12. MUKJIZAT DAN TANGGUNG JAWAB

Sudah saatnya orang percaya berpikir cerdas dan dewasa, khususnya terkait dengan masalah mukjizat. Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah selalu mau menyelesaikan segala sesuatu dengan mukjizat. Sekilas hal ini tidak ada salahnya, apalagi biasanya permohonan untuk menyelesaikan segala masalah tersebut melalui doa. Tetapi sebenarnya hal ini dapat merusak hukum dalam kehidupan, yaitu hukum tabur tuai. Memang bagi orang kafir yang belum mengerti kebenaran dan tidak memahami arti hukum tabur tuai, mereka lebih mudah mengalami mukjizat. Hal ini disebabkan beberapa faktor: Pertama, karena mereka belum mengerti kebenaran. Maka mereka tidak dituntut bertanggung jawab atas apa yang mereka tidak tahu. Seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan: “Kepada yang diberi banyak dituntut banyak tetapi bagi yang diberi sedikit dituntut sedikit.” Kedua, karena mereka memerlukan tanda untuk mengenal atau memahami bahwa ada Allah yang hidup. Mukjizat dapat menjadi jendela mengenal adanya Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.

Setelah seseorang menjadi orang Kristen, maka seharusnya ia tidak mengharapkan mukjizat untuk menyelesaikan segala persoalan hidup dan segala kesukaran yang dihadapi. Orang percaya yang dewasa menghadapi kesukaran hidup dengan pengertian bahwa masalah-masalah hidup dengan segala kesukarannya sesungguhnya merupakan berkat. Jika kita menghadapi kesukaran menyelesaikan dengan tanggung jawab tanpa mengharapkan mukjizat Tuhan, maka kesukaran hidup menjadi berkat abadi. Misalnya kalau seseorang menghadapi kesulitan dalam bisnis, bisa saja memohon mukjizat Tuhan sehingga bisnisnya mendapat jalan keluar dengan gampang dan memperoleh kemudahan untuk mengalami kemajuan. Tetapi kalau kesukaran tersebut dihadapi dengan kerja keras, maka kesukaran tersebut menjadi berkat, yaitu membuat dirinya semakin cakap dan menguasai atau ahli di bidangnya.

Kesukaran hidup merupakan cara Tuhan mendewasakan mental dan rohani kita. Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Allah tidak memiliki cara lain untuk mendewasakan anak-anak-Nya selain melalui segala peristiwa kehidupan yang terjadi, baik yang dilihat, didengar, dan dialami secara langsung. Seperti Firman Tuhan katakan, bahwa besi harus menajamkan besi. Tidak ada cara mudah untuk menjadi dewasa selain proses kehidupan melalui segala kejadian yang dialami seseorang.

Selanjutnya, kesukaran hidup membuat kita lebih dapat mengerti kebutuhan orang lain. Kalau seseorang tidak pernah lapar, maka ia tidak dapat mengerti kelaparan orang lain. Dengan demikian, kesukaran hidup membangun perasaan empati kita kepada sesama. Kesukaran hidup membuat kita cakap menghadapi hidup, khususnya bidang yang kita geluti. Seseorang tidak bisa menjadi cakap dengan sendirinya, tetapi dengan ketekunan seseorang dapat menjadi cakap. Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa, apa yang ditabur seseorang itu juga dituainya. Itulah sebabnya kemalasan adalah sikap tidak bertanggung jawab dan dosa. Akhirnya, kesukaran hidup membuat kita lebih menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Sehingga kita mengarahkan diri kita kepada dunia yang akan datang. Firman Tuhan mengatakan bahwa pengharapan itu menyucikan.

Kita harus memahami bahwa dalam menjalani hidup ini, kita terikat dengan hukum Allah, yaitu hukum tabur tuai. Dalam Galatia 6:7 Alkitab menulis: Jangan sesat! Allah tidak membiarkan Diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Dalam teks aslinya, kalimat “jangan sesat” adalah me planasthe (Μὴ πλανᾶσθε). Dalam salah satu terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan: be not deceive, ada juga yang menerjemahkan do not deceive yourselves. Dari pernyataan Firman Tuhan ini dapat diperoleh pelajaran rohani bahwa pemikiran yang salah dalam diri kita merupakan potensi penyesatan yang harus diwaspadai. Kalau Tuhan sendiri yang memperingatkan itu berarti suatu bahaya besar akibat penyesatan tersebut. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita mengerti kebenaran Firman Tuhan (2Ptr. 1:3) dan pembaharuan pikiran setiap hari (Rm. 12:2).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.