11. KEMULIAAN KERAJAAN ALLAH

Sesungguhnya kemuliaan Kerajaan Allah itu sama sekali tidak bisa dipadankan dengan apa pun, tidak sebanding dengan kemuliaan yang paling tinggi di dunia ini. Oleh sebab itu hendaknya orang percaya tidak mencoba membandingkan dengan apa pun. Orang yang sungguh-sungguh hidup di dalam kebenaran -artinya berkelakuan serupa dengan Yesus dan tidak terikat dengan dunia ini, artinya tidak dapat dibahagiakan dengan fasilitas materi dan hiburan dunia ini- dapat memahami kemuliaan Kerajaan Allah yang tiada tara. Kemuliaan Kerajaan Allah bukan hanya dapat dinikmati nanti setelah meninggal dunia, tetapi selama masih hidup di dunia ini orang percaya sudah bisa mengalami dan menikmati kemuliaan Kerajaan Allah.

Di dalam kemuliaan Kerajaan Allah terdapat dua hal yang utama: Pertama, keharuman atau keindahan hidup dalam kesucian Allah. Orang percaya yang mengalami kemuliaan Kerajaan Allah akan selalu dibuat takjub terhadap kenyataan mengenai kesucian yang menyangkut antara lain: ketulusan hati, kejujuran, penempatan kata dan sikap terhadap sesama, mengasihi musuh, kasih kepada setiap sesama tanpa memandang muka, penerimaan terhadap sesama, pengampunan terhadap orang yang bersalah, sepenanggungan dengan orang yang sedang mengalami kesusahan, beban terhadap keselamatan jiwa-jiwa, dan lain sebagainya.

Di dalam kemuliaan Kerajaan Allah, aspek yang kedua,terdapat pengetahuan dan hikmat Allah yang selalu menakjubkan. Orang percaya yang mengalami dan menikmati kemuliaan Kerajaan Allah selalu memperoleh penyingkapan-penyingkapan kebenaran dari Alkitab. Di mata orang percaya ini,huruf-huruf Alkitab menjadi begitu hidup atau bernyawa, seakan-akan huruf-huruf itu bisa berbicara dan membuka pikiran orang percaya untuk menerima penyingkapan-penyingkapan rahasia kebenaran yang kontekstual dan menjawab kebutuhan orang percaya zaman ini.

Kebenaran-kebenaran yang tidak pernah ditemukan pada tahun-tahun dan abad-abad sebelumnya disingkapkan untuk kebutuhan dan kepentingan orang percaya di zaman yang sangat jahat hari ini. Kebenaran-kebenaran tersebut akan memosisikan atau mengondisi orang percaya menjadi sangat ekstrem bagi Tuhan. Pada gereja mula-mula, kondisi dunia sangat ekstrem, dimana kuasa politik dan agama menganiaya orang percaya, sehingga harusdihadapi dengan iman yang ekstrem. Demikian pula dengan dunia hari ini yang sangat ekstrem jahatnya, harus dihadapi dengan kebenaran-kebenaran yang kuat untuk menjadikan orang Kristen menjadi ekstrem positif kepada Tuhan.

Di dalam kemuliaan Kerajaan Allah, aspek yang ketiga, terdapat damai sejahtera dan sukacita yang melampaui segala akal. Hal ini dapat menjadi kapital orang percaya dalam menghadapi dunia yang semakin cantik dan indah, hasil modifikasi manusia yang memang meletakkan semua harapan kebahagiaannya kepada dunia ini. Dunia yang sangat memesona dengan tarikannya yang sangat kuat, tidak bisa dihadapi dengan sikap biasa-biasa saja. Orang Kristen harus memiliki sikap yang luar biasa, yaitu ketika dapat mengalami dan menikmati kemuliaan Kerajaan Allah dalam aspek ketiga, ini yaitu menikmati damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Dalam hal ini bisa mengerti mengapaorang percaya pada gereja mula-mula rela kehilangan keluarga, rela kehilangan semua harta dan nyawa mereka, serta hidup dalam penderitaan yang hebat, sebab mereka telah menemukan kekayaan Kerajaan Allah, yaitu suasana jiwa yang indah, yang tidak sebanding dengan apa pun yang dapat diberikan dunia kepada mereka. Bagaimana orang percaya abad milenial sekarang ini? Beranikah orang percaya hari ini menyerahkan atau melepaskan segala sesuatu demi Kristus? Artinya bersedia tidak terikat dengan materi dan hiburan dunia, dan hidup hanya menikmati suasana Kerajaan Allah yaitu damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus?

Menikmati kemuliaan Kerajaan Allah akan menghindarkan orang percaya jatuh dalam dosa; dan sebaliknya akan membangun kesucian yang semakin kuat dan tajam. Kesucian seperti ini akan membangun pesona yang kuat bagi orang-orang yang masih memiliki hati nurani yang baik, yang masih bisa diselamatkan atau termasuk orang yang “masih disisakan”. Orang percaya -khususnya pendeta yang memiliki pesona seperti ini- akan sangat efektif menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia yang sangat jahat dengan daya tarik yang sangat kuat menyesatkan dan membinasakan banyak orang.

Pesona tersebut tidak bisa diperoleh hanya di Sekolah Tinggi Teologi, tetapi melalui pengalaman hidup setiap hari. Kalau seorang pendeta hanya mengandalkan ilmu teologi yang ditimba di sekolah teologi, walaupun setinggi langit gelar akademisnya, pesonanya sangat rendah.Seperti di Eropa, masyarakat Eropa sudah sangat tidak tertarik hal-hal rohani atau mengenai Tuhan, karena gereja tidak memiliki pesona yang kuat. “Kerajaan dunia” jauh lebih menarik dari “Kerajaan Allah”. Tidak heran kalau masyarakat tersebut memandang gereja dan para teolognya “omong kosong”. Ironinya, banyak teolog bangga memiliki ijazah lulusan di sekolah-sekolah tinggi teologi tersebut, yang gagal menyelamatkan masyarakatnya. Mereka masih berkutat dengan teologi yang sudah “kadaluwarsa” untuk zaman ini. Seharusnya, dengan mengalami dan menikmati Kerajaan Allah orang percaya menemukan penyingkapan rahasia Firman yang baru dari takhta Elohim Yahweh.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.