12. PERLOMBAAN YANG DIWAJIBKAN

KETIKA BAPA BERKATA bahwa Tuhan Yesus adalah Anak yang berkenan,1 Tuhan Yesus belum menjadi pemenang. Ia memang berkenan atau menyenangkan hati Bapa karena rela meninggalkan kemuliaan, tetapi Ia belum sampai pada kesempurnaan dalam menunaikan tugas Bapa. Demi tugas dari Bapa, Ia menganggap kemuliaan yang dimiliki-Nya tidak berharga dibanding dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga. Ia meninggalkan kemuliaan yang telah dimiliki-Nya sebelum dunia dijadikan dengan mengosongkan diri dan dalam segala hal disamakan dengan manusia. Setelah usia 30 tahun, Ia bersedia merendahkan diri disamakan dengan orang berdosa kemudian dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.2 Itulah sebabnya Ia memperoleh pengakuan bahwa diri-Nya adalah Anak yang berkenan. Tetapi pernyataan dari Bapa tersebut barulah awal sebuah perjuangan panjang dalam tugas penyelamatan manusia. Walaupun Ia sudah memiliki predikat berkenan di hadapan Bapa, tetapi Bapa belum menyerahkan kemuliaan kepada-Nya. Ia harus terlebih dahulu lulus dalam menyelesaikan tugas penyelamatan dan menang atas kuasa kegelapan dengan menjadi corpus delicti. Setelah Ia menang, maka segala kuasa di surga dan di bumi diserahkan ke dalam tangan-Nya. Kemuliaan yang dimiliki-Nya sebelum dunia dijadikan dikembalikan kepada-Nya, dan Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa.

Puncak perjuangan-Nya adalah ketika Ia disiksa, dihina dan dipermalukan di depan umum, tetapi Ia tetap tekun menanggung bantahan atau perlawanan atau pemberontakan dari manusia yang sebenarnya adalah ciptaan dan milik-Nya.3 Ia Anak Tunggal Allah Bapa yang berkenan, tetapi kalau Ia tidak menjadi pemenang, Ia akan terpisah dari Bapa di surga. Itulah sebabnya dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Hanya karena kesalehan-Nya-lah Ia diselamatkan dari maut.4 Maut di sini bukan hanya kematian fisik tetapi keterpisahan dari Allah selamanya. Jika Tuhan Yesus tidak taat kepada Bapa dan tidak menghormati Bapa, maka Ia dapat terpisah dari Allah Bapa selama-lamanya. Jadi, untuk menerima kembali kemuliaan yang sebelumnya Ia peroleh dari Bapa, Ia harus menjadi Anak Manusia yang lulus dari penderitaan.5 Dengan kemenangan-Nya, Tuhan Yesus diperkenan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, menerima kuasa pemerintahan seperti sebelum dunia dijadikan. Dalam pernyataan-Nya yang penting Ia berkata: “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya”.6 Demikian pula orang percaya, kalau tidak memiliki ketaatan yang benar seperti Tuhan Yesus maka ia tidak layak dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Perlombaan untuk menjadi anak Allah yang sah harus dapat kita mengerti dan terima dengan segenap hati, kalau kita mendalami seluruh ayat dalam Ibrani 12. Perjuangan ini harus menjadi satu-satunya perjuangan atau seperti perlombaan yang diwajibkan. Dalam Ibrani 12 ini terdapat kebenaran penting berkenaan dengan hal ini, bahwa kita harus memandang kepada Tuhan Yesus artinya meneladani ketekunan-Nya untuk menjadi pemenang.7 Dialah satu-satunya model Anak Allah yang harus kita teladani. Diwajibkan artinya tidak bisa tidak, kita harus mengikutinya. Untuk menjadikan ini wajib bagi kita, kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai wajib. Dengan demikian hanya satu yang mutlak harus kita capai yaitu menjadi anak-anak Allah. Semua hal yang kita lakukan haruslah bermuara pada perlombaan tersebut. Hanya dengan cara ini kita memuliakan Tuhan, yaitu ketika kita menganggap dan memperlakukan Tuhan sebagai berharga.8 Hal inilah yang dilakukan oleh Abraham di seluruh perjalanan hidupnya, ia hanya memenuhi panggilan menemukan negeri yang Allah janjikan. Inilah satu-satunya perlombaan yang diikuti.

1) Matius 3:17 ; 2) Matius 3 ; 3) Ibrani 12:2-3 ; 4) Ibrani 5:7 ; 5) Ibrani 5:7-9 ; 6) Wahyu 3:21 ; 7) Ibrani 12:2-3 ; 8) 1Korintus 10:31

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.