12 Oktober 2014: Menjadi Sekutu Tuhan

Menyerahkan hati kepada Tuhan harus dilakukan dengan pengertian, maksudnya orang percaya harus mengerti dengan benar mengapa harus menyerahkan hati kepada Tuhan. Tuhan menghendaki agar orang percaya bisa bersekutu dengan Tuhan. Bersekutu dengan Tuhan artinya menjadi satu dengan Tuhan dalam kebersamaan di segala aspek, dalam pikiran, perasaan dan kehendak. Menjadi sukacita di hati Tuhan, kalau di bumi yang jahat ini masih ditemukan orang-orang yang bisa diajak sepikiran dan seperasaan serta sepenanggungan dengan Tuhan atau bersedia dengan rela diajak sebagai sekutu-Nya. Paulus adalah sosok manusia yang memiliki kriteria seperti ini. Dalam tulisannya ia berkata: Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Flp. 3:10). Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan orang-orang besar seperti Musa yang rela meninggalkan istananya demi kepentingan bangsanya, Daud yang mempertaruhkan nyawa dan masa depannya demi kebesaran nama Yahwe, Ester bersama pamannya Mordekhai mempertaruhkan hidup mereka demi keselamatan bangsanya, Nehemia mempertaruhkan jabatan dan nyawanya demi membangun kota Yerusalem yang runtuh. Dalam Perjanjian Baru, Maria gadis belia yang berani menyerahkan segenap hidupnya demi proyek keselamatan dunia.  Walau Tuhan sebenarnya juga tidak memerlukan siapa pun dan apa pun, tetapi kalau ada orang dengan kerelaan berusaha untuk menyerahkan hati kepada Tuhan, hal itu menjadi kenikmatan Tuhan. Hidup orang-orang seperti ini bisa menyenangkan dan memuaskan hati Tuhan. Di setiap jaman selalu ada orang-orang yang diajak Tuhan untuk bisa berpikir dan berperasaan seperti Tuhan. Mereka dipercayai oleh Tuhan untuk bisa menjadi sahabat yang bergaul dengan Tuhan. Pada jaman Nuh, Nuh lah yang ditunjuk Tuhan menjadi sahabat atau teman sekutu-Nya. Tuhan tidak mempercayakan pekerjaan penyelamatan dunia waktu itu kepada orang lain. Musa dijadikan Tuhan sebagai sekutu-Nya untuk melepaskan bangsa Israel. Pernahkah kita berpikir, mengapa bukan kita yang menyediakan diri untuk ini? Bukankah kita juga memiliki hak sama untuk menjadi sekutu Tuhan? Hendaknya kita tidak berpikir bahwa Tuhan tidak menunjuk kita. Sebenarnya Tuhan mencari orang-orang yang menyediakan diri untuk menjadi sekutu-Nya; siapa pun dia, termasuk kita.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.