11. MEMILIKI DIRI SENDIRI

Sangat mudah bagi seseorang untuk mengaku sebagai milik Kristus, tetapi apakah benar dirinya benar-benar milik Kristus? Banyak orang Kristen mengaku milik Kristus, tetapi sebenarnya mereka masih memiliki dirinya sendiri. Ketika ada dalam bahaya dan masalah besar, mereka mengaku milik Kristus sebab berharap dapat memperoleh pertolongan dan campur tangan Tuhan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari , ketika tidak ada dalam bahaya atau tidak memiliki masalah berat, mereka memiliki dirinya sendiri. Ini sikap licik dan curang. Tetapi banyak orang tidak menyadarinya. Mereka memandang Tuhan sebagai alat, bukan tujuan. Sesungguhnya ini sikap orang yang tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan, yang seharusnya hanya kepada-Nya mereka mengabdi dan hidup.

Bilamana seseorang memiliki dirinya sendiri? Seseorang memiliki dirinya sendiri ketika ia dengan tindakan sesuka hatinya sendiri menggunakan pikiran dan anggota tubuhnya demi kesenangannya. Selain itu ia merasa berhak menggunakan apa pun yang diraih dan dimiliki (gelar, pangkat, harta dan semua bakat-bakat) untuk kesenangan diri sendiri sesuai dengan seleranya. Biasanya semua yang dimiliki tersebut dijadikan sumber kebahagiaan dan kebanggaannya. Mereka pasti tidak melayani Tuhan dalam arti yang sesungguhnya. Orang-orang seperti ini tidak akan bersedia menderita bagi Tuhan. Mestinya orang-orang seperti ini tidak berhak mengaku milik Tuhan, sebab ia memiliki dirinya sendiri. Mereka tidak dapat melakukan apa yang dikatakan oleh Tuhan: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).

Selama seseorang masih terikat dengan dunia ini, yaitu membiarkan dirinya hanyut dengan keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, maka ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan (1Yoh. 2:15). Orang yang menjadi milik Kristus Yesus adalah mereka yang telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24). Hal penyaliban daging dengan segala keinginannya harus berangkat dari diri sendiri. Ini adalah fenomena natural, bukan adikrodati atau mistis, dan berlangsung setiap hari secara konkret melalui segala kejadian yang terjadi dalam hidup seseorang. Terkait dengan hal ini kita bisa lebih mengerti mengapa Tuhan Yesus menyatakan: orang yang mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Tentu salib bukan hanya dipikul, apa lagi digantung menjadi kalung, tetapi menjadi sarana seseorang disalibkan. Yang disalibkan adalah segala keinginan dan hawa nafsunya.

Bagaimana dengan jemaat Roma yang menerima surat Paulus dalam Roma 1:16 tersebut? Tentu saja secara komunitas jemaat Roma adalah jemaat yang sangat luar biasa. Di tengah-tengah aniaya yang hebat, mereka tetap setiap mengikut Kristus. Itulah sebabnya kabar tentang kualitas iman jemaat Roma sampai tersiar luas di seluruh dunia. Tentu dunia yang dimaksud pada waktu itu dunia di mana Injil sudah diberitakan, khususnya wilayah pemerintahan Roma. Jadi, kalau mereka disebut sebagai milik Kristus adalah sangat benar; mereka sudah menjadi milik Kristus. Harus dipahami bahwa mereka bisa menjadi milik Kristus dengan benar setelah mereka membuktikan ketaaannya kepada Tuhan dan kehidupan iman kepada nama Yesus Kristus.

Jemaat Roma adalah jemaat yang rela kehilangan segala sesuatu demi Kristus. Hal ini senada dengan yang dikemukan oleh Paulus dalam kesaksian hidupnya: … Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Flp. 3:7-8). Hanya orang-orang yang rela tidak bermilik apa pun, yang dapat memiliki Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang dimiliki Tuhan secara fakta (de facto).

Memang secara hukum (de jure) darah Tuhan Yesus telah menebus orang percaya, sehingga mereka bukan milik mereka sendiri. Tetapi apakah pemilikan Tuhan atas mereka diakui oleh individu-individu orang percaya adalah hal yang harus diperhatikan. Menjadi milik Kristus bukan sesuatu yang bisa terjadi atau berlangsung dengan mudah. Seperti jemaat Roma, mereka harus mempertahankan iman mereka dengan mempertaruhkan darah dan nyawa mereka. Kalau mereka masih merasa memiliki diri sendiri tentu mereka tidak akan bersedia dan tidak akan sanggup bersikap setia kepada Tuhan. Tetapi mereka rela menderita dan kehilangan segala sesuatu bahkan nyawa mereka demi iman yang benar.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.