12. PERTOBATAN DALAM KEKRISTENAN

Dalam teks bahasa Yunani untuk kata bertobat ditemukan dua kata, yaitu metamelomai dan metanoia. Metamelomai berarti menyesali diri (to regret atau to repent oneself). Kata inilah yang digunakan oleh Paulus dalam 2 Korintus 7:8, yang diterjemahkan menyesal dalam Bahasa Indonesia, tetapi dalam King James diterjemahkan repent. Kata ini sejajar dengan kata naham dalam teks Ibrani. Kata ini sebenarnya lebih dekat diterjemahkan menyesal. Seorang yang menyesal belum tentu bertobat, kata menyesal lebih bersifat umum. Pertobatan lebih menunjukkan perubahan pikiran, yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia. Kata ini terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya “berubah” (change) dan nous yang artinya “pikiran” (mind). Metanoia berarti perubahan pikiran. Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran. Kata metanoia lebih sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan yang sejati. Kata ini sejajar dengan kata shub dalam teks Ibrani. Kata inilah yang digunakan beberapa kali oleh Yohanes Pembaptis dan juga digunakan oleh Tuhan Yesus. Pertobatan Kristiani lebih menekankan perubahan pikiran daripada berorientasi pada perbuatan fisik yang kelihatan. Namun, sangatlah jelas, kalau pola berpikir seseorang berubah, maka perbuatannya dan seluruh gaya hidupnya pun juga berubah.

Adalah hal yang sangat penting untuk bisa membedakan pertobatan menurut Perjanjian Baru, yaitu untuk orang percaya pada zaman anugerah (zaman Tuhan Yesus), dengan pertobatan menurut Perjanjian Lama untuk bangsa Israel, yang juga dipahami oleh agama samawi lainnya. Bagi orang Israel di Perjanjian Lama, pertobatan pada umumnya menyangkut dua aspek, antara lain: Pertama, perubahan tingkah laku atau perbuatan. Kehidupan umat yang meninggalkan Taurat, hidup dalam tingkah laku yang tidak menuruti hukum Taurat harus kembali kepada kehidupan sesuai dengan hukum Taurat. Pertobatan ini adalah pertobatan moral. Pertobatan seperti ini juga dimiliki oleh agama-agama pada umumnya.

Kedua, kesediaan meninggalkan praktik sinkretisme (mencampurkan atau menggabungkan beberapa agama atau keyakinan). Kehidupan umat yang meninggalkan ibadah kepada Yahweh, kembali beribadah kepada Yahweh. Pada zaman dahulu bangsa Israel sering tergoda menyembah kepada allah-allah yang disembah bangsa-bangsa kafir, seperti Baal, Dagon, Asyera, Asitoret, Milkom, Molokh, dan banyak dewa lain. Pertobatan di dalam Perjanjian Lama berarti meninggalkan penyembahan kepada dewa-dewa tersebut, kemudian kembali melakukan ibadah kepada Yahweh di kemah suci atau di bait Allah.

Pertobatan dalam Kekristenan adalah perubahan yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, tetapi juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh (ekstensif). Pemahaman hidup itu antara lain: Siapa Allah; siapa manusia; bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidup; manusia akan mati dan menyongsong kehidupan di balik kubur; manusia harus menghadap takhta pengadilan Allah; manusia harus menjadi seperti yang Sang Khalik kehendaki; dan lain sebagainya.

Kesadaran moral memang akan membangkitkan penghargaan pada nilai-nilai etika dan mengubah perilaku. Tetapi, kesadaran atau pemahaman tentang kebenaran akan membangkitkan penghargaan kepada nilai-nilai spiritual dan kenyataan kekekalan. Kesadaran atau pemahaman terhadap kebenaran inilah yang membangkitkan pertobatan yang sejati, pertobatan yang benar atau yang ideal di hadapan Tuhan. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, tetapi juga seluruh filosofi hidupnya. Sehingga seluruh gaya hidupnya pun akan berubah dan semakin radikal sampai menjadi sempurna seperti yang Allah kehendaki.

Orang percaya harus selalu merasa miskin di hadapan Allah, artinya kesadaran bahwa dirinya belum berkeadaan seperti target yang harus dicapai sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah (Mat. 5:3). Dengan demikian seseorang harus selalu memperbaharui pikirannya supaya semakin mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah. Pembaharuan pikiran dalam teks aslinya adalah metanoia. Inilah yang dimaksud dengan pertobatan itu. Seiring dengan pembaharuan pikiran, orang percaya mengalami pertumbuhan dalam pengenalan akan Allah sehingga lebih mengerti kehendak Allah. Hal ini tidak berlangsung hanya satu kali, tetapi harus terus terjadi atau berlangsung setiap hari. Dengan demikian perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan dari pertobatan ke pertobatan (metanoia) demi menuju kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.