sudah ia capai dan memiliki lebih banyak dari apa yang dimiliki. Sehingga seseorang tidak akan pernah berhenti di satu “stage”. Manusia akan selalu haus dan lapar terhadap apa yang dunia dapat berikan. Dalam hal ini Yesus berkata: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi” (Yoh. 4:13).

Banyak orang Kristen tidak menyadari “hasrat kehausan duniawi dari manusia lamanya”, sehingga dengan sengaja menjalani hidup hanya untuk memuaskan dahaga jiwa manusia lamanya. Orang seperti ini tidak mungkin dapat memiliki kehausan dan kelaparan akan kebenaran. Sebagai konsekuensinya, mereka tidak akan pernah dipuaskan oleh Tuhan dengan kebenaran-Nya. Hal ini berarti orang tersebut tidak pernah mengalami dan memiliki keselamatan. Malangnya, banyak gereja tidak menyadarkan orang Kristen dari hasrat kehausan duniawi dari manusia lamanya, malahan memacu dan membakarnya dengan ajaran Teologi Kemakmuran.

Dengan kondisi kejiwaan manusia seperti tersebut di atas, Iblis berpeluang untuk menjerat manusia dengan berbagai kesenangan dan kebahagiaan dari materi dunia serta hiburannya. Dengan cara demikian manusia berpotensi dibelenggu oleh kuasa kegelapan dan menjadi warga anggota kerajaan kegelapan. Dengan demikian manusia hidup dari penantian ke penantian terhadap perkara-perkara fana, sehingga tidak menantikan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Hal ini terjadi bukan hanya atas orang-orang di luar gereja, tetapi orang-orang Kristen. Oleh sebab itu kita harus menyadari kelemahan kita mengenai hal ini, supaya kita lebih waspada terhadap serangan kuasa kegelapan atas hidup kita.

Sebagai umat pilihan Tuhan, kita harus melarikan diri dan keluar dari fenomena jiwa yang berpotensi dijerat oleh kuasa kegelapan dengan kesenangan dunia serta hiburannya. Kita harus belajar untuk tidak menantikan siapa pun dan apa pun, dengan pemikiran bahwa tidak ada yang dapat membahagiakan hidup kita selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Cara satu-satunya untuk dapat melarikan diri dan keluar dari fenomena jiwa yang berpotensi dijerat oleh kuasa kegelapan tersebut adalah dengan memperbaharui cara berpikir kita. Pembaharuan cara berpikir itu hanya oleh kebenaran Firman Tuhan yang murni, sehingga kita dapat menemukan dan melihat gaya hidup seorang anak Allah yang telah diperagakan oleh Yesus sebagai Anak Allah yang berhasil mentaati Bapa.

Selanjutnya, kita tidak memperhitungkan dan mempertimbangkan sesuatu sebagai kebahagiaan selain bagaimana menjadi semakin seperti Yesus yang dapat menyukakan hati Bapa di surga. Lebih dari segala sesuatu yang kita nantikan, yang kita harapkan dan yang terus kita upayakan adalah bagaimana bisa benar-benar serupa dengan Yesus. Hal ini harus menjadi satu-satunya kebahagiaan hidup kita. Ketika kita dapat membahagiakan hati Bapa dengan berkeberadaan serupa dengan Yesus, kita dapat mencapai kebahagiaan di atas segala kebahagiaan. Dengan demikian, kebahagiaan kita adalah membahagiakan hati Bapa.

Jika seorang anak Allah semakin dapat membahagiakan hati Bapa, maka kerinduannya adalah bertemu dengan Yesus dan tinggal di rumah Bapa. Pastilah kematian tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan sama sekali, tetapi menjadi momentum yang membahagiakan. Tidak mengherankan orang percaya seperti ini penantiannya adalah hari kematiannya. Bagi orang percaya seperti ini, kematian adalah jembatan emas untuk memiliki kehidupan sempurna yang Allah sediakan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.