13. CIRI-CIRI GEREJA YANG MENYIMPANGKAN PERSEMBAHAN UANG

Kita harus melihat ciri-ciri dari gereja yang pimpinan jemaatnya tidak mengelola uang persembahan dengan benar, dimana banyak kepentingan pribadi yang dilibatkan. Ciri-ciri tersebut antara lain:
Pertama,memberi penghargaan yang berlebihan kepada orang kaya. Tentu saja kepada orang yang memberi perpuluhan atau persembahan uang dalam jumlah besar, mereka mendapat perhatian dan keramahtamahan yang lebih dari yang lain. Biasanya orang-orang kaya tersebut juga cepat mendapat tempat atau posisi dalam pelayanan, melebihi orang lain. Memang hal ini belum tentu berarti salah, sebab memang tidak sedikit orang-orang kaya tersebut sangat berpotensi untuk mendukung pekerjaan Tuhan dalam banyak bidang, bukan hanya karena uangnya, tetapi potensinyayang lain. Tetapi kalau kepada semua orang kaya di dalam jemaat -maupun di luar jemaat- pendeta tersebut bersikap demikian, maka pasti ada sesuatu yang salah dalam hidup pendeta itu.

Kedua, dalam pemberitaan Firman selalu menekankan persembahan; seperti perpuluhan, persembahan buah sulung dan lain sebagainya. Dalam isi khotbahnya tidak terlepas dari masalah uang. Biasanya khotbah-khotbahnya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani atau yang dikenal sebagai “teologi kemakmuran”. Khotbahnya juga memuat janji-janji berkat, bagi yang memberi persembahan, maka Tuhan akan melipatgandakan uang atau harta yang jemaat akan peroleh. Tidak jarang pula disertai ancaman hukuman atau kutukan-kutukan terhadap merekayang tidak memberi perpuluhan. Biasanya gereja seperti ini juga mengajarkan pelepasan kutuk-kutuk kemiskinan, kebangkrutan dan sejenisnya yang orientasinya pada berkat jasmani. Tentu saja gereja seperti ini lebih memopulerkan Doa Yabes daripada Doa Bapa Kami.

Ketiga, menginvestasikan uang gereja untuk bisnis atas nama pimpinan jemaat atau keluarganya, sehingga uang persembahan tidak berdaya guna secara efektif untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Anak-anak atau keluarga pendeta menjadi kaya, naik mobil mewah dan memiliki bisnis yang sebenarnya dari uang jemaat. Tanpa disadari pendeta atau pemimpin jemaat tersebut merusak keluarganya sendiri dan mendatangkan kutuk atas mereka. Harus ditegaskan bahwa uang gereja tidak boleh diinvestasikan untuk bisnis. Uang Tuhan harus digunakan untuk pekerjaan Tuhan. Mengembangkan uang dalam bisnis tidak boleh menggunakan uang Tuhan di gereja, tetapi uang Tuhan di masing-masing jemaat.

Keempat, lebih cenderung menyimpan uang gereja dalam deposito dan sejenisnya daripada segera menginvestasikan untuk proyek-proyek pelayanan. Tentu hal ini dilakukan atau diusahakan secara tersembunyi dari mata jemaat. Tetapi bagaimanapun, praktik tersebut tidak dapat disembunyikan. Pegawai bank dapat melihat deposito dan tabungan pendeta-pendeta tersebut di bank-bank mereka. Lebih lagi nanti, di penghakiman akhir, semua itu akan ditelanjangi. Oleh sebab itu seorang pemimpin jemaat harus menemukan visi dari Tuhan untuk menggunakan uang Tuhan atau menyerap uang Tuhan guna proyek-proyek rohani sesuai dengan rencana dan kehendak Bapa.

Kelima, tidak memberikan kesejahteraan yang pantas untuk pelayan-pelayan jemaat dan pegawainya. Tidak sedikit pendeta dan keluarganya bermewah-mewah, tetapi pelayan-pelayan Tuhan yang lain hidup dalam kekurangan. Keluarga pendeta naik mobil, tetapi hamba Tuhan yang lain -yang sudah mengabdi lama- hanya naik sepeda motor. Seharusnya gereja berani menyediakan mobil dan rumah bagi pendeta yang membantu pelayanan setelah sekian tahun ikut melayani bersama. Dan menjadi milik mereka, bukan milik gereja.

Keenam,pimpinan jemaat membuat produk-produk pengajaran yang bertentangan dengan Alkitab hanya demi popularitas dan visi-visi yang diakui sebagai diperoleh dari Tuhan. Untuk mempertahankan eksistensinya sebagai gembala jemaat atau pimpinan jemaat, ia harus dapat memproduksi pengajaran-pengajaran baru dan visi-visi yang diakuinya dari Tuhan. Secara terselubung atau terang-terangan ia harus menampilkan diri sebagai “orang terkemuka” yang pantas dihormati dan dipercaya. Dengan menjadi orang terhormat dan dapat dipercayai jemaat, makaia dapat memperoleh banyak keuntungan; termasuk keuntungan materi. Banyak di antara mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka berkeadaan demikian. Kalau tidak sungguh-sungguh mengoreksi diri, maka sampai menghadap Tuhan mereka masih berkeadaan tidak layak di hadapan-Nya.

Ketujuh, lebih senang membangun gedung-gedung besar daripada membagi uang Tuhan untuk pelayanan pekerjaan Tuhan secara merata; khususnya untuk pelayanan di daerah-daerah. Mereka lebih bangga dengan proyek pembangunan gedung-gedung besar hanya untuk mercusuar bagi kemuliaan dirinya sendiri. Bagi mereka, besarnya gedung gereja adalah prestise bagi dirinya dan gereja yang dipimpinnya. Karena begitu banyaknya uang yang dimiliki gereja, maka besar godaan untuk membangun “monumen” bagi dirinya sendiri.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.