11. Kualitas Hati Nurani

SEBENARNYA SANGATLAH SULIT membedakan antara karakter atau watak dan kepribadian. Tetapi bagaimanapun, keduanya dapat dibedakan. Kepribadian seseorang diperoleh atau dimiliki sebagai warisan dari orang tua. Ini adalah ciri dasar dari seseorang yang bisa permanen, sulit berubah, atau mungkin tidak bisa berubah kecuali ada hal-hal yang luar biasa terjadi dalam kehidupan seseorang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat usaha untuk memberi sebutan terhadap beberapa tipe kepribadian seseorang. Sedangkan karakter atau watak diperoleh dari perjalanan hidup seseorang, yaitu apa yang dilihat dan didengarnya. Karakter atau watak bisa menjadi lukisan dari perjalanan hidup seseorang.

Karakter dan kepribadian tidak dapat dipisahkan, sebab apa yang mewarnai jiwa seseorang dalam waktu yang lama dan intensif akan mengkristal menjadi isi dari kepribadiannya. Dengan kalimat lain apa yang mengisi jiwa seseorang akan membangun karakter seseorang dalam jiwanya, kemudian karakter seseorang akan mewarnai hati nuraninya yang mana menjadi kualitas kepribadiannya. Sehingga bisa disebutkan bahwa karakter ada di dalam jiwa dan hati nurani ada di dalam kepribadian. Itulah sebabnya dapat dirumuskan bahwa karakter menunjuk kualitas jiwa sedangkan hati nurani menunjuk kualitas kepribadiannya. Tentu saja pernyataan ini tidak bersifat mutlak tetapi relatif. Oleh sebab itu perlu memandang relasi dan perbedaan antara karakter dengan kepribadian ini dari sudut pandang lain di bawah ini.

Dengan cara lain bisa dijelaskan bahwa sebenarnya kepribadian adalah bagian dari manusia batiniah yang diperoleh seseorang sejak lahir. Itu adalah warisan yang lebih bersifat permanen. Satu sisi, ibarat pakaian kepribadian adalah modelnya, adapun kualitas bahan pakaian tersebut tergantung pengalaman hidup yang dilaluinya. Sisi lain, kepribadian adalah bahannya, adapun modelnya tergantung bagaimana pengalaman hidup yang dilaluinya. Model dan bahan dalam kepribadian seseorang tercipta dari perjalanan panjang hidup seseorang yaitu apa yang dilihat dan didengar yang mewarnai jiwanya.

Kepribadian sebenarnya sama dengan kecerdasan roh atau dalam pengertian umum adalah mindset atau cara berpikir. Cara berpikir di sini juga dapat disebut sebagai cara memandang segala sesuatu. Dalam hal ini harus bisa membedakan antara memandang dan cara memandang. Memandang adalah proses melihat atau mengetahui sesuatu, tetapi kalau cara memandang berbicara proses seseorang dalam mengolah sesuatu atas apa yang dilihatnya. Misalnya dua orang memandang uang, sama-sama mengerti bahwa itu adalah uang, tetapi bagaimana memperlakukannya dan bereaksi terhadap uang tersebut, bisa sangat berbeda. Hal itu tergantung mindset atau cara berpikir masing-masing.

Cara berpikir ini lebih cenderung ada di wilayah kepribadian. Kemampuan dan kualitasnya disebut sebagai hati nurani. Kualitas cara berpikir atau mindset ini tergantung dari pengalaman dan perjalanan hidup seseorang, yaitu apa yang diserap jiwanya melalui mata dan telinganya. Kalau yang diserap oleh seseorang sesuatu yang buruk, melalui lingkungan keluarga, pergaulan, sekolah dan lain sebagainya maka akan melahirkan cara berpikir yang kualitasnya rendah. Sebaliknya, kalau yang diserap oleh seseorang, baik melalui lingkungan keluarga, pergaulan, sekolah dan lain sebagainya, adalah baik maka akan melahirkan cara berpikir yang kualitasnya baik. Dalam hal ini Tuhan menghendaki orang percaya menyerap kebenaran Tuhan yang dapat mengubah cara berpikir seseorang menjadi cara berpikir Tuhan Yesus.1 Dengan demikian pada dasarnya memiliki pikiran dan perasaan Kristus sama dengan memiliki pribadi Kristus.

1)Filipi 2:5

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.