12. PENGAMPUNAN BERSYARAT

BAGAIMANA ALAM berpikir saudara? Apakah kita memiliki alam berpikir sebagai manusia yang hanya mau menyukakan diri sendiri atau menjadi manusia yang masuk sekolah kehidupan untuk meraih hasil yang akan dapat dinikmati dalam kekekalan nanti? Firman Tuhan menyatakan bahwa hendaknya kita tidak sesat, Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barang siapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barang siapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.1 Menabur dalam roh artinya hidup menurut kehendak Bapa. Hidup menabur dalam roh adalah tanggung jawab setiap anak-anak Allah. Tanggung jawab yang harus ditunaikan seakan-akan hutang yang harus dibayar.2 Untuk ini yang terpenting dalam kehidupan adalah bagaimana mengubah alam berpikir. Dari alam berpikir anak dunia yaitu hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri, menjadi orang yang hidup dengan alam berpikir sebagai anak-anak Allah, hidup menurut keinginan Bapa. Perubahan ini tidak bisa terjadi dengan mudah dan cepat. Perubahan ini tidak pernah terjadi melalui mukjizat, tetapi perjuangan masing-masing individu untuk merubah dirinya sendiri. Dalam hal ini Tuhan tidak berintervensi, sebab mengasihi Tuhan harus digerakkan dan dikobarkan oleh diri sendiri setiap individu.

Pertanyaan yang harus selalu diperkarakan dengan diri sendiri adalah apakah aku dalam keadaan yang berkenan di hadapan Tuhan? Pada umumnya akan dijawab “belum”. Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah hanya berhenti sampai jawaban “belum” itu. Banyak orang berhenti di jawaban “belum”, dengan pemikiran bahwa itu suatu proses. Dan mereka merasa masih tenang sebab mereka berpikir bahwa mereka tidak bermaksud mau mengkhianati Tuhan. Mereka berharap suatu hari nanti bisa berkenan kepada-Nya. Mereka berpikir bahwa itu hanya masalah waktu saja. Tuhan juga memakluminya. Sikap ini sebenarnya sikap yang keliru. Seharusnya yang dilakukan adalah mohon pengampunan Tuhan. Pengampunan yang diberikan Allah Bapa akan menempatkan seseorang berkenan kepada-Nya secara bersyarat, artinya bahwa sekarang ia ada dalam posisi yang berkenan karena darah Yesus yang menudungi, tetapi selanjutnya ia harus belajar tidak mengulangi kesalahan yang sudah dilakukan dan harus bertumbuh menjadi pribadi seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Pergumulan ini akan terus berlangsung dan berulang-ulang terjadi dalam kehidupan anak Tuhan yang normal. Seseorang tidak perlu merasa bersalah kalau harus mengalami pergumulan ini secara terus menerus. Tetapi di lain pihak ia harus serius memiliki tindakan nyata untuk bisa mencapai taraf yang lebih tinggi dalam keberkenanan di hadapan Tuhan. Harus ada target yang harus dicapai, harus ada “time table”. Untuk ini seseorang harus benar-benar memiliki antusias yang bergelora tanpa batas. Untuk yang lain tidak perlu ambisius, tetapi untuk hal ini harus all out. Sampai gelora itu menjadi permanen sehingga tidak ada lagi yang lain yang diingini di bumi.

Dari pergumulan di atas, seseorang akan mengerti kemajuan hidup kekristenannya. Ia bisa mengerti sampai dimana taraf hidup kekristenan yang sedang dijalaninya. Memang ia akan selalu berkata “aku belum berkenan kepada Allah Bapa, tetapi aku sudah menjadi lebih baik dari kemarin dan ke depan aku harus menjadi lebih baik sampai aku berkenan kepada Bapa seperti Tuhan Yesus”. Sikap seperti ini adalah sikap yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai “miskin di hadapan Tuhan”.3 Pergumulan ini bersifat sangat pribadi, tidak ada orang yang bisa memahaminya, tetapi ia sendiri bisa memahaminya secara utuh. Dalam hal ini kekristenan bukan lagi menjadi misteri seperti ada di ruangan gelap gulita. Seseorang sadar sepenuhnya dan mengerti apakah dirinya bisa dinikmati oleh Tuhan atau tidak. Hal ini sama dengan bahwa seseorang mengerti apakah ia akan diterima di kemah abadi atau ditolak. Keselamatan abadi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan menjadi kepastian, bukan spekulatif.4

1) Galatia 6:7-8 ; 2) Roma 8:12 ; 3)Matius 5:3 ; 4) 2Petrus 1:3-11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.