11. MESIAS PALSU

Tuhan Yesus beberapa kali memperingatkan murid-murid-Nya untuk tidak menceritakan beberapa mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dalam Injil Markus 5, dikisahkan mengenai mukjizat yang Tuhan Yesus lakukan, yaitu membangkitkan anak Yairus yang sudah mati. Setelah Tuhan Yesus membangkitkan anak Yairus tersebut, Ia berpesan dengan sangat agar mereka tidak mempublikasikannya (Mrk. 5:43). Mengapa Tuhan Yesus melakukan hal ini? Hal itu dimaksudkan agar perkara-perkara ajaib yang terjadi tidak menutup mata pengertian mereka terhadap maksud utama kedatangan Tuhan. Mereka harus memahami maksud utama kedatangan Tuhan Yesus. Harus selalu kita ingat, bahwa dalam Perjanjian Baru mukjizat dapat menjadi tanda agar karya keselamatan Tuhan Yesus dikenal oleh banyak orang. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan, penekanan yang berlebihan terhadap mukjizat menjadikan banyak orang Kristen tidak bertanggung jawab. Selain itu dapat membutakan mata rohani dan pengertian mereka terhadap misi utama kedatangan Tuhan Yesus.

Sangat memprihatinkan, kalau selama ini banyak orang Kristen menjadikan mukjizat sebagai tujuan atau goal pelayanan. Mereka tidak melihat arah yang harus dituju berkenaan dengan diadakannya mukjizat. Banyak hamba Tuhan merasa sudah puas telah menunaikan pelayanan dengan membawa jemaat kepada pengalaman mukjizat, tetapi tidak mengarahkan mereka kepada maksud keselamatan diberikan. Dengan pengajaran yang salah tersebut secara tidak langsung, jemaat diparkir dalam kebodohan, diikat dalam keinginan-keinginan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Sehingga mata hati mereka tidak melihat cahaya kemuliaan Injil yang murni. Mereka hanya terkesima terhadap kuasa mukjizat.

Yesus sebagai Mesias, datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa, bukan perbudakan politik. Yesus tidak membawa bangsa Israel kepada kejayaan lahiriah atau kemuliaan duniawi, sebab kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Yesus adalah Mesias dari Bapa di surga yang memikul hukuman akibat kesalahan (dosa) semua manusia. Mesias yang benar ini mengajarkan bagaimana sempurna seperti Bapa, dan hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Mesias yang benar mengarahkan manusia untuk melepaskan diri dari segala ikatan duniawi, bahkan dari segala miliknya. Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Hal ini dimaksudkan agar fokus hidup orang percaya hanya kepada proses untuk dapat berkeadaan diri sesuai rancangan semula, sebab seseorang tidak akan dapat diubah atau menjadi murid Tuhan kalau tidak melepaskan diri dari segala miliknya (Luk. 14:33).

Mesias yang sejati akan mengarahkan manusia ke langit baru dan bumi yang baru. Sebab bumi ini akan dihancurkan menjadi lautan api. Oleh sebab itu, orang percaya harus merasa bahwa dirinya menumpang di bumi ini. Kehidupan di bumi hanyalah untuk mempersiapkan diri menjadi umat yang layak bagi Tuhan atau menjadi mempelai-Nya. Hal ini penting untuk kita pahami agar orang percaya tidak menyimpang dari kebenaran. Tanpa disadari, ketika mukjizat diletakkan pada prioritas utama, maka tidak ada kesadaran sebagai musafir dalam dunia ini. Sebab segala sesuatu yang bertendensi pada kepentingan pemenuhan kebutuhan jasmani membuat seseorang tidak menghayati berkat rohani yang memiliki nilai lebih tinggi.

Dewasa ini banyak gereja mengajarkan Yesus yang lain, Yesus yang diperkenalkan sebagai Mesias duniawi. Yesus yang sibuk membuat mukjizat, memenuhi berkat jasmani, menolong masalah-masalah yang dialami jemaat agar dapat membuat hidup di bumi menjadi nyaman. Ini berarti mengajarkan Mesias yang tidak berbeda dengan yang diingini oleh bangsa Yahudi, yang akhirnya menyalibkan Yesus. Gereja seperti itu ramai dikunjungi orang, sebab mereka menawarkan apa yang sesuai dengan semangat zaman atau selera jiwa mereka. Mereka mengajarkan Mesias palsu yang disibukkan dengan membuat mukjizat. Yesus yang sejati adalah Yesus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan, yaitu perilaku yang sempurna seperti Diri-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.