12. Kematian Diri Sendiri

PERNAHKAN SAUDARA BERPIKIR, apa sebenarnya yang dirindukan oleh Allah Bapa? Pada akhirnya, Allah Bapa menghendaki agar suatu hari nanti Bapa menemukan orang-orang yang berkepribadian seperti Anak Tunggal-Nya, sehingga Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Menjadi saudara bagi Tuhan Yesus berarti menjadi man of God; manusia Allah. Masalahnya adalah bagaimana menjadi orang yang berkepribadian Anak Tunggal Bapa ini? Untuk mencapai level ini membutuhkan pertaruhan yang sangat mahal dan usaha yang sangat serius sebab sangat sukar. Untuk memiliki kepribadian Anak Tunggal Bapa, tidak ada cara lain kecuali mengalami kematian daging. Kematian daging ini sama dengan kematian diri sendiri. Hanya kalau seseorang mengalami kematian diri sendiri, maka barulah ia dapat melahirkan atau menghidupkan pribadi Anak Allah di dalam dirinya. Jika hal ini berhasil maka barulah seseorang dapat disebut sebagai mengalami kelahiran baru.

Apa yang dimaksud dengan kematian dari diri sendiri ini? Tentu kematian yang dimaksud di sini bukanlah mati dalam arti jasmani dimana seseorang harus dikubur di tanah kembali menjadi debu. Kematian di sini maksudnya adalah pemadaman keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dalam diri seseorang dan membangkitkan pikiran dan perasaan Tuhan di dalam dirinya, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini berarti semua pola pikir dan semua hasrat yang telah dibangun selama bertahun-tahun harus digantikan oleh pola pikir dan hasrat Ilahi. Inilah gairah anak Allah yang normal, sebuah gairah hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Inilah tujuan keselamatan, orang percaya harus mengenakan gairah hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.

Kematian seperti ini akan melahirkan kehidupan Ilahi, yaitu karakter Allah dalam diri seseorang. Sehinggaia bisa menampilkan pribadi dan kehadiran Allah bagi lingkungannya. Inilah artinya menjadi saksi Kristus. Inilah sebenarnya tujuan utama menjadi orang percaya atau umat pilihan Perjanjian Baru; sebagai penggenapan rencana Allah sejak manusia diciptakan oleh-Nya. Tidak ada prestasi yang lebih penting dari prestasi ini. Prestasi inilah yang mengundang pengakuan Allah Bapa sebagai “anak yang berkenan di hadapan-Nya”. Usaha ini yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai mengumpulkan harta di Surga. Sayang sekali banyak orang ditenggelamkan dengan berbagai kesibukan yang tidak membawa kehidupan kekal di langit baru bumi yang baru. Segala sesuatu yang mereka usahakan adalah perkara-perkara dunia fana yang pasti akan lenyap dan tidak berbekas. Betapa bodohnya! Hati dan pikiran mereka telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tetap menjalani hidup dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi mereka merasa nyaman saja sebab mereka berpikir bahwa gaya hidup yang mereka kenakan sudah memenuhi standar.

Jika seorang anak Tuhan benar-benar berhasrat untuk memiliki kehidupan Ilahi tersebut, maka ia harus berusaha semaksimal mungkin mengerahkan seluruh daya yang ada padanya. Sebab hal ini tidak bisa dilakukan dengan usaha setengah-setengah. Mereka harus berani mempertaruhkan hidup tanpa batas, baik tenaga, pikiran, waktu dan segala hal yang ada di dalam kehidupannya. Jika ada hal lain yang dianggap lebih menarik dari mengenakan pribadi Kristus, maka ia tidak pernah mencapai prestasi ini. Melalui kematian dari diri sendiri ini dilahirkanlah manusia-manusia Ilahi (man of God) yang dipersiapkan untuk menjadi saudara-saudara bagi Tuhan Yesus Kristus, yang nantinya akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus mewarisi Kerajaan Allah atau dimuliakan bersama dengan Kristus untuk menerima janji Bapa. Janji bapa adalah menaklukkan semua musuh di kaki Tuhan Yesus dan membangun Kerajaan-Nya, dimana Tuhan Yesus nanti yang menjadi Raja.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.