11. MEMBERI DIRI DIMURIDKAN

Berbicara mengenai kesempurnaan hendaknya kita tidak bersikap curiga, skeptis dan menolak. Kecurigaan bisa timbul disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap pengajaran atau sistem teologi yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi atau diterima seseorang bukan karena perbuatan baik. Pengajaran atau sistem teologi ini bukan sesuatu yang salah, tetapi benar sekali. Perbuatan baik bagaimanapun tidak dapat meloloskan manusia dari hukuman Allah dan sama sekali tidak akan dapat menyelamatkannya. Lagi pula, semua orang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan. Semua orang yang telah jatuh dalam dosa adalah orang yang harus dihukum, sehingga perbuatan baik mereka yang bagaimanapun tidak ada artinya sama sekali. Tuhan Yesus telah mati untuk semua manusia, bahkan ketika mereka masih berdosa (Rm. 5:8, akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa).

Namun demikian, bukan berarti panggilan untuk menjadi sempurna adalah usaha atau kekuatan diri untuk memiliki keselamatan dengan usaha sendiri. Seakan-akan seseorang hendak meraih dan memiliki keselamatan dengan usaha menjadi sempurna dengan mengabaikan korban Tuhan Yesus di kayu salib. Kita harus menyatakan kebenaran bahwa keselamatan hanya oleh anugerah semata-mata, bukan karena perbuatan baik manusia atau jasanya (Ef. 2:8-9, Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri). Tetapi setelah mengenal jalan keselamatan, seseorang harus berjuang untuk mewujudkan keselamatan tersebut dengan menjadi sempurna, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula.

Dalam usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, manusia harus memberi diri digarap oleh Tuhan sebagai responnya. Tanpa respon yang memadai, maka proses dikembalikannya seseorang ke rancangan Allah semula tidak akan terwujud dalam kehidupan ini. Respon inilah yang dimaksud dengan iman. Iman bukan sekadar sebuah persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Iman bukan hanya di wilayah pikiran, di mana seseorang hanya mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman adalah tindakan, seperti yang dilakukan oleh Abraham. Abraham disebut sebagai bapa orang percaya sebab hidupnya menjadi pola dengan mana orang percaya membangun imannya kepada Tuhan. Abraham menerjemahkan atau mewujudkan imannya dengan tindakan-tindakan, yaitu dimulai dari kesediaannya meninggalkan Urkasdim dan kaum keluarganya, untuk menemukan negeri yang memiliki dasar dan dibangun oleh Allah sendiri (Ibr. 11:8-10).

Orang yang mendengar dan menerima berita Injil harus memberi diri dimuridkan untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus, yang adalah prototipe manusia yang dikehendaki oleh Allah. Untuk layak menjadi murid Tuhan Yesus atau bisa diubah oleh Tuhan Yesus, seseorang harus meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33). Sama seperti Abraham meninggalkan Urkasdim dan kaum keluarganya, orang percaya juga harus meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Proses pemuridan ini adalah proses untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, dan merupakan pergumulan sepanjang hidup. Hidup sebagai orang percaya hanya untuk perubahan ini. Hal ini bukan suatu usaha yang berpusat pada manusia (anthroposentris). Kesempurnaan dalam Tuhan atas diri seseorang adalah tindakan dan keadaan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini adalah kehidupan yang berpusat pada Allah (Teosentris). Justru di sini orang percaya menjadi Teosentris secara benar. Tuduhan bahwa pengajaran mengenai kesempurnaan membuat seseorang menjadi anthroposentris, menunjukkan ketidakpahamannya terhadap kebenaran ini.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.