12. HUBUNGAN NURANI DENGAN HIDUP DALAM PIMPINAN ROH

Nurani adalah suatu pokok bahasan yang sangat rumit. Itulah sebabnya banyak orang termasuk para teolog menghindar untuk membahasnya. Padahal hati nurani sangat penting, sebab hal ini berkaitan dengan proses keselamatan, yaitu bagaimana manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula. Rancangan Allah semula menciptakan manusia hidup dalam pimpinan roh. Manusia yang hidup dalam pimpinan roh akan hidup selalu bersesuaian dengan Tuhan. Bersesuaian dengan Tuhan artinya bisa berpikir dan berperasaan seperti Tuhan. Hal ini sama dengan memiliki cara berpikir Tuhan. Inilah yang dimaksud Filipi 2:5-7 agar orang percaya memiliki cara berpikir (mindset), yang dalam bahasa Yunani phroneo (φρονέω) Tuhan. Keselamatan adalah proses untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Usaha untuk ini dinyatakan oleh Paulus sebagai mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Kalau kita mengerjakan keselamatan (Yun. katergeseste; κατεργάζεσθε), Tuhan akan “mengerjakan” atau memberi bantuan (Yun. Energeo; ἐνεργέω).

Membahas hati nurani sangat berkaitan dengan hidup dalam pimpinan roh. Mengapa berkaitan dengan hidup dipimpin roh? Sebab pada dasarnya hati nurani adalah pikiran roh. Roh di sini adalah roh manusia. Roh manusia bisa menjadi satu gairah atau satu spirit dengan Allah kalau melalui proses dipimpin oleh Roh Kudus. Pimpinan Roh Kudus dalam hidup seseorang dapat melahirkan “spirit atau gairah” Ilahi yang nantinya mewarnai roh manusia, sehingga roh manusia seirama dengan Roh Allah. Dengan cara inilah hati nurani seseorang didewasakan atau disempurnakan.

Orang yang hati nuraninya didewasakan atau disempurnakan sesuai kebenaran Tuhan, membuat seseorang memiliki pikiran roh yang sesuai dengan pikiran Allah. Jika kemudian pikiran roh tersebut mendominasi atau menguasai kehidupan seseorang, berarti ia hidup menurut roh atau dipimpin oleh roh. Jadi hidup menurut roh atau dalam pimpinan roh adalah ketika pikiran roh (hati nurani) sesuai atau sama dengan pikiran Roh Allah yang mengendalikan hidup seseorang. Jika tidak, maka manusia itu dikatakan hidup menurut daging.

Manusia bukan hanya makhluk daging, tetapi juga makhluk roh, artinya bahwa inti kehidupan manusia ada pada rohnya. Inilah yang dihembuskan Allah atas tanah liat yang dibentuk Allah (Ibr. nishmat khayyim, נִשְׁמַת חַיִּים; Kej 2:7). Tubuh manusia bukanlah inti kehidupan, sebab sesungguhnya tubuh manusia selalu mengalami regenerasi sel. Regenerasi sel adalah fitur biologis dari semua organisme hidup. Setiap menit jutaan sel manusia mengalami regenerasi. Tetapi roh manusia harus mengalami penyempurnaan sampai pada kekekalan dan tidak pernah lenyap. Oleh karena manusia adalah makhluk roh, maka roh manusialah yang seharusnya mendominasi kehidupan, bukan dagingnya. Tentu saja roh manusia harus bersesuaian atau seiring dengan Roh Allah. Perjalanan hidup Kekristenan pada dasarnya adalah perjalanan untuk menjadikan kembali manusia sebagai makhluk yang dipimpin oleh roh sehingga menghasilkan buah-buah roh (Gal. 5:22-23).

Dalam sub bahasan ini kita mencoba menemukan kerangka berpikir mengenai hal ini yang bisa membantu kita memahami kehidupan Kekristenan yang benar. Hati nurani yang terbentuk atau terbangun oleh kebenaran-kebenaran Allah, akan bersesuaian dengan pikiran Tuhan, sehingga hati nurani bisa mewakili suara Allah atau sama dengan suara Allah dalam segala pertimbangan serta keputusannya. Oleh sebab itu hati nurani harus didewasakan, sebab pendewasaan hati nurani sama dengan mengubah manusia untuk memiliki hati nurani Ilahi. Hati nurani Ilahi adalah hati nurani yang satu chemistry dengan Allah, satu warna atau satu hasrat. Inilah yang dikehendaki untuk dicapai oleh anak-anak Allah, yaitu agar sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48). Jika hati nurani seseorang bersesuaian dengan Tuhan, maka ia barulah pantas disebut man of God. Perjalanan hidup di bumi ini bagi umat pilihan pada dasarnya merupakan kesempatan untuk mendewasakan hati nurani agar sama dengan pikiran Tuhan. Inilah prestasi abadi yang akan dibawa seseorang sampai pada kekekalan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.