11. TIPU DAYA YANG MENYESATKAN

Memasuki abad milenium ini, banyak manusia yang jatuh ke dalam dosa materialisme. Ini adalah ancaman yang sangat serius dalam kehidupan orang Kristen. Tetapi, sebagian besar mereka tidak menyadari bahaya yang begitu besar dan mengerikan. Materialisme ialah semangat hidup dan sikap yang merendahkan nilai-nilai rohani, sehingga mengesampingkan kehidupan rohani demi mengutamakan kebutuhan jasmani. Menurut mereka nilai tertinggi manusia adalah materi (benda). Ini adalah berhala yang sangat dominan menguasai alam pikiran manusia modern dewasa ini. Salah satu ciri dari berhala ini adalah manusia yang terikat kepadanya menjadi sangat konsumeristis. Konsumeristis ini dimulai dari tingkat terbatas sampai pada tingkat tidak terbatas. Tingkat yang tidak terbatas artinya selalu ingin memiliki barang yang dimiliki orang lain atau yang ditawarkan dunia.

Orang yang cinta uang, biasanya merasa boleh dan berhak bertindak bebas dengan cara apa pun untuk memburu kenikmatan daging dengan mengumpulkan harta duniawi. Hal itu juga dilakukan demi meningkatkan status sosial dan pangkat. Hal ini akan membuat mereka tidak memedulikan Tuhan. Apabila manusia telah memberhalakan materi, maka nilai-nilai kekekalan sudah tidak dihargainya lagi. Semua usaha dan upaya yang dikerjakan dalam hidup ini semata-mata untuk kepentingan kesenangan diri sendiri yang dibangun di atas materi. Materialisme inilah allah lain atau berhala itu. Banyak orang Kristen yang sedang terjebak dalam dosa satu ini. Hal ini disebut oleh Alkitab sebagai tipu daya kekayaan.

Tipu daya kekayaan dapat pula mengakibatkan kebenaran firman Allah yang didengarnya tidak bertumbuh dan berbuah (Mat. 13:22). Kenyataan inilah yang banyak kita jumpai dalam kehidupan jemaat Tuhan pada masa sekarang ini. Banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota gereja, rajin ke gereja bahkan aktif melayani pekerjaan Tuhan dalam berbagai kegiatan gereja, tetapi ternyata kedewasaan rohaninya tidak bertumbuh. Mereka tetap menjadi orang Kristen yang kerdil, tidak memahami kebenaran Allah. Banyak di antara jemaat ini mengalami stagnasi pertumbuhan rohaninya. Ini semua disebabkan oleh tipu daya kekayaan. Selain hal tersebut, kekayaan juga dapat membuat seseorang tinggi hati. Inilah yang menyebabkan seseorang merasa lebih dari yang lain, bahkan tidak dapat bersikap rendah hati terhadap Tuhan. Padahal Alkitab mengatakan bahwa Allah menentang orang yang sombong (1Ptr. 5:5). Kita dapat menemukan orang-orang kaya zaman ini yang akibat kekayaannya menjadi lupa diri. Mereka merasa lebih bernilai daripada Tuhan sendiri. Dengan demikian, kekayaan dapat menjadi sarana Iblis yang sangat ampuh untuk membinasakan banyak orang, termasuk orang Kristen yang tidak setia.

Kekayaan dapat memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk tidak bergantung kepada Tuhan. Tidak bergantung kepada Tuhan berarti bergantung kepada yang tidak tentu. Oleh sebab itu, seseorang yang bergantung kepada kekayaan tidak akan mencari Tuhan dengan benar, tetapi ia akan lebih giat mencari kekayaan dunia yang kepadanya ia bergantung. Dampak lain dari seorang yang bergantung kepada kekayaan adalah ia menjadi pelit, kikir, dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Dalam Lukas 16:19-31 dikisahkan orang kaya yang tidak memedulikan kemiskinan dan penderitaan sesamanya, dalam hal ini Lazarus.

Oleh sebab itu dalam 1 Timotius 6:18, Paulus memperingatkan agar mereka berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, dan suka memberi serta membagi harta mereka kepada yang berkekurangan. Bila tidak demikian, maka kekayaan itu sendiri yang menjadi senjata ampuh untuk membunuh yang menggenggamnya. Ini berarti bahwa kekayaan mengandung penipuan yang akan berakibat fatal bagi orang yang tidak bertobat dan tidak mengerti bagaimana harus memperlakukannya. Yudas mengkhianti Tuhan Yesus juga karena tipu daya kekayaan ini. Jemaat di Filipi pada zaman Paulus pun sebenarnya sudah menunjukkan adanya jemaat yang ber-Tuhankan perut mereka sendiri, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara-perkara duniawi (Flp. 3:18-20).

Sementara orang di sekitar kita terjerat oleh berhala atau ilah zaman ini, yaitu materialisme, kita sebagai orang percaya yang benar harus berani menantangnya. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan materi dalam bentuk uang atau kekayaan dunia. Tetapi kita tidak diperbudak olehnya. Kita harus bekerja keras mencari uang atau materi. Semua itu kita lakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Perlawanan kita kepada materialisme yang adalah bagian penting dari semangat atau gairah zaman ini, dimulai dari diri kita sendiri. Kita harus dapat melepaskan diri kita dari belenggu semangat zaman ini. Setelah kita terlepas dari semangat zaman ini mengenai uang, maka kita dapat bertarung menolong sesama agar dapat terlepas pula. Ini bentuk sikap kita menantang zaman ini.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.