12. ANALISA EFESUS 1:5

Di dalam Efesus 1:5 tertulis: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Dalam teks aslinya tertulis: “Proopisas hemas eis huiothesian dia Iesou Khristou eis auton, kata ten eudokian tou thelematos aoutou”(προορίσας ἡμᾶς εἰς υἱοθεσίαν διὰ Ἰησοῦ χριστοῦ εἰς αὐτόν, κατὰ τὴν εὐδοκίαν τοῦ θελήματος αὐτοῦ).Dalam terjemahan Bahasa Indonesia ayat tersebutdimulai dengan frasa “dalam kasih,” yang dalam teks aslinya sendiri tidak terdapatfrasa tersebut. Hampir tidak ada frasa tersebut dalam terjemahan Bahasa Inggris. Dalam terjemahan Bahasa Inggris versi King James tertulis: “Having predestinated us unto the adoption of children by Jesus Christ to himself, according to the good pleasure of his will.”

Kata “menentukan” dalam ayat ini penting maknanya. Kata ini dalam teks aslinya adalah proopisas (προορίσας), dari akar kata proorizo(προορίζω). Kata “proorizo” artinya adalah decide on beforehand, determine in advance (ditentukan sebelumnya, mengenal seseorang sebelumnya atau atau pada waktu sebelumnya). Dalam ayat ini,kata proorizo(“ditentukan”) bukan menunjuk pada manusia yang dipastikan selamat masuk surga, yaitu orang yang diketahui sebelumnya atau yang dipilih sebelumnya untuk mendapat kesempatan menerima keselamatan, tetapi menunjuk kepada standar yang harus dicapai oleh orang-orang yang dipilih untuk menerima keselamatan. Standar tersebut adalah menjadi “anak-anak Allah.”

Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται) dari akar kata ago (ἄγω), selain berarti memimpin (to lead) juga berarti “dibawa” (to bring; to carry) atau dimotori (to drive). Pada zaman anugerah ini, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu hidup dalam pimpinan Roh Allah. Roh Allah berkenan kembali diberikan untuk diam di dalam diri manusia. Inilah yang dijanjikan Tuhan Yesus, bahwa lebih berguna bagi orang percaya jika Dia pergi. Sebab jikalau Dia tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepada orang percaya, tetapi jikalau Dia pergi, Dia akan mengutus Roh Kudus kepada orang percaya (Yoh. 16:7).

Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang.” Kata “anak gampang” di sini adalah nothos(νόθος) yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Bahasa Yunani selain ada kata nothos, juga ada kata huios (υἱός) yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah melalui pintu yang sesak.” Paulus juga berkata: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”

Kalimat “untuk menjadi anak-anak Allah” dalam Efesus 1:5 bukan menunjuk suatu momentum -yaitu satu peristiwa sekali seperti sebuah titik- tetapi menunjuk suatu proses seperti sebuah garis panjang agar orang percaya menggumuli proses keselamatan yang harus berlangsung dalam hidupnya. Yaitu dikembalikan ke rancangan semula, berkodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Inilah proses pengesahan sebagai anak-anak Allah, dari nothos menjadi huios. Dengan demikian sangat jelas Efesus 1:5 menunjuk kepada standar pencapaian yang harus diperjuangkan oleh orang percaya untuk memenuhi tugas kehidupan sebagai umat pilihan yang terpanggil untuk menjadi serupa dengan Yesus yang adalah model Anak Allah yang dikehendaki oleh Bapa. Dalam hal ini penggunaan kata “ditentukan” dan “dipilih” harus dipahami secara tepat agar pengajaran yang prinsip mengenai pemilihan Allah tidak menjadi kacau.

Dengan demikian harus ditegaskan bukan manusia atau individunya yang ditentukan, tetapi standar yang harus dicapai orang percaya yang ditentukan. Sangatlah keliru kalau Efesus 1:4-5 menjadi landasan atau dasar Allah memilih dan menentukan orang-orang tertentu untuk masuk surga dan yang lain binasa. Kita harus memiliki cara memandang Injil yang proporsional, tidak berpihak, fair atau adil sesuai dengan karakter Allah yang dinyatakan Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Allah bukanlah Pribadi yang memiliki kedaulatan secara sewenang-wenang, memilih dan menentukan orang tertentu diselamatkan dan yang lain tidak.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.