13. MILIK YANG PASTI

KALAU SESEORANG tidak tertarik pada proyek yang Bapa kerjakan yaitu mendidik seseorang menjadi anak-anak-Nya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, maka dalam level tertentu –yaitu ketika seseorang tidak bisa dibentuk lagi- maka anugerah yang disediakan Allah terbuang sia-sia. Hal ini sama dengan menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan.1 Kalau Esau menyesal dengan ratapan dan tangisan, tetapi orang-orang yang menolak kasih karunia ini akan disertai dengan kertak gigi. Dalam hal ini kesempatan menerima didikan dari Bapa untuk menjadi anak yang sah (huios) sama dengan hak kesulungan. Sejatinya, tidak banyak orang yang memiliki kesempatan yang tidak ternilai tersebut. Betapa hebat jika nama kita termasuk daftar yang boleh hidup

di zaman anugerah yang berkesempatan menjadi anak-anak Allah, yang dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Penghargaan yang sangat tinggi ini harus diresponi dengan benar. Menjadi umat pilihan memiliki pertaruhan yang sangat berat dan mahal. Kita tidak bisa membantah penentuan Tuhan ini. Kita harus berdiri tegak dengan ucapan syukur menerima kehormatan ini. Kehormatan memiliki “hak” sebagai anak-anak Allah. Hak ini bisa menjadi milik yang pasti kalau seseorang mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar.

Hanya umat pilihan yang memperoleh kesempatan mengikuti perlombaan tersebut. Dalam Efesus 1:4-5 tertulis: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”. Pemilihan sebagai orang-orang yang direncanakan menjadi anak-anak-Nya adalah pilihan berdasarkan kedaulatan-Nya. Hal ini sama dengan pilihan Allah atas bangsa Israel. Mereka dipilih bukan berdasarkan perbuatan tetapi berdasarkan kasih karunia dari keputusan kedaulatan Allah yang tidak

bisa diubah. Tetapi kalau akhirnya bangsa itu tidak dengar-dengaran, maka Tuhan menghajar mereka dengan dahsyatnya. Tidak semua orang yang keluar dari Mesir dapat masuk tanah Kanaan. Bagi mereka yang menjadi anak cucu bangsa Israel-yang mestinya mendiami tanah Kanaan yang dijanjikan- ternyata juga tidak semua menikmatinya. Hanya beberapa generasi (tidak lebih dari sepuluh generasi), sebab selama 500 sampai 700 tahun mereka selalu jatuh bangun diganggu musuh di sekitar Kanaan. Dan pada akhirnya, mereka dibuang dalam keadaan yang sangat tragis. Sejarah bangsa Israel ini menjadi pelajaran mahal bagi orang percaya bahwa semua yang ditentukan menjadi umat pilihan tidak semua terpilih.2

Harus ditegaskan di sini bahwa tidak semua orang yang terpilih hidup di zaman Perjanjian Baru dan mendengar Injil pasti menjadi anak-anak Allah. Menjadi umat pilihan sama dengan memiliki karunia sulung Roh, artinya orang yang ditentukan untuk memperoleh berkat terkemuka yaitu menjadi orang-orang yang dapat dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.3 Kalau kita sebagai anak sulung menyia-nyiakan atau menganggap rendah hak kesulungan seperti Esau, maka seseorang akan kehilangan Karunia Sulung yang sangat luar biasa.

Banyak orang yang terpilih, tetapi tidak semua bisa lulus. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Tidak tahukah

kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!.4 Pernyataan Paulus ini hendak menunjukkan betapa sulitnya untuk menjadi pemenang. Dalam tulisannya yang lain Paulus mengatakan bahwa ia berusaha menjadi berkenan kepada Allah.5 Dari pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa anugerah yang diperolehnya membuat ia bekerja keras untuk berkenan kepada Tuhan. Keberkenanan di hadapan Tuhan harus diperjuangkan sebagai sikap menghargai anugerah dan kasih karunia yang Tuhan Yesus perjuangkan di kayu salib. Betapa kecewa hati Tuhan kalau kita tidak menghargai kesempatan ini.

1) Ibrani 12:16-17 ; 2) Matius 22:14 ; 3) Roma 8:23 ; 4) 1Korintus 9:24 ; 5) 2Korintus 5:9-10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.