12. Mata Pelita Tubuh

PROSES KESELAMATAN ADALAH proses mengubah cara berpikir. Kata cara berpikir ini dalam Filipi 2:5 disebutkan sebagai phroneo (φρονέω). Kalau Firman Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus atau phroneo-Nya, itu berarti kita harus terus menerus mengisi nurani di neshamah kita dengan kebenaran Firman Tuhan sehingga terbangun cara berpikir Allah. Ini sama dengan proses mengubah sinful nature menjadi devine nature. Jadi, cara berpikir ini ada di wilayah hati nurani di dalam neshamahnya. Perlu mendapat catatan di sini, bahwa kesadaran tubuh ada di dalam jiwa tetapi kesadaran hati nurani ada di dalam neshamahnya. Melalui mata dan telinga, manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk mengisi jiwanya. Kualitas jiwa membangun karakter. Hal ini yang mewarnai neshamahnya. Tuhan merancang agar neshamah manusia terus didewasakan agar bisa sama dengan dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Dengan demikian neshamah yang kualitasnya terdapat pada hati nurani dapat menjadi pelita Tuhan, artinya bahwa hati nurani dapat menjadi corong atau terompet (suara) Tuhan yang mengarahkan manusia untuk bisa bertindak dan berperilaku seperti Allah Bapa.

Kalau jiwa manusia (pikiran, perasaan dan kehendak) diwarnai terus menerus dengan kebenaran Firman Tuhan, maka hati nurani akan terbentuk menjadi hati nurani Ilahi. Kebenaran yang terus menerus itu menggores roh manusia yang membangun warna roh manusia. Kalau Firman Tuhan yang dikonsumsi maka roh ( neshamah) manusia menjadi roh yang se “chemistry” dengan Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, kamu harus sempurna seperti Bapa, maksudnya bahwa hati nurani harus memiliki seperti Bapa. Hati nurani ini ada di dalam neshamah manusia. Neshamah menjadi baik kalau jiwa yang selalu diisi dengan Firman yang keluar dari mulut Allah. Sebaliknya, kalau jiwa manusia diwarnai terus menerus oleh suara dunia atau filosofi yang bertentangan dengan Injil, maka neshamah manusia menjadi gelap. Jadi, hasil dari apa yang diserap oleh lingkungan memainkan peran terhadap kualitas jiwanya (karakter), kemudian hal ini secara langsung berdampak pada neshamahnya. Kecerdasan dalam neshamah ini yaitu nurani sangatlah ditentukan oleh apa yang dikonsumsi oleh jiwa. Kalau yang dikonsumsi salah, maka hati nurani pun juga bisa rusak.1 Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.2  Kata Pelita dalam teks ini adalah niyr ( נִיר ). Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “nur”. Nur itu artinya cahaya, demikian pula dengan kata niyr ini. Tuhan hendak menjadikan hati nurani manusia sebagai pelita atau terang-Nya. Dengan demikian manusia bisa mengerti kehendak- Nya, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Jadi, hati nurani-lah yang membuat manusia bisa mengerti kehendak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.3 Mata menunjuk kepada pengertian atau kemampuan berpikir bukan sekedar “tahu”. Dalam hal ini mata yang dimaksud Tuhan Yesus bisa menunjuk neshamah. Kalau neshamah diisi dengan isian yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan, maka betapa gelapnya kegelapan itu. Hal ini sama dengan fakta, kalau pengertian yang seharusnya menimbang apa yang baik dan buruk salah menimbang, maka betapa rusaknya pertimbangannya, sebab tidak ada komponen lain yang berfungsi untuk dapat mempertimbangkan sesuatu. Tuhan Yesus mengajar agar “mata” tersebut menjadi terang. Inilah proses keselamatan yang benar.

PROSES KESELAMATAN ADALAH proses mengubah cara berpikir. Kata cara berpikir ini dalam Filipi 2:5 disebutkan sebagai phroneo (φρονέω). Kalau Firman Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus atau phroneo-Nya, itu berarti kita harus terus menerus mengisi nurani di neshamah kita dengan kebenaran Firman Tuhan sehingga terbangun cara berpikir Allah. Ini sama dengan proses mengubah sinful nature menjadi devine nature. Jadi, cara berpikir ini ada di wilayah hati nurani di dalam neshamahnya. Perlu mendapat catatan di sini, bahwa kesadaran tubuh ada di dalam jiwa tetapi kesadaran hati nurani ada di dalam neshamahnya. Melalui mata dan telinga, manusia berinteraksi dengan lingkungannya untuk mengisi jiwanya. Kualitas jiwa membangun karakter. Hal ini yang mewarnai neshamahnya. Tuhan merancang agar neshamah manusia terus didewasakan agar bisa sama dengan dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Dengan demikian neshamah yang kualitasnya terdapat pada hati nurani dapat menjadi pelita Tuhan, artinya bahwa hati nurani dapat menjadi corong atau terompet (suara) Tuhan yang mengarahkan manusia untuk bisa bertindak dan berperilaku seperti Allah Bapa.

Kalau jiwa manusia (pikiran, perasaan dan kehendak) diwarnai terus menerus dengan kebenaran Firman Tuhan, maka hati nurani akan terbentuk menjadi hati nurani Ilahi. Kebenaran yang terus menerus itu menggores roh manusia yang membangun warna roh manusia. Kalau Firman Tuhan yang dikonsumsi maka roh ( neshamah) manusia menjadi roh yang se “chemistry” dengan Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, kamu harus sempurna seperti Bapa, maksudnya bahwa hati nurani harus memiliki seperti Bapa. Hati nurani ini ada di dalam neshamah manusia. Neshamah menjadi baik kalau jiwa yang selalu diisi dengan Firman yang keluar dari mulut Allah. Sebaliknya, kalau jiwa manusia diwarnai terus menerus oleh suara dunia atau filosofi yang bertentangan dengan Injil, maka neshamah manusia menjadi gelap. Jadi, hasil dari apa yang diserap oleh lingkungan memainkan peran terhadap kualitas jiwanya (karakter), kemudian hal ini secara langsung berdampak pada neshamahnya. Kecerdasan dalam neshamah ini yaitu nurani sangatlah ditentukan oleh apa yang dikonsumsi oleh jiwa. Kalau yang dikonsumsi salah, maka hati nurani pun juga bisa rusak.1

Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.2  Kata Pelita dalam teks ini adalah niyr ( נִיר ). Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “nur”. Nur itu artinya cahaya, demikian pula dengan kata niyr ini. Tuhan hendak menjadikan hati nurani manusia sebagai pelita atau terang-Nya. Dengan demikian manusia bisa mengerti kehendak- Nya, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Jadi, hati nurani-lah yang membuat manusia bisa mengerti kehendak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.3 Mata menunjuk kepada pengertian atau kemampuan berpikir bukan sekedar “tahu”. Dalam hal ini mata yang dimaksud Tuhan Yesus bisa menunjuk neshamah. Kalau neshamah diisi dengan isian yang tidak sesuai dengan pikiran Tuhan, maka betapa gelapnya kegelapan itu. Hal ini sama dengan fakta, kalau pengertian yang seharusnya menimbang apa yang baik dan buruk salah menimbang, maka betapa rusaknya pertimbangannya, sebab tidak ada komponen lain yang berfungsi untuk dapat mempertimbangkan sesuatu. Tuhan Yesus mengajar agar “mata” tersebut menjadi terang. Inilah proses keselamatan yang benar.

1)Titus 1:15; 2) Amsal 20:27; 3) Matius 6:22-23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.