11. LEBIH DARI PEMENANG

PPERLOMBAAN YANG diwajibkan bagi orang percaya sesungguhnya adalah pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah.1 Itulah sebabnya Bapa mendidik orang percaya agar orang percaya menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.2 Seperti bapak di dunia ini mendidik anak-anaknya, demikian pula Bapa di surga mendidik orang percaya. Pendidikan terhadap setiap orang percaya adalah hal yang mutlak dialami. Jika seseorang tidak mengalami pendidikan ini, maka ia bukanlah anak yang sah. Orang percaya harus menerima kenyataan panggilan ini, bahwa sepanjang umur hidupnya hanyalah sebuah proses pendidikan. Untuk ini seseorang harus melepaskan diri dari segala ikatan, artinya tidak ada sesuatu yang boleh dianggap berharga.

Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus berkata bahwa tiap-tiap orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid Tuhan Yesus.3 Begitu sulitnya perjuangan untuk menjadi anak-anak Allah ini, maka seseorang harus melepaskan diri dari segala kesenangan dan kenyamanan hidup seperti yang dinikmati oleh orang-orang yang tidak menjadi umat pilihan.

Kalau seseorang sudah menganggap ada sesuatu yang dinilai berharga, maka ia tidak akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah seperti Tuhan Yesus. Bagaimana bisa menjadikan segala sesuatu menjadi tidak berharga? Tidak ada cara lain selain tercelik mengenali dan menghayati kemuliaan sebagai anak-anak Allah, bahwa menjadi anak-anak Allah itu hal yang paling mulia. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa orang percaya lebih dari orang-orang yang menang. Menang dalam teks aslinya adalah hupernikao (ὑπερνικάω), yang artinya menaklukkan. Orang-orang Roma berhasil menaklukkan bangsa lain. Mereka orang-orang yang berjaya, sebaliknya orang Kristen pada waktu itu sebagai orang-orang yang kalah dalam versi manusia. Tetapi Paulus mengatakan bahwa orang percaya lebih dari mereka, sebab orang percaya adalah anak-anak Allah yang akan mewarisi kemuliaan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Oleh sebab itu orang percaya harus menerima kalau mereka seakan-akan menjadi orang yang kalah. Di dunia ini orang percaya seperti orangkalah, tetapi mereka menjadi orang-orang yang menang di kekekalan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menulis suratnya kepada tujuh jemaat -yang ditulis dalam kitab Wahyu- agar orang percaya menjadi orang-orang yang menang. Bukan menang secara politik, ekonomi, penampilan dan lain sebagainya, tetapi menang dalam ketaatan kepada Bapa -sama seperti Ia telah menang. Orang yang memahami hal ini sulit menjadi sombong atau bangga dengan sesuatu, selain bermegah di dalam salib atau penderitaan dalam Kristus.

Dalam salib ada perjuangan untuk disahkan sebagai anak-anak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus tidak bermegah dalam hal apa pun selain dalam salib Tuhan.4 Kepada jemaat Korintus, Paulus bermegah dalam kelemahan. Kata kelemahan di sini maksudnya sesuatu yang dianggap rendah dan tidak bernilai bagi dunia, tetapi di dalam Tuhan justru itu menjadi nilai lebih.5 Kemegahannya adalah dalam penjara, didera di luar batas, dalam bahaya maut, disesah, dilempari batu, mengalami kapal karam, diancam bahaya banjir, bahaya penyamun, bahaya di kota dan di gurun, serangan saudara-saudara palsu dan lain sebagainya.6 Setelah melewati semua ini Paulus lulus sebagai anak-anak Allah. Sebab untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebagai anak-anak Allah, kita harus menderita bersama-sama dengan Kristus.7 Menderita bersama-sama dengan Kristus artinya menderita bagi kepentingan Tuhan dan menderita sama seperti Dia telah menderita. Dalam hal ini ciri dari seorang yang sah sebagai anak-anak Allah adalah memikul salib yaitu penderittaan demi kepentingan Kerajaan Surga. Maka benarlah pernyataan “no crown without cross”.

1) Ibrani 12:1 ; 2) Ibrani 12:5-10 ; 3) Lukas 14:33 ; 4) Galatia 6:14 ; 5) 2Korintus 11:30 ; 6) 2Korintus 11:23-33 ; 7) Roma 8:17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.