11. KEBERATAN TERHADAP PERPULUHAN

Mengapa banyak orang Kristen tidak mempersembahkan hartanya yang sebenarnya milik Tuhan yang harus dipersembahkan bagi pekerjaan-Nya?Pertama, disebabkan karena mereka tidak memahami kebenaran Firman Tuhan, sehingga mereka tidak bertumbuh dewasa. Orang Kristen yang tidak dewasa, merasa bahwa harta yang ada padanya adalah miliknya sendiri. Mereka merasa berhak menggunakannya sesuai dengan keinginan dan seleranya sendiri. Tentu mereka menyambut gembira kalau hanya boleh mengembalikan sepuluh persen dari penghasilannya. Tidak jarang sebenarnya mereka pun tidak mengembalikan sepuluh persen secara benar. Hal ini sama dengan Ananias dan Safira yang mengaku mempersembahkan segenap hartanya, padahal ia masih menahan sebagian (Kis. 5:1-5). Dengan cara demikian, pasangan suami istri ini mendustai Tuhan.

Gereja yang mengajarkan perpuluhan kepada jemaat, harus berhati-hati. Jangan sampai jemaat mengakui bahwa yang dipersembahkan adalah perpuluhan, tetapi sebenarnya bukan jumlah perpuluhannya. Amplop yang digunakan adalah amplop perpuluhan, tetapi isinya tidak demikian atau bukan perpuluhan yang jujur. Keadaan ini memicu banyak terjadi penipuan atau mendustai Roh Kudus.

Jika seseorang belum siap memberikan perpuluhan atau persembahan yang lain, ia harus jujur mengakuinya. Hal ini terkait dengan kedewasaan rohani seseorang, yaitu kerelaannya melepaskan segala miliknya bagi Tuhan. Gereja harus membimbing terus hingga ia mencapai kedewasaan dan tidak memaksa dia untuk memberi perpuluhan dan persembahan lain.

Kedua, ada pula orang Kristen yang tidak memberiperpuluhan sebab tidak memercayai gereja; dalam hal ini tidak memercayai pengelolaan keuangan gereja. Hal ini terjadi ketika mengendus, atau mengetahui bahwa gereja tidak mengelola uang yang dipersembahkan jemaat secara benar. Gereja harus memiliki manajemen keuangan yang baik, dengan mempekerjakan tenaga-tenaga profesional dalam pengelolaannya. Gereja tidak boleh takut kalau diaudit oleh pihak manapun.

Gereja yang sehat dalam mengelola keuangan gereja, memiliki orang-orang yang menjadi saksi atau pengawas dalam penggunaannya. Hal ini demi transparansi keuangan. Hal ini bukan berarti setiap orang boleh memeriksa keuangan gereja. Tetapi harus ada orang-orang yang memiliki kapabilitas dan reputasi yang baik sebagai pengawas keuangan gereja. Keuangan gereja tidak boleh dikelola oleh keluarga pendeta.Hal ini akan menimbulkan kecurigaan jemaat dan banyak pihak kepada pendeta, keluarganya, serta pengurus gereja.

Ketiga, keberatan memberi perpuluhan dan persembahan yang lain disebabkan oleh pencitraan gaya hidup pendeta serta keluarganya, yaitu ketika melihat pendeta atau pelayan jemaat yang fulltimer mengendarai mobil mewah, rumah mewah, hidup mewah, dan berpenampilan bukan seperti seorang hamba atau pelayan jemaat. Tetapi lebih berpenampilan seperti pejabat atau seperti seorang selebriti. Bagaimana bisamemercayai seorang pendeta yang arlojinya saja harganya milyaran rupiah atau beberapa ratus juta, padahal ia seorang fulltimer dalam gereja?

Dalam hal tersebut di atas, seorang pendeta atau hamba Tuhan dan keluarganya, sebenarnya mendapat sorotan yang tajam dari banyak pihak. Dalam hal ini seorang pendeta dan keluarganya harus sangat berhati-hati dalam menjalani hidup dan berpenampilan. Sikap hidup, gaya hidup dan penampilan pendeta dan keluarganya bisamenjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi batu sandungan. Oleh sebab itu demi kemajuan dan kepentingan pekerjaan Tuhan, seorang pendeta dan keluarganya harus sangat berhati-hati dalam menjalani hidup ini di tengah-tengah masyarakat, terutama di tengah-tengah jemaat yang dilayani.

Hal di atas ini dikemukakan bukan bermaksud hendak menyatakan bahwa seorang hamba Tuhan dan keluarganya tidak boleh hidup layak atau patut. Kelayakan dan kepatutan seseorang sangat relatif. Dalam hal ini kita harus benar-benar hidup dalam tuntunan Roh Kudus, agar segala sesuatu yang kita lakukan benar-benar menjadi berkat. Kehidupan kita harus menjadi surat yang terbuka (2Kor. 3:2-3). Harus diingat bahwa kehidupan pendeta dan keluarganya setiap hari merupakan khotbah yang lebih keras suaranya daripada khotbah di mimbar gereja.

Keempat, kausalitas mengapa ada jemaat yang tidak memberi perpuluhan atau persembahan yang lain, bisa jadi karena mereka hidup di dalam kekurangan. Hendaknya kita memperhitungkan bahwa selalu saja ada jemaat yang hidup dalam kekurangan. Mereka harus bekerja keras, tetapi masih saja belum dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anak mereka. Jangankan untuk memberi perpuluhan atau persembahan yang lain, untuk makan setiap harinya saja sangat sulit. Jemaat seperti ini harus ada dalam pemantauan. Gereja harus bertanggung jawab atas kebutuhan mereka. Di sini pemerataan terjadi, atau paling tidak jemaat yang kuat secara finansial dapat menopang mereka yang lemah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.