11 September 2014: Percaya Yang Berkualitas

Sebagai orang percaya yang belajar dewasa, kita tidak boleh menuntut bukti-bukti lahiriah dan pengalaman fisik maka barulah kita percaya akan keberadaan Tuhan. Tuhan sendiri mengajarkan bahwa kita harus percaya walau tidak melihat (Yoh. 20:29). Dalam hal ini dibutuhkan iman atau percaya yang sungguh-sungguh. Dalam hal ini iman bukanlah perasaan yang terbangkitkan oleh tanda lahiriah, seperti misalnya pada waktu kita berdoa merasa merinding, kita melihat bayangan putih, ada cahaya dan lain sebagainya. Perasaan tidak boleh menjadi berhala jiwa sehingga kita tidak mengalami Tuhan secara benar. Pengalaman dengan Tuhan bukanlah pengalaman emosi semata-mata. Kita harus belajar teduh dan meletakkan emosi pada proporsinya. Namun demikian kita juga tidak boleh membunuh perasaan kita. Tuhan berkata kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (Mat. 22:37-40). Kita harus belajar apakah kita sedang menikmati Tuhan atau gelora perasaan kita sendiri. Kita tidak boleh terhanyut dengan onani rohani (kepuasan yang dialami tanpa partner). Tuhan adalah Tuhan yang riil yang dapat dinikmati oleh kita dan kita bisa saling menikmati sebab Tuhan pun menikmati kita (Mzm. 34:9). Dalam hal ini dibutuhkan latihan terus menerus. Yang penting disini adalah percaya saja. Jangan merasa Tuhan hadir hanya karena merasa merinding, sendu, mele­dak emosi dan lain sebagainya. Itu pengalaman emosi yang tidak dapat menjadi dasar pengalaman kita dengan Tuhan. Perasaan mudah berubah atau bersifat temporal, tergantung situasi dan tidak permanen. Kita harus melatih berjalan dengan iman bukan dengan penglihatan (2Kor. 5:7).

Kita harus berani percaya walau kita tidak merasakan secara fisik. Walau pun tidak memiliki pengalaman yang ajaib dan luar biasa dengan Tuhan, tetapi kita berani percaya maka itulah suatu hal yang berkenan dihadapan Tuhan. Kita harus ingat pernyataan Firman Tuhan: “berbahagialah yang percaya walau tidak melihat”. Membiasakan diri percaya dengan cara demikian akan mendewasakan iman. Inilah percaya yang benar. Untuk memiliki percaya demikian ini sukar, sebab jaman ini segala sesuatu membutuhkan atau menuntut bukti secara sains (ilmu pengetahuan). Mata manusia modern tidak bisa menerima “yang tidak terbukti menurut versinya”. Karenanya banyak orang gagal memercayai Tuhan, bahwa Dia sungguh-sungguh hidup (2Pet. 3:.3-7). Inilah dunia akhir jaman yang menjadi semakin atheis. Kondisi ini rawan terhadap iman Kristen.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.