11 Januari 2015: Biji Gandum Yang Jatuh

Dalam suatu kesempatan Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”1 Biji gandum yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah diri-Nya sendiri. Kalau Tuhan Yesus tidak taat sampai mati, maka Ia tidak akan berbuah. Itu berarti nama Yesus akan lenyap dari muka bumi dan tidak ada keselamatan artinya tidak ada manusia yang dikembalikan ke rancangan Allah semula. Ini juga berarti tidak ada orang yang memiliki kemuliaan Allah. Semua manusia terbuang ke dalam api kekal. Tetapi oleh karena Tuhan Yesus taat sampai mati bahkan mati di kayu salib, maka buahnya adalah banyak orang dikembalikan ke rancangan Allah semula, memperoleh kemuliaan Allah yang hilang dan terhindar dari api kekal. Dalam hal ini jelas bahwa untuk dapat berbuah haruslah menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Dengan keberhasilan Tuhan Yesus menyelesaikan tugas kemesiasaan-Nya, maka ada penebusan, Roh Kudus dihadirkan dalam kehidupan manusia, Injil diberitakan dan Allah bisa menggarap orang-orang yang ditebus untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya sehingga Anak-Nya menjadi yang sulung di antara banyak saudara.2 Pengorbanan-Nya akan melahirkan banyak saudara-saudara bagi Tuhan Yesus yang berkeadaan seperti Dia.

Tuhan Yesus telah menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati sehingga dapat melahirkan kita menjadi anak-anak Allah, sekarang bagaimana reaksi kita terhadap pengorbanan-Nya? Selama ini banyak orang Kristen hanya mensyukuri dengan nyanyian dan syair atas pengorbanan yang Tuhan Yesus telah lakukan. Sehingga tidak ada tindak lanjut atas pengorbanan Tuhan Yesus yang begitu berharga. Mereka hanya puas sebagai orang yang telah ditebus dan merasa sudah dimerdekakan dari dosa sehingga merasa yakin telah memiliki jaminan masuk surga. Tentu sebagai orang-orang yang menjadi anak tebusan, kita tidak cukup hanya mensyukuri apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, tetapi kita juga harus memahami kehendak Tuhan di balik pengorbanan Tuhan tersebut. Tindak lanjut yang harus dilakukan orang percaya adalah menjadi seperti gandum yang jatuh ke tanah dan mati agar kita juga berbuah.

Berkenaan dengan hal tersebut, Tuhan Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”3 Panggilan untuk berbuah memenuhi banyak halaman dalam Alkitab. Hidup berbuah bagi Tuhan adalah suatu kemutlakkan dan keniscayaan. Demi tegasnya panggilan ini Tuhan Yesus mengancam, kalau seseorang tidak bebuah maka Tuhan akan mengerat dan membuang orang tersebut.4 Dengan demikian merupakan suatu keharusan bagi orang percaya untuk menjadi seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, agar bisa menghasilkan buah.

Sekarang bagaimana pengenaan teks ini dalam hidup kita, sebab orang percaya harus mengikuti jejak-Nya yaitu hidup sama seperti Dia hidup. Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah artinya bersedia meninggalkan seluruh watak atau karakter kita dan mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Kehidupan seperti ini sama dengan kehidupan Paulus yang dibahasakan dengan kalimat “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”5 Kehidupan seorang anak Tuhan yang mengenakan pribadi Kristus atau seperti Tuhan Yesus pasti menular. Sebagaimana kejahatan pasti menular, demikian pula dengan kebaikan. Penularan ini menghasilkan orang-orang yang bukan saja datang ke gereja menjadi orang Kristen, tetapi juga berperilaku seperti Tuhan Yesus yang kita peragakan. Orang-orang yang ditulari gaya hidup Tuhan Yesus inilah buah-buah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus.

1) Yohanes 12:24 2) Roma 8:28-29 3) Yohanes 15:16 4) Yohanes 15:2 5) Galatia 2:19-20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.