13. KEPUASAN

Orang yang hidup beriman dalam Tuhan pasti menyadari dan menerima bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Dan satu hal yang pasti terjadi atas orang percaya yang menyadari bahwa segenap hidupnya milik Tuhan, dan bersedia dipakai oleh Tuhan, dirinya akan memiliki perasaan puas dengan apa yang ada padanya. Dengan demikian, tidak sulit mengenakan nasihat Paulus “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Orang percaya seperti ini sangat memahami dan dapat membedakan manakah kebutuhan, dan manakah keinginan. Orang yang yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, pasti diperbudak oleh dunia sekitar yang merangsang orang Kristen untuk memiliki apa yang orang lain miliki. Orang Kristen seperti ini akan terpasung oleh berbagai keinginan yang dia pikir sebagai kebutuhan. Padahal keinginan manusia tidak pernah dapat berhenti, terus bergerak dengan laparnya, sampai kematian menjemputnya. Dengan demikian orang seperti ini akan terus terbelenggu dengan berbagai keinginan.

Orang yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sangat mudah terikat dengan percintaan dunia. Sebenarnya secara tidak langsung mereka mudah sekali dibelenggu oleh dunia. Dan orang yang terbelenggu dengan segala keinginan yang muncul di dalam dirinya, tidak pernah akan dapat dibelenggu oleh Tuhan. Ini berarti orang tersebut tidak akan pernah hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Orang yang mau bersekutu dengan Tuhan, harus rela dibelenggu Tuhan. Dalam hal ini, pada dasarnya setiap orang harus memilih dibelenggu oleh dunia atau dibelenggu oleh Tuhan. Tidak mungkin seseorang dibelenggu oleh dua-duanya.

Kepuasan terhadap apa yang ada, membuat hati seseorang merasakan damai sejahtera. Memang harus kita sadari bahwa yang penting bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi seberapa efektif harta yang ada pada kita bagi Tuhan. Terkait dengan hal ini kita menemukan jawabannya, mengapa orang serakah? Orang menjadi serakah karena tidak merasa puas dengan apa yang ada padanya. Orang seperti ini akan terus bergerak untuk meraih dan memiliki segala hal yang belum dimilikinya, dengan harapan bahwa apa yang diraih dan dimiliki tersebut menambah kebahagiaan hatinya. Inilah tipu daya Iblis yang merusak kehidupan banyak orang.

Pada umumnya, orang mau menikmati segala sesuatu yang ada padanya bagi dirinya sendiri tanpa memedulikan kepentingan orang lain. Baginya itulah yang membahagiakan hidupnya. Padahal ia tidak akan pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang ada padanya. Itulah sebabnya ia terus berkelana mencari dan mencapai segala sesuatu untuk membuat dirinya merasa bahagia. Semakin ia bergerak, maka semakin akan merasakan letih lesu dan berbeban berat.

Sejatinya, kepuasan hidup hanya terletak ketika seseorang menghirup Air Kehidupan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada yang dapat memuaskan dahaga jiwa manusia selain Tuhan yang menciptakan jiwa manusia itu sendiri. Tetapi masalahnya kemudian adalah bagaimana mengecap manisnya air kehidupan? Di sini seseorang harus belajar dan terus melatih diri bersekutu dengan Tuhan. Bersekutu dengan Tuhan dimulai dari mengenal Dia dengan benar, belajar melakukan kehendak-Nya dan menikmati kehadiran Tuhan melalui atau di dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini.

Orang yang merasa puas dengan apa yang ada padanya, tidak akan membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain. Orang yang suka membanding-bandingkan apa yang ada padanya dengan orang lain adalah orang yang tidak bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan kepadanya. Akhirnya ia akan merasa lebih beruntung atau lebih malang dibanding orang lain. Kalau seseorang tidak merasa puas dengan apa yang ada padanya, pasti menganggap Tuhan tidak bijaksana atas pembagian yang dilakukan-Nya. Dan ia merasa tidak bahagia dengan keadaan tersebut.

Orang yang merasa puas dengan segala sesuatu yang ada padanya, tidak akan mengingini milik orang lain. Selanjutnya ia juga menyadari bahwa segala sesuatu yang ada padanya adalah milik Tuhan, maka ia tidak mengingini milik Tuhan yang Tuhan percayakan kepada orang lain. Orang yang merasa puas dengan apa yang ada padanya, akan sangat bersedia dipakai oleh Tuhan. Ia tidak membanggakan apa yang ada padanya demi kehormatan dan kemuliaan dirinya sendiri. Dengan demikian, baginya, melakukan sesuatu bagi pekerjaan Tuhan bukan sebagai suatu pemberian, tetapi pengembalian. Orang-orang seperti ini tidak akan merasa berjasa dalam pelayanan dan tidak menuntut penghargaan atau pengakuan dari manusia.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.