11. MENGEJAR KESUCIAN ATAU KESEMPURNAAN

Kalau kita mengamati dengan cerdas, dapat kita temukan ternyata tidak banyak orang yang frustasi karena mengejar kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak peduli sama sekali terhadap kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Sebaliknya, mereka frustasi terhadap masalah-masalah dunia fana. Frustasi seperti ini adalah frustasi yang terus menyeret manusia semakin jauh dari kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Mereka semakin haus dan lapar terhadap kekayaan dan keindahan dunia serta kehormatannya. Mereka selalu merasa kurang mengenai harta dan kehormatan manusia. Dengan cara demikian, kuasa dunia membawa mereka kepada kegelapan. Hal ini bukan saja terjadi atas anak-anak dunia, tetapi juga terjadi atas orang-orang yang sudah mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Hal tersebut menyedihkan hati Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan apa telah diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu untuk mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Mereka tidak pernah mau mengerti Kerajaan Allah, sebab mereka membangun kerajaan mereka sendiri.

Sebaliknya, orang benar akan mengalami frustasi menghadapi dirinya sendiri, yaitu bagaimana bisa mencapai kesucian atau kesempurnaan. Mereka bertanya-tanya dalam hati mereka sendiri: kapan bisa hidup sempurna? Pertanyaan yang menuntut jawaban seperti itu adalah pertanyaan yang sangat baik dan harus orang percaya miliki. Fakta hidup yang orang percaya jalani selama ini menunjukkan kegagalan untuk mencapai kesucian atau kesempurnaan, dan orang percaya merasakan serta menyadari kegagalan itu. Frustasi orang percaya dalam hal ini sesungguhnya sesuatu yang normal yang dialami oleh semua orang percaya yang haus dan lapar akan kebenaran. Tetapi sayang, banyak mereka yang berhenti di tengah jalan karena putus asa. Mereka merasa tidak sanggup lagi meneruskan perjuangan untuk mencapai hidup dalam kesucian atau kesempurnaan. Inilah orang-orang yang imannya mengalami keguguran. Seharusnya orang percaya tetap berjuang tiada henti ketika mengalami keadaan dimana ia merasa putus asa dan pesimis untuk mencapai kesucian atau kesempurnaan (Ibr. 12:2-4). Dalam pikiran orang percaya seharusnya hanya ada satu kerinduan, dan tekad bahwa orang percaya harus mencapai kesempurnaan, berapa pun harganya.

Di akhir zaman ini akan semakin sedikit orang yang memburu kesucian atau kesempurnaan di dalam Tuhan. Kesucian atau kesempurnaan menjadi barang langka dan dianggap barang yang tidak terjangkau. Lebih rusak lagi kalau hal ini dipandang tidak dibutuhkan. Mereka merendahkan dan mencampakkan secara sewenang-wenang. Tidak sedikit pengajar sekolah Alkitab, pembicara di mimbar gereja dan kelompok orang-orang Kristen yang mengajarkan bahwa kesucian atau kesempurnaan hanya bisa tercapai nanti setelah di surga, bukan di bumi. Hal ini benar-benar bisa mematahkan gairah dan semangat banyak orang percaya untuk mencari kebenaran dan mencapai kesucian Tuhan. Ajaran itu sangat keliru. Tuhan yang memerintahkan untuk sempurna atau hidup dalam kesucian, tentu Tuhan yang memberi kemungkinan untuk dapat dicapai dan dialami, sebab Tuhan bukan pendusta dan tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak dapat orang percaya capai.

Banyak pengajar palsu mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus. Mereka mengajarkan seakan-akan korban Tuhan Yesus di kayu salib sudah menjawab secara otomatis semua kebutuhan orang Kristen, sehingga mereka merasa tidak perlu bergumul untuk melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini, seakan-akan keselamatan dapat terjadi secara mudah dengan sendirinya, tanpa perjuangan individu. Melakukan kehendak Bapa sebenarnya sama dengan hidup dalam kesucian atau kesempurnaan. Itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa mereka harus sempurna seperti Bapa di surga.

Betapa malangnya mereka yang merasa sudah memiliki keselamatan, dan merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah serta yakin akan diperkenan masuk Rumah Bapa, padahal keadaan mereka tidak berkenan di hadapan Bapa, sebab mereka tidak melakukan kehendak Bapa dengan benar. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hanya orang-orang yang sudah melakukan kehendak Bapa yang diperkenan masuk Kerajaan Surga. Banyak di antara orang Kristen yang belum melakukan kehendak Bapa. Tetapi mereka tidak merasa gusar. Tidak ada perasaan frustasi di dalam diri mereka, sebab mereka telah menggantikan kerinduan mereka untuk hidup dalam kesucian atau kesempurnaan dengan perkara-perkara dunia fana.

Sekarang Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat dan terus mengalami pembaharuan, kita harus menempatkan kesucian atau kesempurnaan sebagai satu-satunya isi perjuangan hidup. Semua yang kita lakukan dalam hidup ini hanyalah untuk menjadi sempurna seperti Yesus, dan hidup bagi kepentingan Kerajaan Bapa. Oleh sebab itu orang percaya hendaknya tidak menjadi putus asa dalam perjuangan untuk menjadi sempurna. Bapa akan menuntun orang percaya melalui Roh Kudus agar dapat dibawa kepada segala kebenaran. Kita tidak boleh menggeser perhatian dan kerinduan kita kepada yang lain, selain hidup untuk mencapai kesempurnaan. Seseorang tidak akan dapat mengerti kesucian atau kesempurnaan dalam hidup, sampai ia mengalami sendiri secara nyata. Jadi, kalau ada pengajaran yang mengajarkan bahwa kesempurnaan tidak dapat dicapai di bumi, berarti ia tidak pernah bergumul sungguh-sungguh untuk sempurna, dan mereka tidak akan pernah bisa mengalaminya. Berjuanglah masuk jalan sempit, kita pasti bisa melewatinya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.