13. MELEPASKAN DIRI DARI JERAT

Masalah besar yang menjadi pergumulan hidup banyak orang hari ini adalah bagaimana dapat melepaskan diri dari jerat cinta akan uang atau dosa materialisme, yang adalah bagian penting dalam semangat atau gairah zaman ini. Kalau jujur, sebenarnya hampir semua orang telah terjebak dalam gairah cinta uang. Bagi mereka yang tidak mengerti Firman Tuhan, cinta uang dipandang sebagai hal yang wajar yang tidak menyalahi etika kehidupan. Mereka berpikir dengan cinta uang, tidak ada yang dirugikan. Padahal kalau seseorang cinta uang, maka tidak mungkin tidak ada korbannya.

Ada pula yang berpikir bahwa dengan memiliki jumlah uang cukup, maka mereka tidak lagi akan terikat dengan uang. Mereka lupa bahwa manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya tidak mengenakan kodrat Ilahi, adalah orang yang selalu haus dan tidak pernah dapat dipuaskan oleh apa pun juga, termasuk oleh uang. Adalah kebodohan, kalau berpikir bahwa dengan tidak miliki masalah berkenaan dengan keuangan, karena terpenuhinya apa yang dipandangnya sebagai kebutuhan, maka seseorang tidak terikat lagi oleh uang. Banyak orang berpikir demikian, termasuk sebagian besar orang Kristen. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh pola pikir manusia modern yang pada umumnya materialistis. Penyesatan ini juga disebabkan oleh khotbah banyak pembicara, termasuk pembicara-pembicara Kristen dan penulis buku, yang tidak melandaskan pemahamannya pada Alkitab. Mereka mengajarkan Tuhan yang berjanji memenuhi apa yang mereka anggap sebagai kebutuhan. Padahal seringkali apa yang dianggap kebutuhan adalah ambisi pribadi atau pikiran fasik manusia berdosa yang ingin memuaskan diri dengan materi. Harus disadari bahwa dengan jumlah uang yang besar atau banyak bisa membawa seseorang akan semakin terbelenggu oleh gairah cinta akan uang.

Firman Tuhan mengatakan bahwa kebenaran itu memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Masalahnya adalah kebenaran yang mana? Untuk itu kita harus membahas beberapa hal menyangkut kebenaran-kebenaran tersebut. Hal utama untuk dapat dimerdekakan dari cinta uang adalah memahami tujuan hidup sebagai umat pilihan. Dunia kita yang sudah jatuh dan semakin rusak di akhir zaman ini semakin kehilangan maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan. Manusia diciptakan oleh Tuhan hanya untuk menggenapi rencana Allah. Rencana Allah adalah membangun Kerajaan Allah setelah membinasakan pekerjaan Iblis. Orang percaya sebagai umat pilihan yang sangat istimewa hanya boleh memiliki satu-satunya agenda tersebut. Untuk ini kita harus memahami maksud Allah menciptakan manusia.

Ketika Iblis memberontak melawan Allah, Allah tidak seketika bisa membinasakannya. Ada “rule” atau hukum atau aturan untuk bisa menunjukkan bahwa Iblis bersalah dan pantas dihukum. Bagaimana membuktikan bahwa Iblis bersalah? Jawaban yang paling logis adalah Allah harus menciptakan makhluk yang taat melakukan kehendak-Nya. Adam diciptakan agar menjadi makhluk seperti yang dikehendaki-Nya atau yang dirancang-Nya. Manusia diciptakan dengan maksud agar menampilkan kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan Allah, dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal ini dimaksudkan agar manusia dapat menjadi alat bukti untuk menunjukkan kesalahan Iblis sehingga ia bisa dihukum dan dibinasakan (menjadi corpus delicti). Ternyata manusia pertama (Adam) gagal menjadi corpus delicti.

Kegagalan manusia pertama membuat Anak Tunggal yang bersama-sama dengan Bapa di kekekalan, harus turun ke bumi menjadi manusia (Ibr. 2:17). Allah Anak menjadi manusia untuk membuktikan bahwa ada Pribadi yang bisa taat tanpa syarat kepada Bapa dan mengabdi sepenuhnya serta menghormati-Nya. Hal ini akan membuktikan bahwa tindakan Iblis memberontak kepada Allah sebagai tindakan yang salah dan patut dihukum. Dalam hal tersebut, kita menemukan kehidupan Tuhan Yesus yang diarahkan sepenuh kepada kehendak Bapa dan berhasil menjadi corpus delicti. Kehidupan Yesus yang berhasil menjadi corpus delicti dinyatakan dalam satu kalimat: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.