12 September 2014: Percaya Tanpa Melihat

Kita harus mengerti bahwa bahwa untuk mengalami Tuhan kita tidak harus memiliki karunia khusus, sebab setiap manusia memiliki anugerah yang sama untuk mengalami Tuhan. Tuhan tidak memandang muka (1Ptr. 1:17). Kita tidak boleh tertipu dengan suara yang berkata, bahwa hanya orang-orang tertentu yang diperlakukan khusus Tuhan. Setiap anak Tuhan mendapat perlakuan yang sama. Tidak sedikit orang Kristen yang merasa bahwa ia tidak memiliki karunia khusus, ia tidak mendapat perlakuan khusus Tuhan. Dalam hal ini kita harus percaya bahwa setiap kita harus merasa berharga di mata Tuhan. Jika ada suara seolah-olah saudara tidak berharga di mata Tuhan, itu suara setan.

Dewasa ini telah dikesankan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki “nilai khusus” atau tempat khusus di mata Tuhan sehingga mereka boleh mengalami Tuhan secara khusus pula sedangkan yang lain tidak. Kesan tersebut berdampak melemahkan gairah untuk jemaat mengalami Tuhan secara pribadi. Kemudian menuduh Tuhan sebagai pribadi yang diskriminatif atau pilih kasih dan berlaku tidak adil. Pada hal Tuhan tidak diskriminasi. Selanjutnya timbul kesan bahwa terdapat praktik mengkotak-kotakan orang percaya. Seolah-olah dalam kekristenan ada golongan-golongan atau kasta-kasta. Pendeta dan aktivis jemaat termasuk golongan “Brahmana”. Jemaat yang kaya golongan Ksatria dan yang miskin Sudra. Ini penyesatan yang membodohi banyak orang Kristen dewasa ini.

Atmosfir gereja seperti ini akan membangkitkan kesombongan orang-orang tertentu yang memiliki pengalaman ajaib dan luar biasa. Mereka dianggap sebagai orang Kristen yang hebat dan memiliki kebahagiaan lebih dari orang Kristen yang tidak memiliki pengalaman seperti mereka. Pada hal Tuhan berkata orang yang tidak melihat pun boleh percaya dan berbahagia. Justru kalau membutuhkan bantuan visual jasmani, hal ini menunjukkan kemiskinan iman seseorang. Ibarat fisik manusia, ini adalah fisik yang cacat sehingga perlu tongkat atau alat penopang lainnya. Kalau pengalaman dengan Tuhan harus spektakuler maka ada kecenderungan menyaksikan pengalaman yang palsu atau tidak apa adanya. Kenyataannya memang banyak unsur subyektifnya dalam kesaksian, bahkan begitu mudah menipu orang lain dalam gereja. Ternyata semua yang disaksikan baik secara tertulis mau pun lisan sebenarnya hanyalah fantasi atau imajiner untuk mengangkat harkat dan harga dirinya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.