13 Oktober 2014: Menjadi Tawanan Roh

Orang-orang yang bersedia menjadi sekutu Tuhan adalah orang-orang yang bersedia tidak menyayangkan nyawa demi tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Dalam hal ini, sesungguhnya adalah anugerah kalau Tuhan berkenan melibatkan kita dalam rencana-rencana-Nya yang besar. Keterlibatan ini mempersiapkan orang percaya untuk dapat dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Orang yang tidak menyayangkan nyawanya adalah orang-orang yang rela kehilangan segala kesenangan demi Tuhan. Ini bukan berarti mereka tidak memiliki kesenangan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Kebersamaan dengan Tuhanlah kesenangan dan kebahagiaannya, sehingga hal ini membangun jalinan hubungan yang eksklusif sebagai mempelai dengan Tuhan. Ketika menutup mata, maka inilah harta abadi yang dibawanya sampai kekekalan. Itulah sebabnya mereka bisa berkata bahwa Tuhan adalah hartanya. Selain Tuhan Yesus yang jelas-jelas menjadi prototipe manusia yang pantas menjadi sekutu Tuhan adalah Paulus. Ia adalah satu sosok manusia yang memiliki hati sebagai sekutu Tuhan. Dalam kesaksiannya ia menyatakan bahwa dirinya sebagai tawanan Roh tidak mempersoalkan hidupnya sendiri, penjara dan sengsara dihadapinya dan ia tidak menghiraukan nyawanya asal ia bisa menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepadanya (Kis. 20:22-24). Ia menyebut sebagai tawanan Roh artinya ia tidak menawan dirinya sendiri, ia merelakan seluruh hidupnya dikuasai oleh Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan menyerahkan hati kepada Tuhan. Hanya dengan cara demikian ia dapat menjadi sekutu Tuhan. Orang yang masih menawan dirinya sendiri tidak bisa menundukkan diri kepada Tuhan. Ini berarti ia masih memiliki takhta sendiri; komando datang dari takhtanya sendiri. Tetapi orang yang menjadi tawanan Roh dalam hidupnya hanya ada satu takhta yaitu takhtanya Tuhan. Ia hidup hanya untuk menundukkan dirinya sepenuh kepada-Nya. Hanya orang yang menjadi tawanan Roh yang dapat berjalan seiring dengan Tuhan. Tidak banyak orang yang berani percaya kepada Tuhan Yesus sampai level ini. Fakta ini sinkron dengan pernyataan Tuhan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Dalam pernyataan-Nya yang lain Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak orang berusaha masuk tetapi mereka tidak dapat (Luk. 13:24). Hal ini jelas menunjukkan betapa sulitnya menjadi orang kristen sampai level bisa sepenanggungan dengan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.