13. KACAMATA KEKEKALAN

JIKA SEORANG ANAK Tuhan sungguh-sungguh mewarnai hidupnya dengan mencari Kerajaan Allah, maka ia dapat memandang segala persoalan dengan kacamata kekekalan. Tidak ada masalah yang besar dalam hidup ini kecuali berbuat salah yang dapat melukai hati Tuhan. Bahkan masalah-masalah berat yang biasa dipahami sebagai bencana, diterimanya sebagai berkat sebab di dalamnya pasti mengandung pelajaran rohani yang indah untuk memperbaiki dirinya guna menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Segala perbuatannya pasti menjadi keharuman bagi orang lain. Sulit ditemukan cacat atau celanya. Kerendahan hatinya akan terpancar dalam segala tindakan dan keputusannya. Cara ia memperlakukan orang lain sangatlah terhormat, sebab ia menghargai orang lain bukan berdasarkan ukuran-ukuran duniawi, tetapi memandang nilai jiwanya yang tak terukur. Untuk pekerjaan Tuhan ia akan berani mempertaruhkan apa pun yang ada padanya. Gaya hidup seperti ini akan membuat seseorang berpikir dan berperasaan seperti Tuhan Yesus. Dari hal ini proses keselamatan benar-benar berlangsung. Anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus tidak menjadi sia-sia dalam hidupnya.

Perjalanan hidup yang diisi terus menerus dengan mengejar bagaimana mencapai taraf hidup dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, akan membuat seseorang tidak memiliki dunia lain dalam hidup ini selain Tuhan sebagai satu-satunya dunia yang dimilikinya. Jangankan orang di luar gereja, orang-orang Kristen yang tidak masuk dalam proses ini tidak akan mengerti gaya hidupnya. Bagi orang yang tidak berminat terhadap Kerajaan Surga, kebenaran standar yang diajarkan oleh Tuhan Yesus mengenai langit baru dan bumi yang baru dianggap sebagai sesuatu yang bersifat ekstrim atau berlebihan. Baginya yang standar adalah bagaimana memiliki sebanyak-banyaknya yang disediakan oleh dunia dan menikmatinya, seakan-akan dunia ini adalah satu-satunya kesempatan hidup dalam kesadaran untuk menikmati apa yang ada. Tentu saja filosofinya adalah: “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.1 Filosofi hidup seperti itu adalah filosofi hewan yang tidak memiliki pengharapan dunia lain. Tetapi pada kenyataannya banyak orang hidup seperti ini, termasuk sebagian orang Kristen. Tetapi mereka tidak menyadarinya sebab mereka merasa telah berurusan dengan Tuhan karena sudah pergi ke gereja, bahkan menjadi aktivis.

Hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia sangat luar biasa karena manusia diberi hak atau wewenang untuk memilih. Berbeda dengan hewan yang tidak memiliki resiko kehidupan yang tinggi seperti manusia. Manusia diperhadapkan kepada pilihan memperoleh Tuhan atau setan, kehidupan atau kebinasaan, kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Ini resiko yang sangat tinggi. Begitu seorang anak manusia mulai memiliki pikiran untuk mempertimbangkan sesuatu, maka kesempatan memilih sudah mulai berlangsung. Ibarat sebuah pacuan kuda, ketika letusan pistol sudah terdengar, kuda harus berlari untuk berpacu. Ia tidak boleh diam di tempat. Kita tidak boleh diam, kita harus terus melaju ke depan untuk menjadi anak Allah yang berkenan kepada-Nya. Ini harus menjadi satu-satunya pilihan kita.

Ketika Adam memilih mau menjadi seperti Allah,2 ia mengambil pilihan yang salah. Ia bertaruh untuk sesuatu yang mendatangkan kecelakaan bagi dirinya dan seluruh keturunannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Abraham ketika memilih Hagar -salah satu budaknya- untuk melahirkan keturunan bagi dirinya, hal itu mendatangkan bencana panjang bagi dirinya, keluarganya dan keturunannya. Berkenaan dengan hal ini, banyak orang tidak mempertimbangkan resiko, hasil atau akibat dari keputusan dan pilihannya di kemudian hari. Ini berarti hidup adalah sebuah pertaruhan (take a chance). Manusia harus berpikir sehat berdasarkan kebenaran untuk dapat mengambil pilihan yang terbaik menurut Tuhan. Dalam hal ini kalau seseorang tidak menggunakan nalar dengan baik untuk mengenal kehidupan yang Tuhan berikan melalui Firman-Nya maka manusia pasti salah dalam mengambil keputusan. Ia bertaruh untuk sesuatu yang akan mendatangkan kebinasaan atau kehinaan kekal, dimana manusia terpisah dari sumber kehidupan yaitu Allah semesta alam.

1) 1Korintus 15:32 ; 2) Kejadian 3

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.