12. MEMBUKTIKAN PERCAYANYA

Dalam Roma 7:25-26 tertulis : Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Pernyataan ini berarti bahwa Paulus dengan sengaja bersungguh-sungguh melakukan hukum Allah, tetapi sementara itu di dalam dirinya masih ada kodrat dosa yang tidak dengan mudah dihilangkan. Dalam logika sederhana saja sangat jelas, bahwa sangatlah tidak mungkin Paulus yang menasihati berulang-ulang untuk hidup dalam pimpinan Roh, tetapi dirinya sendiri tunduk kepada hukum dosa. Dalam tulisannya ini Paulus dengan jujur mengakui bahwa di dalam tubuhnya masih ada kodrat dosa. Dari tulisan Paulus ini didapati pelajaran mahal, bahwa Allah tidak mencabut dengan mudah kodrat dosa di dalam diri manusia. Itulah sebabnya Paulus berseru “celaka aku”. Kata “celaka” dalam teks aslinya adalah talaiporos (ταλαίπωρος). Kata talaiporos artinya aku harus bekerja keras. Adapun untuk kata “celaka” yang benar-benar mendatangkan bencana atau kecelakaan dalam bahasa Yunani menggunakan kata ouai (οὐαί).

Dari kesaksian Paulus tersebut dapatlah diperoleh pelajaran rohani yang sangat berharga: Walaupun seseorang mengaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi Allah masih membiarkan ada kodrat dosa di dalam tubuhnya. Kodrat dosa orang percaya tidak otomatis lenyap pada waktu ia menyatakan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dengan kenyataan ini, orang percaya harus berjuang untuk dapat menundukkan dan mematikan kodrat dosanya. Inilah perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya (Ibr. 12:1-2). Orang percaya harus memenangkan perlombaan tersebut. Tuhan Yesus menggantikan orang percaya untuk meraihkan kemenangan secara gratis kepada orang percaya. Tuhan Yesus dalam pengorbanan-Nya mencapai kemenangan bagi diri-Nya, dan dari kemenangan tersebut Ia dapat memberikan fasilitas keselamatan kepada orang percaya untuk dapat menang. Menang di sini artinya mengenakan kodrat Ilahi.

Kemenangan dalam hidup orang percaya dapat terjadi, jika orang percaya menundukkan pikirannya kepada kehendak Allah. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Paulus menasihati orang percaya untuk selalu melakukan pembaharuan pikiran. Melakukan pembaharuan pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan adalah cara untuk menundukkan pikiran bagi Allah. Terkait dengan hal ini dalam 2 Korintus 10:4 Paulus menyatakan: karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kuasa yang dimaksud adalah kebenaran Firman, sedangkan benteng-benteng adalah pikiran yang bukan berasal dari Allah.

Kemenangan orang percaya diawali dari usahanya untuk terus menerus memperbarui pikiran dengan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesuspun menyatakan kalau seseorang tetap di dalam Firman, artinya tekun belajar kebenaran Firman, maka ia dapat menjadi murid artinya bisa diubah oleh Tuhan. Selanjutnya, ia akan mengenal kebenaran dan kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Ini adalah sebuah perjuangan. Orang percaya dipanggil untuk berjuang menaklukkan dirinya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Paulus bersyukur kepada Tuhan Yesus, sebab oleh fasilitas keselamatan yang disediakan, maka ia mampu mencapai kesucian Allah dengan menaklukkan diri kepada Tuhan, guna melakukan kehendak Bapa yang diwakili Roh Kudus. Itulah yang dimaksud kemenangan yang sejati.

Paulus dengan sungguh-sungguh menundukkan diri kepada hukum Allah, atau pikirannya (akal budi) melayani hukum Allah, walaupun dalam kenyataannya ia masih mengenakan tubuh yang berkodrat dosa. Perjuangan yang dilakukan, semata-mata karena ia mengasihi Tuhan. Kalau kodrat dosa dengan mudah secara otomatis dicabut oleh Tuhan, maka orang percaya tidak dapat menunjukkan kesungguhannya untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau manusia tidak memiliki kodrat dosa yang harus ditundukkan atau dimatikan, ia tidak dapat membuktikan percayanya kepada Tuhan. Percaya adalah menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai. Kalau seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus, maka dengan tindakan ia harus menyangkal diri untuk mengenakan kodrat Ilahi atau mengikut jejak Tuhan Yesus. Ia harus memilih, melayani hukum Allah atau melayani diri sendiri dengan memuaskan kodrat dosanya. Seperti Tuhan Yesus sudah menang, maka kita juga harus bisa menang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.