13 November 2014: Irama Yang Permanen

Memperkarakan segala sesuatu dengan Tuhan harus menjadi irama yang otomatis berlangsung dalam hidup kita tanpa kita berpikir atau sengaja melakukannya. Dan irama hidup seperti ini harus menjadi irama yang permanen. Untuk itu harus ada usaha untuk membiasakannya setiap hari bahkan setiap saat. Kalau tidak dibiasakan, maka sebagai akibatnya seseorang tidak akan pernah menghormati Tuhan. Tidak akan pernah mencari perkenanan Tuhan. Tidak mengakui kedaulatan dan pemerintahan Tuhan yang sedang berlaku. Tidak memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup; pribadi yang berperasaan, berpikir dan berkehendak. Tidak menghadirkan Tuhan secara nyata sehingga bisa mengalami Tuhan. Pada akhirnya orang yang tidak memperkarakan segala sesuatu dengan Tuhan tidak akan mengenal “bertuhan” secara benar. Mereka memang beragama dan menjalankan semua kegiatan keberagamaan, tetapi mereka tidak berurusan dengan Tuhan secara pribadi. Berurusan dengan agama tetapi terputus hubungan dengan Tuhan. Ironinya, mereka merasa sudah bertuhan dengan benar, tidak sedikit mereka yang mengajar orang lain bertuhan padahal mereka tidak bertuhan.

Memang tidak mudah memperkarakan segala sesuatu dengan Tuhan, karena kita tidak terbiasa melakukan hal itu. Pada dasarnya semua manusia biasa mengisolasi Tuhan dari hidupnya. Tuhan ditempatkan di tempat yang tidak diijinkan bersentuhan dengan kehidupan pribadi, kecuali kalau ada masalah barulah melibatkan Tuhan untuk dapat menolong. Sebenarnya Tuhan hendak campur tangan dalam segala hal dalam kehidupan orang percaya, terutama untuk menggarap hidup orang percaya agar dikembalikan ke rancangan semula (Rm. 8:28), tetapi banyak di antara kita yang memberi wilayah yang sangat terbatas untuk Tuhan. Sehingga banyak cacat karakter tidak tersentuh oleh Tuhan. Hal ini disebabkan oleh orang itu sendiri yang tidak memberi peluang Tuhan mengubah hidupnya. Sikap hidup seperti ini pada dasarnya adalah sikap hidup berdaulat atas diri sendiri sehingga tidak memberi kesempatan Tuhan berdaulat atas hidupnya. Ia memerintah dirinya sendiri dengan memuaskan perasaan, keinginan dan segala cita-citanya. Tetapi tidak adil, kalau menghadapi masalah barulah Tuhan ditarik untuk terlibat dalam hidupnya guna memberi pertolongan. Perlakuan terhadap Tuhan seperti ini mirip perlakuan banyak umat manusia terhadap ilah atau dewa yang mereka sembah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.