13. BERDASARKAN PANGGILAN-NYA

Kesalahan yang terjadi dalam berteologi terkait dengan pengajaran pemilihan ini adalah menyejajarkan atau menganalogikan pemilihan atas Bangsa Israel dengan pemilihan atas individu. Dalam Kitab Roma Paulus hendak menentang mereka yang mencari pembenaran berdasarkan perbuatan, seperti orang-orang Yahudi yang bangga dengan hukum tauratnya. Pemilihan atas Bangsa Israel sebagai umat Allah hanya didasarkan pada kedaulatan Allah, bukan karena perbuatan atau faktor lainnya dari pihak Bangsa Israel atau nenek moyang mereka. Pemilihan Bangsa Israel sebagai umat pilihan berangkat atau dimulai dari pilihan Allah atas Yakub, nenek moyang Bangsa Israel. Karena Allah menghendaki demikian. Tentu yang dilakukan oleh Allah didasarkan pada kebijaksanaan Allah atau tatanan yang ada pada diri Allah, Maha Bijaksana dan Mahacerdas. Kebijaksanaan dan tatanan tersebut pasti sudah sangat permanen ada di dalam diri Allah dari kekal sampai kekal.

Tulisan Paulus dalam surat Roma mengenai pemilihan Bangsa Israel berdasarkan kedaulatan Allah tersebut, dimaksudkan agar mereka tidak menjadi congkak karena keberadaan mereka sebagai umat pilihan Allah, bangsa Yahudi. Agar mereka tidak sombong dan merasa sebagai orang-orang yang memiliki Taurat dan dengan tekun melakukan Taurat tersebut serta menganggap bahwa semua itu sudah cukup melayakkan mereka menjadi umat terpilih selamanya atau secara permanen. Abraham sendiri dipilih Allah juga bukan berdasarkan perbuatan, tetapi karena kasih karunia Allah (Rm. 4:1-13). Tetapi apakah Abraham menuruti panggilan tersebut atau tidak, hal ini tergantung sikap dan respon Abraham terhadap panggilan tersebut. Panggilan Allah atas Abraham tidak hanya menyangkut Allah atas Bangsa Israel sebagai umat pilihan, tetapi menyangkut berkat Allah yang akan diberikan kepada semua bangsa di dunia ini (Kej. 12:1-3).

Demikian pula pada waktu Allah menunjuk Yakub menjadi nenek moyang Mesias. Allah memilih dan menentukan berdasarkan kedaulatan-Nya. Paulus menjelaskan dengan tulisan dalam Roma 9:11-13 sebagai berikut: “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, — supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya — dikatakan kepada Ribka: “Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,” seperti ada tertulis: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Dengan tulisannya tersebut Paulus membungkam kecongkakan orang-orang Yahudi yang berusaha membenarkan pemahaman mereka“dibenarkan karena perbuatan” (berdasarkan Taurat). Firman Tuhan menunjukkan bahwa ketika Esau dan Yakub masih ada dalam kandungan, belum mengerti dan melakukan apa yang baik atau jahat, Tuhan sudah menunjuk Yakub sebagai orang yang terpanggil untuk penerima berkat perjanjian.

Sangatlah jelas bahwa rencana Allah tentang pemilihan-Nya bukan berdasarkan perbuatan tetapi berdasarkan panggilan-Nya. Pemilihan Allah atas Yakub atau Bangsa Israel bukan karena perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan. Dalam hal ini Allah dalam kedaulatan yang tidak didominasi dan disubordinasi oleh siapa pun, bebas melakukan suatu pilihan dan penetapan-Nya untuk memanggil seseorang menjadi umat-Nya. Kalimat “– supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” harus dicermati. Yakub yang menjadi nenek moyang Bangsa Israel dipilih bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya. Kalimat “berdasarkan penggilan-Nya” sangat penting untuk dipahami maksudnya. Tidak ditulis berdasarkan “kedaulatan Allah,” tetapi berdasarkan “panggilan-Nya.” Pilihan atas Bangsa Israel sebagai umat yang menerima panggilan memang terjadi berdasarkan kedaulatan Allah, tetapi apakah mereka tetap menjadi umat pilihan atau tidak tergantung masing-masing individu bangsa tersebut, bukan berdasarkan kedaulatan Allah. Jadi, setelah Allah memilih Yakub sebagai nenek moyang Israel, selanjutnya bagaimana sikap Yakub atau Bangsa Israel merespon pilihan Allah menentukan apakah mereka tetap menjadi umat pilihan dan masuk dalam rencana-Nya, tergantung kepada masing-masing individu bangsa tersebut.

Israel dipilih bukan karena kebaikan bangsa tersebut, tetapi karena Allah yang menentukan untuk memanggil bangsa tersebut guna menjadi umat pilihan-Nya tanpa memperhitungkan dan mempertimbangkan keadaan bangsa tersebut. Hal ini dimulai dari pemilihan Yakub, nenek moyang bangsa tersebut. Menjadi umat pilihan di sini bukan berarti rencana Allah atas setiap individu pasti terpenuhi, sebab hal ini tergantung kepada masing-masing individu. Seperti kisah perjalanan Bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, ternyata tidak semua mereka yang keluar dari Mesir sampai ke tanah Kanaan. Demikian pula tidak semua orang Israel adalah Israel sejati atau akhirnya menjadi umat pilihan Allah yang kekal masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Hal tersebut tergantung respon masing-masing individu terhadap karya salib Kristus. Dengan demikian pemilihan Yakub tidak ada kaitannya dengan penentuan Tuhan atas individu sebagai orang percaya yang diperkenan masuk surga.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.