11. PERKENANAN DI HADAPAN TUHAN

Dalam kitab Roma pasal 3 ini, yang pertama dipersoalkan adalah mengenai kelebihan bangsa Yahudi dan sunat yang mereka miliki. Hal ini dikemukakan oleh Paulus sebab di pasal ke-2, Paulus sudah menyatakan bahwa Yahudi sejati adalah mereka yang melakukan Taurat; sekalipun bangsa-bangsa lain tidak memiliki dan tidak mendengar Taurat, tetapi jika mereka melakukan inti Taurat, maka mereka dapat disebut sebagai Yahudi sejati. Sedangkan sunat yang sejati adalah sunat di dalam batin, bukan sunat pada kulit katan (Rm. 2:28 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah).

Dalam tulisannya di Roma pasal 2, di ayat-ayat terakhir, Paulus mengecam orang-orang Yahudi yang memiliki hukum dan mengajar hukum Taurat tetapi mereka malah melanggarnya. Oleh karena merekalah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain (Rm. 2:24). Kemudian Paulus berbicara mengenai sunat, bahwa sekalipun orang-orang Yahudi disunat, tetapi kalau mereka melanggar hukum, maka percuma sunatnya. Tetapi sebaliknya, walaupun seseorang tidak disunat, tetapi kalau ia melakukan hukum Taurat, maka mereka disebut sebagai Yahudi sejati. Paulus mengatakan bahwa mereka juga dapat memperoleh pujian yang datang dari Allah (Rm. 2:29). Pujian ini berbicara mengenai perkenanan Allah. Bisa dimengerti kalau mereka dibenarkan oleh Allah.

Perkenanan bagi bangsa-bangsa lain ini, tentu perkenanan dalam ukuran yang berbeda dengan perkenanan bagi orang percaya yang standarnya adalah perkenanan Bapa kepada Yesus. Bangsa-bangsa lain dibenarkan bukan berdasarkan iman, tetapi perbuatan baik dari nurani mereka yang baik. Sedangkan bagi orang percaya, dibenarkan didasarkan kepada iman kepada Yesus Kristus, yaitu kesediaan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, sama seperti Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah.

Setelah berbicara mengenai hal tersebut, kemudian Paulus menulis: Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah. Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? (Rm. 3:1-3).

Dalam ayat tersebut ditunjukkan bahwa bangsa Yahudi dikhususkan oleh Tuhan untuk mengenal Allah yang benar, di dalamnya termasuk memahami standar hukum yang dikehendaki oleh Allah. Kalau tidak ada bangsa Yahudi, maka manusia di bumi ini tidak menemukan standar hukum yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini juga dapat menjadi bukti bahwa Allah Israel adalah Allah semua bangsa, yaitu ketika ditemukan etika dan moral bangsa-bangsa lain memiliki kesamaan dengan Tauratnya orang Yahudi. Terbukti bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati bangsa-bangsa lain dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela (Rm. 2:15). Tentu semua dalam kontrol dan kendali Allah, maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Allah menulis Taurat-Nya di hati mereka. Dalam dokmatika hal ini disebut sebagai argumentasi moral. Argumentasi ini berpijak pada anggapan suatu fakta bahwa di mana pun di belahan dunia ini terdapat hukum moral atau etika yang mirip atau sama.

Selanjutnya, orang Yahudi dengan sunatnya sebenarnya menerima perlakuan khusus dari Tuhan untuk menjadi manusia berhukum yang berkualitas tinggi. Tetapi fakta historis menunjukkan mereka memberontak kepada Allah, bahkan membuat nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain. Dihujat di sini artinya dihina atau direndahkan atau tidak dihormati. Hal ini terjadi ketika bangsa itu dipukul Tuhan menjadi bangsa yang terlantar dan ditaklukkan musuh-musuh mereka. Dengan demikian terbukti bahwa sunat mereka tidak memiliki unsur mistis atau magis atau seperti mukjizat yang dapat menghindarkan mereka dari pelanggaran. Sunat hanya tanda lahiriah yang tidak patut dibanggakan, jika tidak disertai keagungan moral dalam melakukan hukum-hukum Tuhan.

Ternyata kelebihan yang terutama pada kehidupan bangsa Yahudi adalah bahwa bangsa itu dipercayai Tuhan untuk menerima dan menyimpan pengenalan akan Tuhan. Jadi, kelebihannya bukan pada bangsa itu sendiri, sebab pada dasarnya bangsa Yahudi tidak berbeda dengan bangsa lain. Tetapi terletak pada anugerah di mana bangsa tersebut memiliki pengalaman dengan Tuhan, dan dari sejarah mereka bangsa-bangsa di dunia mengenal Allah yang benar. Seandainya bangsa lain yang memperoleh kesempatan seperti bangsa Yahudi, maka kelebihannya juga bukan pada bangsa itu sendiri, tetapi kesempatan memiliki perjalanan sejarah dengan Allah yang benar. Pada hakikatnya semua bangsa dan setiap individu memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan. Setiap orang memiliki nilai jiwa yang sama. Nilai jiwa orang Yahudi sama dengan nilai jiwa orang non Yahudi. Kebenaran ini dapat mematahkan kesombongan orang Yahudi yang merasa lebih hebat dan berharga dari pada bangsa non Yahudi. Tanpa sadar mereka berpikir bahwa sebagai umat pilihan mereka memperoleh kemudahan untuk memperoleh perkenanan Tuhan. Padahal perkenanan Tuhan tidak didasarkan pada status sebagai bangsa yang mengalami sejarah dengan Tuhan, tetapi didasarkan pada perbuatan, bagaimana mereka melakukan hukum atau kehendak Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.