12. MENIADAKAN BATAS

Ketika anugerah dalam Yesus Kristus dinyatakan, maka sunat tidak memiliki nilai sakral, tetapi hanya menjadi tanda lahiriah yang membedakan bangsa Yahudi dengan bangsa lain. Sunat tidak membuat orang Yahudi menjadi lebih benar atau lebih kudus. Sunat sejati adalah sunat batin, artinya hati yang bersedia menuruti hukum (Taurat) Tuhan. Dalam hal ini kita bisa memahami mengapa Allah bisa membenarkan bangsa-bangsa lain, yang walaupun tidak memiliki atau tidak mendengar Taurat, tetapi menjadi pelakunya. Membenarkan di sini maksudnya adalah berkenan kepada mereka yang melakukan hukum (Taurat), yaitu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Rm. 2:13-16). Implikasi dari penjelasan ini adalah bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus meniadakan semua batas dan perbedaan antara Yahudi dan non Yahudi, juga mengakhiri pola keberagamaan yang bernuansa seremonial.

Kalau nilai jiwa orang Yahudi sama dengan nilai orang non Yahudi, maka kita juga harus mengakui bahwa nilai jiwa orang Kristen sama dengan nilai jiwa orang non-Kristen. Tuhan mengasihi semua orang dan tidak menghendaki seorang pun binasa. Dalam hal ini, orang Kristen harus mengerti bahwa bukan karena menjadi Kristen maka memperoleh kemudahan masuk surga dan kemudahan mendapat perkenanan Tuhan. Dalam Roma 2:11, tertulis: Sebab Allah tidak memandang bulu. Di bagian lain dalam Alkitab juga dikatakan bahwa Allah tidak memandang muka. Itulah sebabnya Petrus menyatakan: Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini (1Ptr. 1:17).

Banyak orang Kristen merasa bahwa dengan beragama Kristen, karena mengaku percaya Yesus, maka mereka dapat memperoleh kemudahan masuk surga dan perkenanan dari Tuhan. Padahal percaya bukan hanya berarti pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Percaya bukan hanya setuju dan menerima status Yesus sebagai Juruselamat serta semua sejarah-Nya yang tertulis di Injil. Tuhan tidak membutuhkan percaya semacam itu. Percaya seperti itu tidak berbeda jauh dengan yang dikatakan Yakobus, bahwa roh-roh jahat pun percaya bahwa Allah itu ada dan mereka gemetar (Yak. 2:19).

Percaya yang benar itu berdampak, yaitu melakukan segala sesuatu yang diinginkan Tuhan. Gemetarnya roh-roh jahat bukanlah ekspresi iman yang benar. Ekspresi iman yang benar adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Inilah iman Abraham yang menjadi pola dan inspirasi iman orang percaya. Beriman berarti bertindak. Kalau orang Yahudi beriman berarti melakukan hukum Taurat dan melakukan ibadah penyembahan kepada Yahweh; sedangkan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah tidak bisa dikatakan beriman, tetapi bisa dibenarkan dengan melakukan hukum dalam nurani mereka. Adapun orang percaya dikatakan beriman jika hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau menjadi serupa dengan Yesus.

Perkenanan Tuhan atas bangsa Yahudi didasarkan pada melakukan hukum Taurat yang tertulis, sedangkan bangsa-bangsa lain didasarkan pada perbuatan baik, berdasarkan pada nurani mereka. Adapun orang Kristen didasarkan pada kehidupan yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Itulah sebabnya seorang Kristen tidak bisa dikatakan beriman sebelum benar-benar bertumbuh semakin sempurna seperti Bapa atau semakin serupa dengan Yesus. Tetapi kalau bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain mendengar Injil, maka sikap mereka terhadap Injil yang menentukan keselamatan mereka.

Membahas ayat dalam Roma 3 akan salah kalau tidak dihubungkan dengan pasal sebelumnya. Roma 3 tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dari Roma 2, khususnya bagian-bagian akhir dari Roma 2. Roma 2 berbicara mengenai hukuman yang pasti menimpa mereka yang tidak hidup di dalam kebenaran. Tuhan memperhadapkan manusia kepada penghakiman. Untuk ini perlu dikutip beberapa ayat dalam Roma 2 tersebut yang memuat inti persoalan. Kalimat-kalimat itu antara lain: bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian (kejahatan), adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?, tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan, Tuhan akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, sebab Allah tidak memandang bulu. Dalam ayat ini tegas sekali bahwa di atas segala sesuatu, siapa pun baik orang Yahudi, bangsa-bangsa lain, dan orang percaya harus hidup di dalam kehendak Tuhan. Ukuran kehendak Tuhan untuk masing-masing komunitas atau kelompok ini berbeda. Mereka yang diberi banyak dituntut banyak, dan sebaliknya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.