12. Konsekuensi Berperkara Dengan Tuhan

KETIKA SESEORANG MEMPERKARAKAN persoalan-persoalan hidupnya dengan Tuhan, itu berarti ia menyediakan diri untuk diubah oleh Tuhan dan diarahkan kepada kehidupan yang akan datang sebagai ahli waris Kerajaan-Nya. Inilah konsekuensi berperkara dengan Tuhan. Memperkarakan persoalan-persoalan hidup artinya memohon keterlibatan Tuhan dalam berbagai kesulitan-kesulitan hidup. Tentu saja memohon dan mengharapkan Tuhan memberi pertolongan atas kesulitan hidup, kebutuhan, dan berbagai beban yang menindis hidupnya. Pola berperkaran dengan ilah, allah atau dewa yang disembah seperti ini terdapat di hampir semua orang beragama. Sebagai imbalan bagi yang disembah, mereka memberi sesajen, kurban atau puji-pujian atau penyembahan. Hal ini bisa dimengerti, sebab ilah atau dewa yang mereka sembah bukanlah Pribadi Sang Pencipta yang memiliki rancangan kekal. Keberagamaan yang diciptakan tersebut adalah permainan kuasa kegelapan untuk membelokkan manusia dari Allah yang benar.

Kekristenan sangat berbeda dengan agama-agama dan aliran kepercayaan pada umumnya. Pola keberagamaan seperti di atas, tidak boleh ada dalam kehidupan orang percaya. Tetapi faktanya banyak gereja yang mengemas pola keberagamaan ini dengan bungkus yang berbeda, tetapi pada intinya isinya sama. Hanya dengan mengenali kebenaran Injil yang murni -sehingga manusia batiniah bertumbuh- maka dapatlah sesorang mengenali tipu daya kuasa kegelapan yang menggantikan Injil yang murni dengan keberagamaan yang tidak menyelamatkan. Ciri dari gereja-gereja yang tidak mengerti kebenaran ini pasti menekankan liturgi atau seremonial dalam kekristenannya dan menekankan berkat jasmani. Dari hal ini lahirlah teologia kemakmuran yang salah.

Allah yang disembah orang percaya adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi serta manusia di dalamnya. Dalam penciptaan tersebut Allah memiliki rencana. Dalam seluruh tindakan-Nya hanya mengarah kepada penggenapan rencana-Nya tersebut. Rencana utama Allah adalah menciptakan manusia serupa dengan diri-Nya dan hidup hanya untuk melayani Dia. Oleh sebab itu dalam berurusan dengan manusia, Tuhan tidak memiliki urusan lain selain usaha-Nya untuk memenuhi rencana-Nya tersebut. Inilah inti keselamatan. Kalau seseorang berurusan dengan Tuhan Yesus, tidak bisa tidak dan mau tidak mau, ia harus mempersoalkan hal ini. Persoalan lain menjadi tidak penting. Itulah sebabnya kalau seseorang berurusan dengan Tuhan, berarti ia harus bersedia untuk diubah. Bukan masalahnya yang diubah, tetapi karakter dan wataknya. Selanjutnya tujuan hidupnya harus diubah, dari terfokus pada dunia ini menjadi terfokus pada Kerajaan Tuhan yang akan dinyatakan nanti di langit baru dan bumi yang baru.1

Jika orang Kristen berurusan dengan Tuhan hanya untuk memperkarakan masalah-masalah duniawi atau masalah-masalah fana yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, berarti ia hanya mau menjadikan Tuhan sekadar penolong. Secara tidak langsung ia menjadikan Tuhan sebagai pembantu saja. Inilah orang-orang yang memanfaatkan Tuhan. Pola sikap oportunis terhadap yang disembah seperti ini terdapat pada banyak agama. Kalau orang Kristen memiliki sikap seperti ini maka proyek keselamatan dalam hidupnya tidak akan terwujud. Inilah yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen.

Hal itu terjadi disebabkan oleh pengajaran yang dikiranya berasal dari Allah padahal berasal dari roh-roh dunia yang hasratnya adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Mereka yang tersesat adalah orang-orang yang baik dan tulus dalam berusaha memiliki hidup yang santun, tetapi mereka tidak mengerti jalan keselamatan dalam Yesus Kristus. Pengajar-pengajarnya pun sebenarnya juga orang-orang baik, tetapi karena tidak mengerti kebenaran dan terikat dengan materialisme, maka mereka menjadi buta terhadap jalan keselamatan yang Tuhan Yesus ajarkan. Mereka tersesat dan menyesatkan orang lain.

1) Kolose 3:1-4

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.