11. PENGUASAAN TUHAN

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa kalau menjadi murid Tuhan Yesus berarti tidak mungkin dapat gagal. Harus dicamkan, ada murid yang lulus dan ada pula murid yang gagal. Hal ini juga sama dengan kenyataan bahwa belum tentu seseorang yang menjadi Kristen sampai akhir tetap menjadi Kristen, belum tentu sekali beriman kepada Yesus akan tetap beriman kepada-Nya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Ini berarti tidak semua orang Kristen pasti masuk surga. Tidak semua orang yang mengaku dengan bibirnya Yesus adalah Juruselamat dan Tuhannya, pasti terhindar dari neraka. Hanya orang yang setia sampai akhir yang diselamatkan (Mat. 24:13).

Tuhan Yesus juga mengatakan berulang-ulang dalam kitab Wahyu bahwa orang percaya harus berjuang untuk menang. Kalau ada yang menang, tentu ada yang kalah. Orang percaya dipanggil untuk berjuang agar mencapai kemenangan. Hanya orang yang menang yang akan bersama-sama dengan Tuhan. Dalam beberapa bagian dalam Alkitab, jelas kita dipanggil untuk tetap setia sampai akhir; artinya pada akhirnya kita didapati tidak bercacat dan tidak bercela. Lebih tegas lagi dikatakan dalam Matius 7:21-23, ada orang-orang yang berprestasi dalam pelayanan tetapi, ternyata ditolak oleh Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus berjuang sampai akhir agar tidak tertolak. Tidak heran kalau Paulus mengatakan: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Kor. 9:27).

Kegagalan orang Kristen sebagai orang beriman adalah ketika ia gagal hidup dalam penguasaan dan kontrol Tuhan, yang adalah pemilik hidup ini. Ciri utama seorang manusia yang hidup sebagai milik Tuhan adalah hidup dalam kontrol atau penguasaan Tuhan. Mengapa kita harus selalu hidup dalam kontrol dan penguasaan Tuhan? Kita harus selalu ingat, bahwa Tuhan Yesus telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar (1Kor. 6:19-20). Kalau Tuhan memiliki hidup kita, maka hanya Tuhan yang berhak atas diri kita sepenuhnya dan berkuasa mengontrol diri kita seluruhnya.

Pada prinsipnya kegagalan orang Kristen sebagai orang beriman terletak pada ketidaksediaan dikendalikan oleh Tuhan melalui Roh-Nya. Roh Kudus ditaruh dalam diri orang percaya guna melatih orang percaya untuk hidup dalam pengendalian Tuhan, sampai tingkat tunduk sepenuhnya. Orang yang tidak menerima bahwa dirinya dimiliki oleh Tuhan, tidak akan rela dikendalikan oleh Tuhan. Jika hal ini terjadi, berarti kuasa kegelapan yang mengendalikannya. Ini juga berarti orang tersebut menolak menjadi milik Tuhan, yang sama dengan menolak ditebus oleh Tuhan Yesus.

Hidup dalam pengendalian Tuhan berarti menyerahkan kebebasan kita kepada-Nya. Tetapi pengendalian ini bukanlah maksud Tuhan untuk mengambil alih kebebasan yang Tuhan berikan kepada masing-masing individu. Pengendalian di sini artinya adalah kesediaan kita untuk mencari kehendak Tuhan dan menuruti-Nya dengan rela dan sukacita sebagai kebutuhan, bukan sebagai perintah atau kewajiban. Dalam hal ini, kita dengan sengaja menyerahkan kebebasan kita kepada Tuhan, sehingga kita dibelenggu oleh kehendak-Nya.

Untuk mencapai tingkat rohani seperti ini, tidak mudah. Benar-benar sukar. Kadang-kadang kita merasa tidak akan mampu mencapainya, terutama tatkala kita gagal berkali-kali untuk hidup dalam pengendalian-Nya. Tetapi hendaknya kita tidak menyerah. Kita harus menggunakan kesempatan untuk belajar terus dalam tuntunan Roh Kudus. Kita masih memiliki kesempatan untuk hidup dalam pengendalian-Nya secara penuh selama Tuhan masih memberi kesempatan. Roh Kudus pasti melatih kita untuk itu.

Bila seseorang hidup dalam pengendalian Tuhan, cirinya antara lain: selalu giat mencari kebenaran Firman Tuhan. Kebenaran Firman Tuhan membuat seseorang menjadi peka memahami kehendak Tuhan. Dengan memahami kehendak Tuhan, seseorang barulah dapat melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-rencana-Nya. Inilah sebenarnya yang dimaksud mencari Kerajaan Surga, yaitu menghadirkan pemerintahan Allah atas hidupnya. Bukan pemerintahannya sendiri. Tentu orang-orang seperti ini akan selalu merasa haus akan Allah untuk menikmati Tuhan sebagai Pribadi yang hidup dan nyata. Bukan menikmati berkat-berkat-Nya semata-semata, tetapi terutama adalah menikmati hadirat-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.