12 November 2014: Tidak Melukai Hati Tuhan

Yusuf anak Yakub adalah sosok pria sejati yang patut dikagumi. Salah satu pernyataan Yusuf yang luar biasa yang patut kita renungkan terdapat dalam Kejadian 39:9 “…Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Dari perkataan Yusuf ini dapat kita peroleh pelajaran yang sangat berguna bahwa segala sesuatu harus diperkarakan dengan Tuhan. Inilah prinsip hidup Yusuf. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan bukan masalah untung atau rugi, bukan masalah dengan siapa kita berurusan, dengan istri, anak, orangtua, teman atau dengan siapapun, bukan masalah apakah keputusan kita menyenangkan orang atau tidak, tetapi bagaimana perasaan Tuhan atas tindakan yang kita lakukan. Dalam memperkarakan segala hal yang kita lakukan dengan Tuhan, dimaksudkan agar kita menjaga perasaan Tuhan. Kita tidak ingin melukai hati Tuhan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh hampir semua orang, juga kehidupan kita sebelum mengalami pencerahan dari Tuhan. Orang lebih menjaga perasaan sendiri dari perasaan Tuhan yang tidak kelihatan. Ditambah pula, orang merasa aman saja ketika bertindak sembarangan, maka mereka semakin hidup sembarangan tanpa memedulikan perasaan Tuhan.

Dengan memperkarakan segala hal dengan Tuhan kita dapat menghormati Tuhan, mencari perkenanan Tuhan, mengakui kedaulatan dan pemerintahan Tuhan yang sedang berlaku, memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup (berperasaan, berpikir dan berkehendak); tidak menganggap Tuhan sebagai oknum yang mati, menghadirkan Tuhan sehingga dapat mengalami Tuhan secara nyata. Inilah sikap-sikap yang pantas yang harus dimiliki orang percaya terhadap Tuhan.

Prinsip hidup Yusuf membuat ia memiliki integritas yang luar biasa. Walau pun dari hari ke hari, ia dibujuk untuk berbuat dosa tetapi ia tetap pada pendiriannya yaitu tidak berbuat dosa kepada Tuhan (Kej. 39:9-10). Dalam fragmen tersebut dikisahkan, pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorang pun tidak ada di rumah. Lagi pula memang Yusuf memiliki kuasa untuk masuk ke dalam kamar pribadi Potifar. Situasi rumah Potifar membuka peluang sebesar-besarnya bagi Yusuf untuk berbuat dosa, tetapi ia tidak memanfaatkan kesempatan tersebut. Integritas seseorang teruji ketika ia mendapat kesempatan berbuat dosa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.