12. ALAT ZAMAN YANG MEMBINASAKAN

Zaman kita ini bergerak cepat dengan segala penemuan canggih dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia makin dihujani dengan segala barang-barang yang dianjurkan untuk dimiliki. Ditambah dengan metode marketing yang canggih melalui berbagai advertensi dan iklan-iklan yang makin gencar, maka masyarakat dibentuk menjadi masyarakat yang konsumeristis. Masyarakat yang konsumeristis memiliki gaya hidup yang menganggap bahwa barang-barang (khususnya yang mewah) sebagai ukuran kebahagiaan dan kesenangan. Ini adalah gaya hidup yang tidak hemat, gaya hidup shopping. Istilah popular dari konsumerisme tanpa batas ini adalah affluenza.

Affluenza bukanlah penyakit fisik tetapi penyakit jiwa. Ini adalah konsumerisme tanpa batas yang sedang melanda dunia ini dengan dahsyat. Tua muda, besar kecil, masyarakat kota maupun desa, berpendidikan atau tidak, jemaat awam atau rohaniwan terjangkit virus ini. Banyak orang tergila-gila dengan rumah mewah, mobil bagus, deposito dalam jumlah besar, berbagai fasilitas elektronik, dari mesin cuci sampai komputer, penampilan menarik, dan lain sebagainya. Semua itu menjadi sarana untuk hidup yang menaikkan citra diri atau prestise. Filosofi hidup ini bisa dikatakan sebagai kapitalisme pribadi. Ini adalah bahaya yang sangat menakutkan dan harus diwaspadai dengan sangat serius. Bagaimana menanggulangi virus ini?

Dalam semangat konsumerisme tersebut, keinginan diumbar sebegitu rupa sehingga menjadi liar tak terkendali. Artinya bisa diarahkan ke mana saja, kapan saja dan di mana saja, dan dengan apa saja. Hati manusia bisa ternganga dan menyerap apa pun yang ditawarkan serta ditanamkan di dalamnya. Dunia hari ini adalah seperti ini, yaitu sebuah dunia tanpa Yesus, tanpa Juruselamat. Bukan karena tidak ada Juruselamat, tetapi karena menolak penyelamatan-Nya. Mereka lebih mengingini dunia dengan segala kesenangannya. Semangat hidup seperti inilah yang disebut sebagai “ilah zaman” ini, yang menutup mata hati sehingga tidak melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus (2Kor. 4:4).

Kalau mata hati seseorang sudah buta terhadap Injil, maka tidak akan ada keselamatan atas mereka. Sebab Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Orang tidak mungkin dapat memiliki Tuhan Yesus tanpa Injil. Dalam hal ini yang penting bukan hanya pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi juga dengan pengertian akan Injil yang membuat seseorang mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik yang berkenan dan yang sempurna. Orang yang mengerti dan menerima Injil dengan benar ditandai dengan melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah supaya memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9). Seseorang tidak akan memiliki Kristus tanpa melepaskan segala sesuatu.

Sangatlah menyedihkan, banyak orang Kristen terjerat dalam dosa ini. Ini berarti mereka hidup tanpa Yesus. Sungguh mengerikan bahwa di zaman sekarang terjadi fenomena orang Kristen tanpa Yesus, gereja tanpa Yesus, persekutuan dan lembaga Kristen tanpa Yesus, bahkan sekolah Alkitab tanpa Yesus. Tuhan Yesus tidak mungkin bersekutu dan bersama dengan orang yang konsumeristis, yang hatinya menyembah Iblis. Kalau dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus disalib oleh orang-orang Yahudi yang memang merindukan Mesias tetapi tidak mengenal hikmat dari Allah atau kebenaran yang murni (1Kor. 2:6-8), sekarang Tuhan Yesus disalib oleh orang Kristen yang tidak mengenal hikmat yang murni dari Tuhan.

Mereka yang beragama Kristen dengan maksud memanipulasi Tuhan, sama dengan menolak jalan keselamatan yang Tuhan tawarkan. Jalan itu bukan hanya pribadi Tuhan Yesus dengan pengorbanan-Nya tetapi juga ajaran yang diajarkan yaitu Injil yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Kita sebagai orang percaya yang mengenal kebenaran harus bersikap tegas, menolak cara hidup konsumeristis tersebut. Karena konsumeristis adalah alat zaman yang ampuh membinasakan orang Kristen. Kita harus belajar merasa cukup dengan apa yang ada seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Dengan demikian kita dapat menantang zaman.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.