12. TERBEBAS DARI KODRAT DOSA

Dalam Roma 7:26 Paulus memberikan kesaksian: Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Pernyataan Paulus ini -dalam terjemahan Bahasa Indonesia- memberi kesan yang sangat kuat, seakan-akan Paulus memiliki hidup dalam dualisme; satu pihak dengan akal budinya Paulus melayani hukum Allah, tetapi di pihak lain dengan tubuh insaninya melayani hukum dosa. Dengan kesan tersebut, seakan-akan secara akal pikiran Paulus menyetujui hukum Allah, atau hidup dalam kesucian Allah, tetapi di pihak lain Paulus juga menyetujui untuk hidup dalam dosa, atau masih hidup dalam dosa, karena menuruti keinginan dosa dalam dagingnya. Dalam hal ini, seakan-akan karakter Paulus buruk.

Dalam pernyataannya tersebut, di dalam terjemahan Bahasa Indonesia Paulus menyatakan bahwa dirinya “melayani hukum dosa”. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Paulus, sebab Paulus dalam kesaksiannya menyatakan: bahwa sebelum mengenal Tuhan Yesus, ia sendiri adalah seorang yang tidak bercacat dalam melakukan hukum Taurat (Flp. 3:6). Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah mengenal hidup dalam perhambaan kepada dosa atau melayani hukum dosa, justru yang dirasakan oleh Paulus adalah sebaliknya, sebelum mengenal Tuhan Yesus, yaitu ketika hidup dalam keberagamaan Yahudi ia merasa tidak bercacat yang sama dengan tidak berdosa (Flp. 3:6). Perlu ditambahkan di sini bahwa yang dipahami oleh Paulus mengenai dosa -sebelum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus- adalah pelanggaran terhadap hukum Taurat. Mengenai hal itu ia menyaksikan bahwa dirinya tidak bercacat. Sangatlah tidak mungkin ia memiliki pernyataan bahwa dirinya diperhamba oleh dosa atau menghambakan diri kepada dosa.

Paulus seperti banyak orang saleh lain yang merindukan hidup dalam kesucian standar Allah dan ingin selalu menyenangkan hati Allah. Itulah sebabnya ia ingin segera menanggalkan tubuh yang membelenggu dirinya. Paulus menyebut tubuhnya adalah tubuh maut, artinya tubuh yang bisa mati. Seakan-akan Paulus hendak mengatakan, jangan karena tubuh yang akan mati ini, dirinya dibawa ke neraka kekal. Itulah sebabnya, ia berkata bahwa lebih baik kalau ia menanggalkan tubuh fananya dan menetap dengan Tuhan, sebab ia merasa tertekan dengan tubuh fana yang dikenakan. Kalau menetap dengan Tuhan maka tidak ada tekanan lagi atau bisa juga berarti supaya tidak tergoda berbuat kesalahan lagi (2Kor. 5:2-4).

Dari tulisan Paulus ini didapati pelajaran mahal, bahwa Allah tidak mencabut dengan mudah kodrat dosa di dalam diri orang percaya. Allah masih membiarkan kodrat dosa ada di dalam tubuh orang percaya. Orang percaya yang harus mengalahkan. Hal ini bisa terjadi kalau orang percaya tersebut menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah dengan sungguh-sungguh.

Orang percaya dipanggil untuk menundukkan kodrat dosa
di dalam dirinya dan mengenakan kodrat Ilahi.

Inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam Filipi 2:12 sebagai mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa anugerah atau kasih karunia yang diterima oleh orang percaya harus dengan tanggungjawab. Bukan secara otomatis dapat mengubah kehidupan dan membuiat seseoranag mengalami keselamatan.

Orang percaya dipanggil untuk berjuang menaklukkan segenap hidupnya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Paulus beryukur kepada Tuhan Yesus, sebab oleh fasilitas keselamatan yang disediakan-Nyamembuat ia mampu mencapai kesucian Allah dengan menaklukkan diri kepada-Nya. Itulah yang dimaksud kemenangan yang sejati, yaitu menaklukkan kodrat dosa di dalam kehidupan orang percaya. Seperti Tuhan Yesus sudah menang, maka orang percaya juga bisa dan harus menang. Kemenangan orang percaya tidak diperoleh secara gratis dan otomatis, tetapi harus diperjuangkan berdasarkan kasih karunia yang Allah sediakan dalam Yesus Kristus.

Seseorang tidak dapat dikatakan sebagai pemenang sebelum menundukkan
kodrat dosanya dan mengenakan kodrat Ilahi.

Allah memberikan kusa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:11), artinya bahwa Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk dapat menaklukkan kodrat dosa di dalam dirinya, dan membangun kodrat Ilahi di dalam dirinya. Kuasa itu adalah penebusan, Roh Kudus, Injil dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa kehidupan. Kalau orang percaya tidak memanfaatkan fasilitas keselamatan -yaitu kuasa yang diberikan- maka keselamatan menjadi sia-sia. Dari prestasi inilah akhirnya seseorang memperoleh apa yang patut diterimanya ketika menghadap takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10). Kalau penaklukkan terhadap kodrat dosa dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis, maka tidak perlu ada pengadilan di hadapan takhta Kristus. Juga tidak akan ada upah dalam Kerajaan Surga nanti.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.